Showing posts with label Sebuah Goresan. Show all posts
Showing posts with label Sebuah Goresan. Show all posts

Tuesday, July 11, 2017

Nyawa dan Harapan

Akan datang masa dimana kita
Hanya mampu berkeluh dan menyesal
Berharap doa dapat memutar waktu
Percayalah waktu masih tersisa
Percayalah hanya kita yang bisa
Beri nyawa segala harapan
-Raisa, Nyawa dan Harapan-

Sudah kali ke-3 saya memutar ulang lagu ini, dan kali ke-4 lagu ini kembali saya putar, saya pun menulis kalimat-kalimat ini.
Well, pada akhirnya setiap kali kita terjatuh, akan ada orang-orang yang tetap senantiasa membantumu bangkit, dengan cara apapun itu. Mereka bisa langsung mengulurkan tangannya, memberi bantuan dalam bentuk pegangan lainnya, atau bahkan hanya menyiratkan beberapa kalimat yang membuatmu semangat agar kembali bangkit.  Dan pada akhirnya, semuanya akan terjawab oleh waktu, harapan, perjuangan, dan campur tanganNya.

Siang tadi, seorang teman, sebut saja namanya S memberi sebuah quote, and I love that quote.
“Kebahagiaan yang tertunda itu memuaskan”.

Saat ini lagu yang sudah saya putar ke-4 kalinya berubah menjadi ke-5 kali.

Dan sejujurnya, akhir-akhir ini saya seperti kembali pada masa-masa dimana semuanya menjadi ‘hal-hal baper’. Entah, tetapi semua kalimat yang justru hanya akan menjadi biasa saja didengar orang lain, akan menjadi ‘luar biasa’ bagi saya. Misalnya kalimat seperti pagi tadi :
“Jika ‘have to’ dalam kalimat ini tidak bisa dipisahkan, mereka memang sudah satu. Kecuali ‘have’ saja yang berarti kepemilikan.”
atau kalimat seperti siang tadi:
“Jadi setelah kakak itu nabrak, motornya jatuh, dia diam saja, tidak memberi kepastian apa-apa”.

Bagaimana?
Kalimatnya biasa saja bukan?
Tepat dan benar, biasa saja kalimat (bagi mereka) kok.

Random sekali bukan tulisan kali ini?

“Percayalah waktu masih tersisa
Percayalah hanya kita yang bisa
Beri nyawa segala harapan”

Sunday, June 4, 2017

Dre(am)

“Ketakutan itu enggak akan membawa hasil apa-apa. Justru keberanian itu yang akan menghadirkan kejutan dalam hidup” – Jilbab Traveler

Banyak hal yang menjadi mimpi, banyak mimpi pula yang terwujud, sisanya terabaikan. Atau saya ganti kalimatnya menjadi “ Banyak hal yang menjadi mimpi, sebagian kecil terwujudkan, sisanya terabaikan.”
Bahkan, saya sendiri masih bingung dengan kalimat tentang “mimpi-mimpi” itu. Hari ini saya bilang mimpi seperti ini, besok saya bilang mimpi saya seperti itu, lusa saya akan kembali bilang itu bukan mimpi saya. Dan bahkan, untuk memimpikan hal-hal kecil saja saya ragu untuk ber’mimpi’.

Beberapa saat lalu saya baru nulis di tumblr, kurang lebih seperti ini “Harapan dan kekecewaan itu berbanding lurus. Semakin besar harapan ya semakin besar pula kekecewaan. Kalau harapan kecil atau bahkan tidak ada, peluang untuk kecewa juga pasti tidak ada, kan.”

See. Sekedar untuk memiliki sedikit harapan yang lebih besar dari sebelumnya saja saya takut. Saya memang penakut. Benar, dan terimakasih.


Wednesday, May 31, 2017

Tentang Kamu

Pejamkan matamu. Istirahatkan diri. Aku tau, dadamu sesak. Pikiranmu kacau. Perlahan sakit-sakit kecil itu mulai menyerang tawamu. Maaf, aku tak berguna, begitulah. Tapi, istirahatlah. Dari wajah-wajah yang membuat hari mu terlihat kacau, dari mata-mata yang melihat tanpa rasa, dan dari hal-hal yang membuatmu merasa tak berarti.

Maaf, sesakmu tetap saja begitu,  ada dan tanpa aku. Hari-hari mu tetap saja kelabu, ada dan tanpa aku.

