Showing posts with label My story. Show all posts
Showing posts with label My story. Show all posts

Sunday, March 18, 2018

Teman Tapi Menikah

Saat ku lihat dirimu
Berjalan bersamaku
Ku rasa ada sesuatu
Bukan sayang
Bukan cinta
Tapi hati tak mampu menahan
Yang ku tak tau
Ini apa
Hati ini tak mampu membaca

Ku tau ini belum pasti
Ku masih ingin sendiri
Tapi entah mengapa
Kau lah yang selalu di hati
Ku sadar engkau datang
Disaat aku jatuh
Namun ku tau
Ini bukan saatnya kita bersama
Sendiri – Dengarkan Dia | Ayudia Bing Slamet & Dittopercussion

Holaaaa
Saya sudah menunggu-nunggu hari ini, minggu 18 Maret 2018. My favorite, sebut saja Kak Ayu (Mama Ncipo) dan Kak Ditto (Papi Dido) atau yang mungkin lebih dikenal dengan Keluarga Belo, sepaket dengan Sekala, datang ke Gramedia yang baru saja dibangun di sebuah tempat di ujung Pulau Sumatera, Aceh.  Beberapa malam lalu saya melihat postingan di instagram Gramedia Aceh dan langsung saja saya sebarkan ke beberapa teman, mengajak mereka untuk ikut dalam acara talkshow + booksigning + music performance mereka. Alhasil di sanalah saya dengan beberapa teman menikmati acara tersebut.

Tentu saja, diantara mereka, sayalah yang paling gila. Eeiiits tunggu dulu. Sebelum kalian mengklaim (???) bahwa saya tipikal ‘orang gila’ ketika bertemu artis atau sederet orang orang hebat lainnya, saya akan mengatakan terlebih dahulu bahwa saya bukan tipikal yang seperti itu. Hmm mau membayangkan cewek-cewek yang tergila-gila pada k-pop? I’m not. Atau membayangkan cewek-cewek yang akan teriak teriak menangis gila sejadi jadinya bertemu artis favorite mereka? I’m not.

Sejujurnya, ini pertama kalinya saya bertemu orang-orang yang saya impikan. Hmm maksud saya seperti ini, ketika ada seseorang yang nge-fans sekali dengan beberapa artis, mereka akan terburu-buru dan menggila-gila dibeberapa kesempatan. And this is my first time. Entahlah, sejak dulu saya memang tidak punya artis artis idola yang begitu saya idolakan seperti kebanyakan orang pada umumnya. Dan di umur 22 tahun inilah pada akhirnya saya mewujudkan salah satu mimpi saya, bertemu mereka.




Saya sendiri tidak tau persis harus menyebut diri ini adalah fans Kak Ayu dan Kak Ditto, atau semacamnya. Karena semenjak pertama kali saya mengetahui karya mereka, saya langsung jatuh cinta, begitu saja. Bahkan bukan hanya sekedar jatuh cinta, dari mereka saya belajar banyak hal. Mereka telah menjadi motivasi dan inspirasi saya dalam menata beberapa masa depan. Dan pertemuan tadi sore, membawa saya pada beberapa rencana kedepan. Pada titik titik yang menjadi mimpi saya, akan semakin saya kuatkan.

Setelah diskusi dan tanya jawab seputar buku #temantapimenikah edisi buku hijau (buku pertamanya adalah buku kuning), tibalah music performance. Duuuuh senang sekali.


Semoga semua karya mereka dapat terus menginspirasi saya dan orang orang lain. Terus berkarya Mama ncip dan Papi Dido. We always support you ;)

See the pictures


Friday, June 30, 2017

Begini

F: Dari dulu saya sudah pernah bilang. Sempit sekali hidup ini kalau hanya memikirkan tentang cinta dan sakit hati. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan, tentang mimpi dan cita-cita.
K: ...
F: Saya bicara seperti ini karena saya sudah merasakan perjalanan yang panjang. Saya sudah pernah jatuh, jatuh paling sakit. Saya pernah kehilangan seseorang yang paling saya sayang, dan saya juga pernah meninggalkan orang yang sangat menyayangi saya.
K: Hmm
F: Tetapi sekarang saya sudah mendapatkan orang yang jauh lebih menyayangi saya. Setiap kita punya jalan hidup yang berbeda-beda. Mengapa saya menasihatimu? Karena jalan hidup saya dulu lebih sulit dari kamu. Tapi saya berhasil. Biarkan dia mencari jalannya sendiri. Anggap dia sebagai orang yang memberi pelajaran berharga dalam hidup kamu. Sekarang, cari jalan hidup kamu sendiri.
K: (meneteskan air mata) Terimakasih F. Semoga saya bisa menemukan jalan saya sendiri. Terimakasih, tetap ada di sisi saya di saat-saat seperti ini.
F: Saya tidak akan berkata demikian jika saya belum melaluinya. Semoga kita bisa menemukan jalan kita masing-masing. Jangan pernah merasa sendiri, K. Kamu punya kami semua.
K: Yes, you are right. Thanks, F.