Bersabarlah. Aku tetap tidak akan pergi. Aku percaya, entah kapan itu, keberadaan ku akan berarti bagimu kelak.

***
Maaf, aku bukannya tak peka. Kau tau, banyak hal indah yang ku lewati. Banyak rasa nyaman yang ku lalui, tetapi aku memilih hal-hal (buruk) ini. Mungkin ini takdirku, atau entahlah. Aku selalu berharap Tuhan memiliki rencana yang jauh lebih indah. Kapanpun itu, aku masih menunggu rencana hebat-Nya.

***
Maaf, sesegukan kata itu akan berubah pelukan suatu saat nanti. Semoga kau sabar menanti. Setangguh apapun jiwamu, hatimu bukanlah besi apalagi baja. Kakimu bukanlah roda ataupun robot yang tidak lelah berjalan. Maka, beristirahatlah.

Perasaan seperti apa ini? Mengkhawatirkan mu berlebihan.

***

Mungkin aku yang terlalu berlebihan. Kau benar, hatiku tidak sekuat itu. Kakiku tak sesanggup itu. Tetapi kau tau, jiwa rapuh yang berulang kali menuai kekecewaan ini masih saja tegar. Bila nanti tak mampu lagi, aku akan beristirahat. Terimakasih, khawatirmu memang berlebihan. Aku baik-baik saja.

Monday, May 15, 2017

Bersemangatlah

1 hari, 2 minggu, 3 bulan, bahkan bertahun-tahun akan terlewati. Hapus air mata. Hidup ini bukan hanya tentang kesedihan dan kepasrahan yang akan kau lalui dengan tetes air yang menjilat pipimu. Jika benci, buang semua kebencian itu. Hadapilah. Jika kecewa, lupakan semua rasa sakitnya. Nikmatilah.

Tidak semua orang bisa sekuat kamu. Mampu berdiri dengan kedua kaki yang tampak sempurna, tetapi adakah ada yang tau bahwa kakimu lumpuh? Beri hari mu senyuman, terangkan ia dengan harapan, kuatkan ia dengan tekad. Kau tidak perlu menangis lagi. Kekecewaan akan berlalu kelak. Nikmati saja. Berlapang dadalah.


Karena kelak, ketika kau menyadari masa-masa ini, di sana hanya akan ada sebuah senyuman yang menghiasi pipimu. Pertaruhkan semua harimu, waktumu, untuk menggengam senyum itu kelak. Percaya atau tidak, kau adalah orang yang kuat. Tak perlu cemas, kuat bukan berarti kau harus menyelamatkan dunia. Selamatkanlah dirimu dari kebencian dan kekecewaan yang berlalu. Genggamlah jemarimu sendiri, tak perlu kuat dan tak perlu mengepal. Cukup untuk menopang bebanmu saja. Bersemangatlah.

Saturday, March 4, 2017

Gie

Puisi terakhir Soe Hok Gie "Dari Tiada ke Tiada"

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza,
tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku, bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu, atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi.

Ada serdadu-serdadu amerika yang mati kena bom di danau,
ada bayi-bayi yang mati lapar di biafra,
tapi aku ingin mati di sisimu manisku, setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini sayangku, kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.

Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada, berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Kenapa tiba-tiba posting puisi Soe Hok Gie? Karena tiba-tiba terputar di playlist *&%#”>(@#<?}{(^#>?$

Diksinya tinggi sekali, kan. Ya wajar, namanya juga Soe Hok Gie. Seorang aktivis fenomenal yang berperan penting dalam masa orde lama – orde baru. Gie lulusan Sastra Universitas Indonesia. Wajar saja, tulisannya bagus (read: tajam dan penuh kritik). Buku harian Gie dengan judul “Catatan Seorang Demonstran” terbit tahun 1983. Wah, keren ya buku harian loh. Tapi jangan salah, walaupun saya enggak pernah baca buku Gie, katanya (hasil googling) buku harian tersebut berisi tentang pengalamannya terhadap aksi demokrasi.
*Kalau buku harian kamu isinya apaan? kriiiikk kriiikk . . . . . . .

Well, saya enggak suka politik. Jadi jangan bahas-bahas politik. Saya cuma suka sama puisinya Gie – Dari Tiada Ke Tiada, yang dibacakan oleh Nicholas Saputra dalam film “GIE” tahun 2005. Sekedar informasi, saya baru nonton film itu sekitar tahun 2012 atau 2013. Jadi sudah cukup bisa menghayati puisinya Gie. Terasa ala ala melankolis tapi membakar semangat dengar puisi itu.