Sunday, April 30, 2017

Jalan (Belok) Lurus

“Kalau waktu bisa bicara, kamu mau bilang apa sama waktu?” -Kem

Beberapa hari lalu, seseorang bilang ke saya. Dia butuh motivasi, dia kehilangan banyak waktu, banyak energi, bahkan banyak hal-hal yang dia lewati namun berlalu begitu saja. Saya bilang, kalau kamu butuh motivasi, saya bukan orang yang tepat. Tapi saya bisa membagi beberapa pengalaman yang saya miliki.

Matanya berbinar penuh harap. Saya langsung menggenggam tangannya dan memberi jawaban melalui mata; tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.

“Buat saya, belok ke lain arah itu tidak masalah. Tidak perlu lurus-lurus sekali. Apalagi buat orang seperti kita, yang sudah berusaha mati-matian namun tiada arti. Saya sudah melewatinya, dan hasilnya saya hanya menyakiti diri lagi dan lagi. Saya ingat, kata teman saya beberapa waktu lalu. Katanya ‘fokus ke hobi saja’. Saya bingung, hobi saya apa dan apa yang harus difokuskan. Jadi saya memutuskan untuk melakukan hal-hal baik dan menyenangkan. Menurut saya, hal-hal tersebut membuat sesak saya selama ini hilang, membuat mata lelah saya kembali segar, membuat jiwa saya tegar meski disenggol badai sekalipun, bahkan membuat saya berpikir bahwa semua yang saya lakukan tidak pernah sia-sia. Kenapa? Karena saya sadar, semuanya adalah pelajaran dan proses yang harus dilalui.

Kamu percaya? Tanpa saya sadari, hal-hal tersebut justru membuat saya mengerti mengapa saya harus melalu proses ini. Dan benar, tidak pernah ada hal yang sia-sia. Hal-hal menyenangkan yang saya kerjakan akhirnya membuahkan hasil. Saya rasa, kamu pun perlu begitu. Lakukan hal-hal bermanfaat lainnya, hidup hanya sekali dan kamu tidak akan pernah mengulangi masa-masa ini.

Berbeloklah sejenak, temukan duniamu, tetapi jangan lupa kembali lurus. Bertemanlah dengan mereka yang berbelok tapi membuat hal-hal positif dan mereka yang tetap lurus karena kelak kamu akan kembali lurus juga. Saya memiliki keduanya, kamupun harus begitu.”

Ia menyimak dengan cukup baik.

“Orang-orang seperti kita, jika terlalu dipaksakan lurus juga tidak akan berjalan dengan baik. Percayalah, berbelok sesaat tidak masalah asalkan tetap produktif. Percaya pada diri sendiri. Lakukan apa yang menurut kamu bisa membuat dunia sekitarmu tidak hambar. I did it. Kamu bisa lihat kegiatan apa yang saya lakukan sebulan ini. Lari sana sini, jumpa orang ini dan itu, deadline A, kerjakan B, melakukan C. Intinya, asal tetap produktif dan bermanfaat kenapa tidak? Nanti kalau sudah waktunya, pasti lurus kembali. Yang penting jangan sampai terjebak, apalagi terlalu lama, karena kamu harus tetap berjalan lurus. Semangat, D”

Dia merangkul saya, erat. Matanya memancarkan sinar kebahagiaan. Semoga secuil perjalanan yang telah saya lewati bisa membantumu melewati masa-masa ini ya, D.

Daaaaaaaaan
kriiiiik kriiiiik kriiiiik
Sepertinya salah satu teman saya telah membawa saya kembali ke jalan yang lurus. Ia meminta saya untuk fokus pada jalan lurus yang sudah ada dihadapan saya. ”Please, fokus ya. Waktu kita enggak banyak lagi” begitu katanya. Dan ya saya pikir, jalan belok-belok itu sudah cukup. Saya harus kembali fokus pada jalan lurus. Terimakasih, H.