Jadi, yang hobinya melankolis tapi cita-citanya membakar semangat (*freak) saya saranin deh sering-sering baca/dengar puisinya Gie. 

Tuesday, January 31, 2017

Won't Let Go

Mungkin, perjalanan bukan tentang seberapa jauh kamu pergi, tetapi sedekat apa kamu mampu kembali – Kem

Saya tidak pernah tau kapan saya harus belajar di waktu yang tepat. Yang saya tau, saya kerap belajar tanpa jadwal waktu. Seperti siang tadi.

Semuanya berjalan begitu cepat. Bahkan seperti sebuah kegiatan rutin tanpa jadwal atau alarm yang membisingkan. Begitulah kehidupan.
Bahkan seperti siang kemarin. Banyak hal-hal yang mengubah dan memberi pelajaran bermakna. Saya tidak lagi perlu bertele-tele terhadap perasaan. Ada banyak yang terbang sia-sia tapi bukan berarti saya tak perlu belajar darinya. Karena hal-hal kecil bisa mengubah dunia seluas apapun. Bukan keajaiban yang dibutuhkan, tetapi rasa percaya dan kemampuan.

Jadi, bila perlupun mulai saat ini tak perlu bawa perasaan terlalu lama. Lingkungan tak pernah mengubah jati diri sesungguhnya. Terkadang kita saja yang suka menyalahkan keadaan. Faktanya kita yang terlalu lemah hingga menyalahkan sisi lainnya.

Semoga  perjalanan yang jauh tak pernah membuat kita lupa pada rumah, pada rindu.

Listening Say You Won't Let Go. Cocok.

I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I knew I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go

James Arthur  - Say You Won't Let Go

Saturday, January 14, 2017

Hilang - Berganti

Kepada kamu, pejuang senja yang menunggu malam.
Baiklah, jika kau memilih untuk tinggal, tak masalah. Kau bisa makan sisa kerang mimpi kecil yang berceceran di laut lepas. Bila hauspun, banyak batok kelapa harapan yang ditinggal pergi. Kau tak perlu cemas. Senja pasti datang.

Baiklah, jika kau memilih pergipun, tak masalah. Kau bisa melanjutkan sisa-sisa mimpi dan harapan itu. Karena tepat dilaut ini, dipersimpangan senja ini, kau tak lagi membutuhkannya. Tak perlu cemas. Senja baik-baik saja, senja selalu kembali dengan sendirinya.

yang patah tumbuh yang hilang berganti
yang hancur lebur akan terobati
yang sia-sia akan jadi makna
yang terus berulang suatu saat henti
yang pernah jatuh kan berdiri lagi
yang patah tumbuh yang hilang berganti
Banda Neira – Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti

Tuesday, September 13, 2016

Ketakutan Seperti Apa?

“Mengingat kembali adalah salah satu cata terbaik untuk tidak merasakan kehilangan”
 – Winna Efendi

Mungkin, ada sesuatu yang telah berubah. Atau barangkali sesuatu lainnya yang dipaksa berubah. Seandainya kamu menjadi saya, apa yang kamu lakukan? Menggantikan semua kenangan yang pernah ada? Atau melupakannya? Atau mungkin cukup dengan menyimpannya?

Boleh jadi, hati tahu jawabannya. Tetapi apa kamu akan tetap melakukan hal yang sama seperti saat ini? Atau akan melakukannya kelak?

“Kurasa, sebenarnya kamu bahkan udah tahu apa yang kamu inginkan, Kai, tapi kamu terlalu takut untuk menghadapinya. Kamu takut ditinggalkan, diabaikan. Jadi, kamu selalu jadi orang pertama yang meninggalkan.”

Mungkin mereka tidak lebih dari sekedar dua orang yang berpapasan dalam hidup, hanya untuk menyembuhkan luka masing-masing, kemudian berjalan ke arah berlawanan.

“Hidup bukan tentang siapa yang menang. Sebisa mungkin menghindari luka supaya enggak merasa sakit. Hidup adalah merasakan setiap luka yang datang, supaya kita bisa melewatinya, supaya kita bisa belajar untuk sembuh.”

–cuplikan dari novel Girl meets Boys, Winna Efendi–

Jadi, meski telah menuai puluhan, bahkan ratusan kebahagiaan, apakah kebahagian kecil bernama segaris cahaya pagimu akan lenyap begitu saja?