Right, saya harus  kembali lurus, fokus dengan jalan lurus di depan.

Note: Mungkin, kalau nanti diperjalan saya menemukan jalan berbelok yang membuat saya kembali nyaman, saya akan memikirkannya –kembali berbelok atau tetap lurus. Seperti kata saya, ‘orang-orang seperti kita, jika terlalu dipaksakan lurus juga tidak akan berjalan dengan baik’. Mungkin itu cuma berlaku untuk saya. Jadi disarankan, bagi yang tidak mampu berbelok tetap lurus saja -_- &^(^%@#:>&^#<+__*%^(%@

Thursday, March 30, 2017

Tak Terganti

“Kamu gak boleh sedih. Seperih, seberat, atau segelap apapun yang terjadi. Aku yakin, kamu kuat menjalaninya” – Beuforion Films, Senja

Meski terkadang, cahaya kalah oleh kegelapan, tetapi akan tiba saatnya dimana kegelapan menjadi lemah. Dan cahaya-cahaya itu akan datang.

Melewati hari-hari dengan hal buruk, bukan berarti hidup harus terpuruk seburuk itu. Karena selain niat dan usaha yang datang dari diri sendiri, kehadiran mereka adalah hal terbaik yang tidak pernah terencana.

Beberapa hari lalu saya sempat down. Setelah mencoba menahan sakit seorang diri tengah malam, akhirnya saya membangunkan Mamak ditengah tidurnya yang begitu nyenyak. Saya merintih kesakitan dan menangis kecil. Mungkin wajah saya saat itu sudah pucat, tapi wajah mamak jauh lebih pucat melihat kondisi saya. Bapak bangun, Kakakpun bangun. Kami langsung bergegas ke klinik terdekat.

Kondisi jalan waktu itu begitu sepi, hanya ada kami berempat. Kami mengetuk klinik yang buka 24 jam. Saya langsung tidur diruang pengecekan sambil menggenggam tangan Mamak, erat, menahan kesakitan. Dokter tiba dengan wajah lusuh, terlihat baru saja dibangunkan. Dalam hati sambil menahan segala sakit, saya bergumam ‘Betapa mulia pekerjaan dokter, yang rela dibangunkan ditengah tidurnya yang begitu terlelap setelah melewati hari yang melahkan, demi pasien dadakan tengah malam seperti saya. Dok, semoga amal mu selalu mengalir jernih. Aamiin’.

Setelah melewati serangkaian pengecekan, dokter meminta saya untuk segera diinfus. Mata saya terbelalak dan pandangan buram dipenuhi air mata menatap takut ke arah Mamak. Mamak hanya berkata, ‘kamu ingin sembuhkan’. Saya hanya mampu menahan diri dibalik genggaman tangan Mamak.

Btw, itu adalah jarum infus pertama saya setelah bertahun-tahun. Saya tidak pernah sakit parah hingga harus di opname (rawat inap) dan merasakan jarum-jarum infus tersebut. Dan disinilah saya pada akhirnya setelah melewati hari hari berat.

Sesuai jadwal yang sudah saya rencanakan,besok saya memiliki aktifitas yang cukup padat. Tetapi saya harus membatalkan semua kegiatan-kegiatan itu. Jam 3 lewat, masih tengah malam, saya mengabari salah satu teman, sebut saja H. Saya bilang kalau saya sakit dan saya tidak bisa memenuhi janji besok. Saya juga mengabari 3 teman lainnya digrub via line. Setelah itu saya langsung istirahat sambil menatap selang inpus yang sudah terpasang ditangan kanan saya.

Pagi hari tiba. Rombongan manusia-manusia yang super kece dan perhatian memenuhi kamar rawat saya. Tentu saja, mereka yang tidak pernah absen disetiap saya terjatuh. Tawa mereka yang baru saja hadir memenuhi kamar langsung menumbuhkan aura kesembuhan. Lihat saja, seketika saya kembali tertawa seperti biasanya, tanpa merasakan sakit sana sini. Ada yang langsung menghambur dan memeluk saya, ada yang langsung mengambil foto, melakukan ‘live’ via instagram dan sebagainya. Semua tingkah mereka membuat saya ingin segera pulang dan sembuh total.

Tak terhitung, pagi-pagi sekali mereka sudah menempuh perjalan yang terbilang tidak dekat demi melihat kondisi saya yang sebenarnya tidak terlalu buruk jika dibandingkan orang sakit parah. Tetapi inilah mereka, rombongan yang mencapai 20 orang ini benar-benar mengubah suasana kamar orang sakit menjadi wahana hiburan. Kalian luar biasa. Super.

Bahkan bukan hanya itu. Setelah saya keluar dari opname dan kembali kerumah, keesokan harinya sebuah pesan dari WhatsApp hadir dan mengubah warna hidup saya.
“Apa kabar? Saya dengar sakit ya?”

“Bahwa sebagian besar dari kita suka begitu; selalu berharap dapat pesan dari seseorang yang istimewa, tapi suka lupa sama perhatian dari orang yang selalu ada, yaitu orang tua” – Catatan Akhir Kuliah 02

“Alhamdulillah. Semoga sudah pulih seperti sedia kala. Kekem harus kuat. Kalau ada masalah bisa share ke saya. Jangan dipikirkan sendiri ya. Boleh WA atau ketemu langsung…”

Singkat, dan begitu berarti.
Mungkin kemarin-kemarin saya boleh  lemah. But, see how many I had the strong people who always strengthens me. Jadi, alasan seperti apalagi yang saya butuhkan untuk tetap kuat. Bukankah ini sudah lebih dari cukup? Memiliki orang tua dan keluarga yang selalu ada di sisi saya, memiliki teman-teman seperti cahaya matahari yang tetap memantulkan sinarnya walau gelap, dan memiliki mereka yang terkadang terlihat semu namun selalu memberikan perhatian kecil yang berarti.

Terimakasih, meskipun itu tidak pernah cukup. Semoga sampai kapanpun tidak pernah ada yang menghalangi ikatan seperti ini.

“Dear Friends…
Kita sama-sama tahu, ada jeda yang tak bisa dipisahkan oleh koma, melainkan titik. Ada pula rasa yang tak bisa disentuh oleh kulit, melainkan lidah. Lantas, adakah jarak yang bisa memisahkan kita? Bahkan ketika wajahmu dan wajahku kelak tidak lagi bertemu di dunia yang fana ini?” - Kem

Note: Kata-kata ini dulunya untuk mereka, tetapi kini, untuk kita bersama. Cause we are friends, we care. 

Thursday, March 23, 2017

H

 “Hidup itu sederhana, namun seringkali kita membuatnya menjadi (semakin) rumit”
“Ada yang mundur saat terabaikan dan ada yang tetap bertahan walau tak diperdulikan. Mengertilah, cinta punya kekuatannya masing-masing” - Dilan & Milea
Maka, jangan pernah lepaskan “mereka” yang selalu bertahan disisimu, bukan hanya pada saat kamu tertawa, namun pada titik terendah sekalipun.
Terimakasih, H. Malam ini, saya kembali mewek setelah melihat foto kirimanmu via line. Ah, padahal pesanmu “jangan mewek-mewek lagi” tapi justru hal itu yang membuat saya semakin mewek. 
Katamu, nikmati saja prosesnya. Dan itulah yang sedang saya lakukan sejak kemarin kemarin. Proses ini sulit, tapi katamu, proses itulah yang akan saya, kamu, kita rindukan kelak. 
Saya sering menghembuskan nafas berat mengingat ‘proses’, dengan segala proses yang belum seberapa ini. Tetapi, keberadaan kamu, H, dan mereka semua membuat hembusan nafas berat saya semakin berarti. Percayalah, selain orang tua dan keluarga saya, kalian adalah hal terbaik yang tidak ingin saya lepaskan. 
Terimakasih untuk segalanya, untuk kiriman foto ini, dan jam-jam yang pernah kita habiskan melalui proses-proses itu. 
Rasanya, jari-jari ini ingin mendeskripsikan jam-jam –kita sebut proses – yang kita lalui itu. Tetapi, biar sajalah. Biar saja proses ini berjalan dengan kekuatan 'harapan' yang pernah kita impikan. Kelak, jika memang harus dituliskan, biarkan hasil menjawabnya terlebih dahulu.
*with love, Kem

Thursday, March 16, 2017

Can't Stop

Aku seperti menyelami kesedihan lama
yang hidup bahagia dalam sajak sajak Pablo Neruda
Aku seperti menyelami sepasang kolam
yang dalam dan diam di wajah mu
-Puisi Rangga, AADC2, Pagi di Central Park

Kepala ini seakan pecah berkeping-keping. Lalu kepingannya remuk berantakan. Dan angin membawanya pergi, tak tersisa…

Ini hobi (tak) favorite yang saya miliki. Setiap deadline A, B, C dan lain-lain itu memenuhi 24 jam yang saya miliki, saya akan lupa bahwa saya memiliki blog yang rindu untuk dibelai. Saya akan lupa mengkonsumsi minuman berenergi, lupa untuk tidak makan pedas, hingga berujung sakit. Bahkan saya lupa menyapa ‘perasaan’ diri sendiri, sibuk memikirkan perasaan yang entah seabstrak apa itu.