Boleh jadi, hati kecilmu tahu jawabannya, tetapi jiwa besarmu menolaknya.

Saturday, February 13, 2016

Sampai Juga

Terkadang, ketakutan selalu lebih besar dari harapan. Jadi bagaimanapun harus tetap tegar(kan). –Kem
Yang diciptakan Tuhan, selalu fana.
Seperti hati. Lembut, namun begitu mudah retak seperti kaca. Pabila terjatuh, mudah pecah juga.
Yang diciptakan Tuhan, selalu fana.
Seperti kertas. Bila diremuk, tak pernah kembali halus juga. Hatipun begitu.

Lalu untuk apa?
Terlalu merasa kecewa padahal mampu menahan tangis.
Terlalu banyak bicara padahal mampu menahannya pada pundak

Cerita
Hanya tentang segala kerumitan yang menjadi-jadi

Ah,
Biarlah
Simpan juga hati pada waktunya
Kenang juga rumput pada tanahnya
Dongeng ini hanya fana
Air mata juga sementara


Bahagialah…

Monday, January 25, 2016

Monster?

Akhir-akhir ini jarang nulis. Mungkin karena inspirasi sedang mati, atau mungkin karena inspirasi beranjak meninggalkan kesepian. Entahlah.

Dear Soul

Jika ada perbedaan, barangkali kenyataan berbicara benar. Karena dilihat dari sudut mana pun dunia terus berubah –meski bumi bulat dan tidak memiliki sudut. Setiap waktu terasa terbuang sia-sia, soul. Entah karena mulai lelah menghadapi kenyataan hidup yang begitu abstrak, atau lelah karena semakin kalah oleh waktu. Yang pasti, tingkat kerapuhan terus meningkat.

Rasanya baru sepekan lalu nyemangatin orang lain, tapi sekarang rasanya butuh 1000 orang untuk nyemangatin saya lagi, atau cukup 1 saja?

Saya takut jika berubah jadi monster.
Kalau selama ini setiap ucapan yang keluar dengan sengaja terasa menyakitkan, percayalah itu bukan keinginan saya. Saya tidak pernah benar-benar berniat membuat orang lain, siapapun, terluka karena ucapan saya.
Monster.
Soul, sedikit kesakitan hati yang selama ini ada, mungkin seiring waktu tumbuh membesar menjadi sebuah monster dalam diri. Sedikit luka yang saya pikir akan pulih seiring waktu ternyata berubah menjadi suatu hal yang membuat saya bukan diri sendiri seutuhnya lagi.

Saya bingung.
Setiap kali menatap cermin, di sana hanya ada sepasang wajah yang selalu saya kenali. Tetapi terkadang, wajah itu berubah menjadi sesuatu yang entah siapa. Saya tidak pernah tau. Barangkali saya akan menemukan jawabannya di setiap nasihat yang saya dengar, atau barangkali di setiap waktu yang terus saya nantikan. Saya tidak tau.

Soul,

Tadi pagi sebuah quote melintas di wajah smartphone saya.

Friday, November 27, 2015

Karena Takdir

Pada satu masa, seorang adik akan bertemu kakaknya. Jarak telah membuat dua jiwa yang terlahir dari satu rahim Ibu berpisah, membuat jarak kelabu yang kesat mata memisahkan mereka. Adik. Ia tak pernah tau pengalaman pahit-manis seperti apa yang pernah dilalui kakaknya. Kakak. Ia tak pernah bisa memberikan nasihat terbaik untuk adiknya. Hingga titik itu mempertemukan mereka. Mungkin saat itu Tuhan sedang menggarisi takdir hidup kakak beradik tersebut dan mempertemukan garis mereka pada titik potong yang tidak pernah terbayangkan.

“Kenapa kamu harus terlahir setelah kakak pergi?”
Adik hanya terdiam mematung tanpa berkata. Matanya mulai berkaca. Jemarinya begitu gemetar, ingin segera memeluk saudara kandungnya yang berdiri beberapa jengkal dihadapannya.
Sang kakak melangkah semakin mendekat. Tetapi gerakan refleks sang adik yang bergerak mundur membuat kakak menghentikan langkahnya.
“Kamu takut?”
Adik tidak berkutik.
“Kamu tidak pernah tau bahwa kamu memiliki seorang kakak?”
Adik hanya menggeleng.
“Sama. Kakak juga.” Kemudian keduanya saling diam membisu.