Dan disinilah saya, ditemani lagu The Chainsmokers Ft Coldplay – Something Just Like This.

Memikirkan satu persatu sisa kepala saya yang dapat bekerja. Meneliti bagian-bagian yang mampu menyerap lebih banyak problema. Menginginkan ruang kosong, untuk menaruh beberapa bagian yang seharusnya menjadi prioritas.

Aah, sudahlah. Saya kembali me-replay lagu tadi. Kepala ini masih pusing, sedikit terasa sesak.

1…2…3…4…lagu sudah terputar. Saya masih menatap layar 14 inci dengan power 47% ini -_-

Saya butuh energi,

atau kamu?

Friday, February 24, 2017

S


Saya suka merasa gagal. Bila setiap tetes air matamu yang jatuh, tak satupun yang mampu saya hapus - Kem 
Saya benci harus mengakui ini. Tapi setiap kali kamu membutuhkan saya, saya tidak pernah ada disampingmu. Saya kecewa dengan beberapa keadaan yang sedang saya lalui. Termasuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang membuat saya lupa menyapamu.

Saya benci harus menulis ini. Bahkan ketika untuk kesekian kalinya kamu meminta saya menemanimu, untuk kesekian kali itu pula saya tidak pernah bisa. Bukan saya menolak, tetapi keadaan yang membuatnya seperti ini.

Saya benci harus mengingat ini. Tapi setiap kali saya membutuhkan mu, kamu selalu ada, bahkan di titik terlemah saya. Saya menyesal. Telah menjadi orang yang tidak menepati janji untuk selalu ada disisimu dalam suka dan duka.

Saya minta maaf.


Maaf, telah menjadi sahabat yang buruk.

Wednesday, February 15, 2017

Congrats, B

Selamat Malam…
Lama tidak pernah menyentuh blog ini, semoga tidak usang dan berdebu.

Beberapa hari terakhir ini, saya memiliki begitu banyak kegiatan. Mulai dari deadline A, pergi ke tempat B, mendadak jadi C, latihan D, acara E, dan yang terakhir mengunjungi F. Semuanya saya lakukan dari akhir bulan januari, jadi wajar saja blog ini tertinggal lama dan kesepian. *Crying

Tapi inti yang saya gambarkan pada posting-an kali ini adalah bukan tentang A, B, C, D, E maupun F itu. Itu hanyalah latar belakang yang akan menggambarkan metode posting-an kali ini. Yaelah, apaan sih.  Tetapi tentang sebuah hasil yang didapatkan setelah berbulan-bulan.

Daaaan
Taraaa…..

Designs By I


Congratulations Prodi Statistika Universitas Syiah Kuala. Akreditasi yang luar biasa, B.

Bangga?
Jelas.
Tentu saja.

Kenapa?
Mau bilang gini ya? “Cuma B aja pun, kampus gue A dan prodinya juga A”.
Ya saya bisa bilang apa ya, selamat aja deh buat kampus dan prodi kamu yang A itu. Tidak peduli, saya sudah terlalu bangga dengan ini.

Forget It…

Jadi, posting-an kali ini saya akan de javu – in kegiatan beberapa bulan lalu.

Agustus 2016, waktu itu saya sedang KKN disalah satu kabupaten yang belum pernah saya kunjungi, Aceh Timur. Banyak kepanjangan KKN yang diciptakan oleh para mahasiswa, mulai dari Kelar Kuliah Nikah, Kuliah Kerja Ngecat, Kuliah Kerja Njalanjalan, dan segudang kata-kata lainnya. Tetapi kepanjangan KKN yang diakui oleh universitas saya adalah Kuliah Kerja Nyata. (Jadi apa arti KKN bagimu?)

Tepat 25 Agustus 2016, Kamis, Prodi Statistika Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melakukan akreditasi. Tim Asesor akan berkunjung ke Prodi Statistika, mengecek kebenaran borang-borang yang sudah dibuat untuk menentukan akreditasi bagi prodi tercinta ini. Beberapa hari sebelumnya, Minggu, 21 Agustus salah satu dosen menghubungi saya. Sebut saja Bu F. Saat itu saya sedang melakukan perlombaan agustus di kecamatan tempat KKN. Telfon dari Bu F masuk, saya pergi ke halaman dan berbicara cukup lama dengannya. Ibu meminta saya dan beberapa pengurus himpunan lainnya untuk izin KKN selama beberapa hari, membantu proses akreditasi selama visitasi tim asesor. Ibu menyebut beberapa nama yang akan pulang ke Banda Aceh. Setelah sambungan telfon dimatikan saya terdiam. Sejak tadi sebenarnya ribuan semangat membakar jiwa saya, tetapi satu masalah muncul dalam kepala, membuatnya sedikit bungkam.

‘Apakah saya diizinkan pulang?’

Singkat cerita, dengan tekad yang luar biasa saya pun mendapatkan izin KKN untuk pulang ke Banda Aceh. Saya menghubungi beberapa teman lainnya. Sebut saja mereka adalah A, B, E, F, I, dan R. Karena satu dan lain hal, E tidak dapat pulang sedangkan 5 teman lainnya bisa. Saya meminta I untuk mengurus transportasi pulang pergi. Ia pun mencari tempat rental mobil dan memastikan waktu keberangkatan menuju Banda Aceh.

Selasa 23 Agustus 2016. Sore hari kami ber-6 bersiap-siap pulang selepas magrib. Tepat setelah saya selesai berkemas dan menyiapkan barang, telfon dari A masuk. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja A, F dan I tidak bisa pulang malam ini ke Banda Aceh. Setelah telfon sana-sini ternyata mereka tidak diizinkan pulang oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Mendengar kabar itu saya langsung mengabari Bu F. Setelah menceritakan semuanya dan memberikan nomor A pada Bu F, saya terduduk lemas di depan rumah KKN. Kepala saya penat, memikirkan banyak hal. Perihal ‘jadi pulang’ untuk akreditasi atau tidak. Perihal mobil rental yang sudah dipesan oleh I. Perihal nada suara bahagia Bu F tentang kepulangan kami. Perihal rasa yang benar-benar tidak dapat saya jelaskan dengan kata-kata.

Tinggal saya, B, dan R yang tersisa. Saya menghubungi B dan R. Mendengar masalah yang membuat A, F dan I tidak dapat pulang malam ini, B menjadi ragu dan berakhir mundur. Kemudian saya bertemu R di Kota Idi. Kami berbicara di depan salah satu swalayan ditemani teman KKN kelompok saya dan teman kelompok KKN R. Banyak usaha yang tetap kami lakukan di sana. Saya dan R kembali menghubungi A, F dan I. Memastikan apakah mereka benar-benar tidak dapat pulang malam ini. Tidak hanya itu, kami berinisiatif menghubungi teman-teman lainnya yang dapat menggantikan mereka. Namun hasilnya nihil. Kami diam, sibuk dengan isi kepala masing-masing. Hingga sederet pertanyaan dan pernyataan membuat kami memutuskan , bahwa kami akan pulang ke Banda Aceh berdua saja malam ini.

Kriiikkk kriiiikk kriiiikk. . . . . . .

Tuiiing tuiiing tuiiing. . . . . .

Jangan tanya mengapa keputusan itu yang kami putuskan. Entahlah, kami rasa itu yang terbaik dari hasil musyawarah kami berdua. Kemudian saya menghubungi Bu F dan mengatakan bahwa kami berdua siap pulang malam ini dan akan ke kampus besok pagi. Setelah itu kami langsung bergerak ke terminal bus dan memesan 2 kursi untuk malam ini.

Saya dan R pulang ke rumah di kampung KKN masing-masing. Kamu janji akan bertemu di terminal lagi pukul 9 malam.