Kita dipertemukan tanpa rencana. Lalu dipisahkan, dan segalanya tak pernah kembali sederhana –Mrs. Mraz

Thursday, July 16, 2015

Terakhir

“The two most important days in your life are the day you were born and the day you find out why”
–Mark Twain–

Selamat malam.
Selamat tinggal Bulan Ramadhan 2015 ini.
Selamat datang Hari Raya Idul Fitri.

Melewati hari-hari dengan berpuasa dan melakukan beberapa aktifitas cukup membuat saya menyadari bahwa sebulan ini telah berlalu sedikit lebih baik buat saya. Setidaknya saya tidak menyia-nyiakan kesempatan liburan (selama ramadhan) ini seperti tahun lalu. Banyak hal yang saya lakukan, tentu saja di awali oleh beberapa proker yang sebagian terealisasi, sebagiannya lagi tidak. Salah satu proker yang terealisasi adalah menulis –di blog– setiap hari. I get it.

Yang tidak terealisasainya? Hmm jangan ditanya!

Belajar?
Tentu saja. Tetapi belajar yang saya maksud bukanlah belajar dengan berkutat pada buku-buku atau ilmu-ilmu eksak. Saya ingin mengisi liburan ini dengan ilmu yang jarang saya dapatkan di kampus. Karena, jika hari-hari saya sudah mendapatkan hal itu, setidaknya liburan saya bisa mempelajari hal lain. Bukankah wawasan harus terus berkembang seiring waktu?

Oya, berbicara hari esok, lebaran. Ya lebaran. Identik dengan shalat id, maaf-maafan, kue dan baju lebaran, hmm lalu apa lagi? THR mungkin. Dan? Entahlah tergantung setiap orang melakukan rutinitasnya seperti apa pada hari raya.

#Fasting29

Friday, July 10, 2015

Silaturrahmi



Setiap hari, setiap detik yang dilalui, saya harus bisa belajar. Meski dalam diam, harus ada sesuatu yang menjadi pelajaran buat saya. Apakah itu diam sambil menatap kursi kemudian belajar bahwa kursi yang seperti ini nyaman sebagai tempat duduk sedangkan kursi yang itu tidak. Atau, saya bisa belajar dari setiap percakapan teman-teman saya, setiap pertemuan. Bahwa di sana, ada bagian percakapan yang mana saya bisa masuk ke dalamnya, namun pada percakapan lain saya harus menyibukkan diri dengan memegang hp mungkin.

Kata teman saya, selvi (not selfie) bagaimanapun di setiap pertemuan jika kita bisa join kenapa tidak. Toh, itu semua fungsinya untuk menjalin silaturrahmi. But, selvi, saya pikir saat-saat seperti ini semakin membuat saya (mungkin juga kamu) merasa “terasingkan”, how about you? Entah kenapa, semua yang terjadi setelah saya mempelajarinya, ‘rasa ketidaknyamanan’ ini mulai tumbuh, kau bisa melihatnya sendiri. Tetapi, lagi-lagi, “silaturrahmi” dari penjelasanmu membuat saya harus diam dan meng-iya-kannya. Kamu benar, selvi.

Jadi, beradalah kamu –kita semua– pada setiap pertemuan dengan niat yang indah, silaturrahmi. Kesempatan itu tak pernah datang dua kali, kenapa? karena waktu tak pernah berjalan mundur. Nikmati saja, ada masanya nanti, mungkin.

#Fasting23

Sunday, June 21, 2015

A Pair Of Ear



Dahulu saya pernah berkata:
Jika kau tak mampu menjadi penghapus kesedihan orang lain, jadilah sepasang telinga yang mampu mendengar segala keluhannya, kesedihannya.

Saya pernah bilang pada seorang teman:
Bahwa akan ada masanya di mana telinga yang selama ini mampu mendengar segala keluhanmu suatu saat nanti akan berubah, atau ia tak mampu menjadi si pendengar yang baik lagi. Jadi, menulislah. Yang kau butuhkan hanyalah sebuah pulpen dan secarik kertas, meskipun itu kusang.


Pernah menjadi sepasang telinga untuk seseorang?
Bagaimana rasanya?

Pernah berharap mendapat sepasang telinga yang baik untuk mu?
Apakah kau mendapatkannya?
Bagaimana rasanya?

Semoga telinga-telinga yang pernah menjadi pendengar baik saya selama ini tidak pernah bosan dengan segala keluhan saya. Terimakasih.

#Fasting4