Setelah isya saya diantar oleh 6 teman kelompok KKN saya ke terminal. Namun sampai di sana ternyata bus yang kami pesan akan sampai pukul 10 lewat. Jadi saya memutuskan duduk di warung kopi favorite anak KKN di Kota Idi bersama mereka. Saya menghubungi orang tua saya, mengatakan bahwa saya akan naik bus pukul 10 lewat nanti. Saya juga cerita bahwa hanya saya dan R yang akan pulang, 5 lainnya tidak jadi. Mendengar hal itu, orang tua sedikit khawatir karena kami hanya berdua. Dan yang paling membuatnya khawatir adalah saya jarang sekali bepergian naik bus tanpa keluarga. Dulu pernah sekali saat SMA, namun itu ditemani guru dan beberapa teman lainnya. Kali ini hanya berdua, daaaaaan, ya begitulah (sedikit rumit menjelaskannya di sini).

pukul 10 lewat saya dan teman kelompok KKN sudah tiba di terminal. Di sana sudah ada R yang baru tiba beberapa menit lalu. Kami duduk di terminal menunggu kedatangan bus. 1 jam sudah terlewati namun bus yang kami tunggu belum juga tiba. Saat jarum jam hampir menunjukkan pukul 11.30, bus pun datang. Sederet nasihat dari teman kelompok KKN mendarat di telinga saya dan R. Kami segera pamit dan naik bus. Kami berdua duduk di barisan tengah bus sebelah kiri. Saya memilih duduk di kursi dekat jendela. Beberapa menit kemudian saya langsung terlelap dan kelewatan, hahahahaha lucu.

Pukul 10.00 WIB, 24 Agustus 2016 saya sudah berada di kampus sesuai ekspektasi. Hari ini bertepatan dengan anniversary Prodi Statistika yang ke-4. Ya, benar sekali. Prodi ini baru berdiri 4 tahun lalu. Saya dan teman-teman seangkatan merupakan leting pertama yang diterima oleh prodi tercinta ini, yaitu leting 2013. Setelah briefing beberapa saat, kami memotong kue yang berukuran cukup besar. Saya dan R sebagai mahasiswa yang sedikit special karena pulang ditengah kegiatan KKN mendapat suapan kue dari dosen. Yaelah special -_-

Setelah istirahat siang sejenak kami semua kembali mengerjakan aktivitas persiapan akreditasi esok hari. Hari sudah semakin gelap. Saya baru menyelesaikan beberapa tugasnya malam hari. Saya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah malam ini dan menginap di sekitaran kampus.

25 Agustus 2016. Hari yang ditunggu pun tiba. Beberapa dosen sudah berkumpul di sebuah ruangan. Saya, R dan beberapa mahasiswa lainnya juga sudah duduk rapi dan mempersiapkan mental serta ribuan jawaban terbaik tanpa muluk-muluk. 1 jam berlalu, tim asesor pun masuk ke ruangan mahasiswa dan mulai bertanya beberapa hal terkait penilaian akreditasi prodi.

Tik . . . Tik . . . Tik . . .
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari tim asesor, begitupun jawaban dari kami. Beberapa menit selang pertanyaan, Bapak (saya lupa namanya) dari tim asesor menghampiri saya dan bertanya beberapa pertanyaan terkait Kuliah Kerja Praktik (KKP) di BPS Provinsi Aceh.
Blablablablablablabla. . . . . .
Puluhan pertanyaan berhasil kami jawab sebaik mungkin. Dan Alhamdulillah tugas saya dan R membantu proses akreditasi di tengah kegiatan KKN terlaksana sudah selesai.

Sesuai target awal dari izin KKN, saya dan R akan pulang malam ini (kamis malam). Namun tiba-tiba saya rindu rumah dan ingin pulang. Saya musyawarah dengan R, memintanya izin pulang besok malam (jumat malam). Hanya satu malam saja, saya benar-benar rindu rumah. Saya dan R minta izin pada dosen dan teman-teman KKN untuk menambah 1 hari lagi. Yes. Terkabulkan. Sore hari saya pulang ke rumah dan tertidur lelap di kasur favorite. Melampiaskan sisa lelah yang menggebu selama 2 hari ini. 

Sip, jumat malam pun tiba. Saya dan R memesan tiket bus pukul 11 malam, agar tepat sampai di Aceh Timur pukul 6 atau 7. Bus tiba, R sudah terlebih dahulu naik bus di terminal. Tempat duduk kami nyaris sama seperti bus yang membawa kami pulang dari Aceh Timur – Banda Aceh. Seperti keberangkatan dari AT – BA, kali ini dari BA – AT pun saya duduk di sebelah jendela bus.

Pukul 5 kurang, R membangunkan saya. Katanya kami hampir tiba di Aceh Timur. Saya melihat jam di handphone yang saya letakkan di saku jaket. Tidak sesuai ekspektasi. Bagaimana bisa hampir tiba di lokasi? Seharusnya kami tiba antara pukul 6 – 7 pagi. Saya kembali mengecek angka yang tertera di handphone, benar masih pukul 5 kurang. Saya kembali memastikan R apa benar kami hampir tiba? R mengangguk dibalik matanya yang masih mengantuk.

Benar, beberapa menit kemudian bus berhenti di terminal Kota Idi dan sayapun turun. Di sana sudah menunggu 3 teman KKN kelompok saya yang sejak tadi sudah saya ganggu tidurnya. Maafkna saya, ini kesalahan prediksi waktu dan bus. Maaf ya.

Bagaimana? Ini sepenggal cerita perjuangan saya dan beberapa teman lainnya demi mendapatkan akreditasi Prodi Statistika.Tentunya, dibalik itu semua terdapat orang-orang hebat yang begitu luar biasa menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi mewujudkan cita-cita ini. Alhamdulillah.

Beberapa hari lalu saya dan I ke kampus. Di Prodi kami bertemu Bu F. Suatu fakta menarik membuat saya semakin bangga. Bu F berkata bahwa, akreditasi B ini sangat luar biasa. Kita benar-benar mematahkan mitos bahwa prodi baru hanya bisa mendapatkan akreditasi C dahulu. Tetapi kami berhasil mendapatkan nilai B. Bu F juga bercerita, untuk mendapatkan nilai A sangat tidak mungkin, karena Prodi Statistika sendiri belum memiliki alumni. Maka nilai-nilai prestasi untuk alumni tentu saja akan 0 pada penilaian tim asesor. Berbeda dengan salah satu prodi yang juga tergolong baru di Fakultas MIPA. Sebut saja Prodi I. Prodi tersebut sudah memiliki 1 alumni yang cukup hebat dengan nilai prestasi yang baik. Maka wajar bisa mendapat nilai B. Nah, Prodi Statistika sendiri saat akreditasi belum 1 pun mahasiswa yang telah naik proposal skripsi. Jadi, nilai B ini benar-benar suatu kebanggaan yang luar biasa.

Kesimpulannya, setiap usaha kecil, pengorbanan, keikhlasan, dan proses yang kita lalui akan menuai sebuah hasil. Bisa jadi hasil itu tidak sesuai ekspektasi. Mungkin karena Tuhan ingin melihat usaha yang lebih dari kita. Dan boleh jadi hasil itu sesuai ekspektasi, namun jangan pernah lupa bersyukur.


And, congrats Prodi Statistika Universitas Syiah Kuala. 

Sunday, January 8, 2017

S

Dear S

Tepat kemarin, setelah melewati seperempat hari bersamamu dan hujan, kita pun berbagi banyak cerita. Oke, tepatnya ‘berbagi banyak cerita saya’. Saya sedang sibuk mengedit-edit laporan yang akan di print. Sedangkan kamu, dengan tabah dan sabarnya membantu saya merapikan lembar demi lembar hasil print yang berceceran. Sesekali, gurauan tentang hal penting – tidak penting menghangatkan ruangan ukuran 4 x 4 meter tersebut. Mungkin, karena suasana hujan yang membuat sejuk turut membuat kita (tepatnya saya) membutuhkan kehangatan.

Saya memberikan selembar kertas dobel folio yang berisikan deadline saya seminggu ke depan pada mu. Saya berkata bahwa itu adalah hasil duduk 10 sampai 15 menit bersama seorang dosen, kemarin. Paragraf pemi paragraf cerita saya mengalir dan kamu senantiasa mendengarkannya. Saya cerita bahwa ekspektasi selama 1-2 bulan lalu sama sekali tidak berjalan sesuai target. Saya sudah berjanji pada diri sendiri di akhir tahun 2016, awal desember untuk melanjutkan apa yang sudah saya kerjakan. Tetapi ternyata dalam 10 – 15 menit semua ekspektasi yang pernah terangkai itu menjadi sia-sia, dan saya kehilangan begitu banyak waktu.

Saya sedih saat itu. Entahlah. Kau tau dengan baik bagaimana rangkaian perjalanan yang sudah saya lewati berbulan-bulan, menemani sepotong harapan yang akan membuahkan hasil. Tetapi ternyata, saya harus kembali pada titik 0. Dimana semuanya harus dimulai dari awal lagi. Saya sedih saat itu, tapi mendengarkan nasihatmu membuat saya bangkit kembali.

Menit-menit terlewati dengan bongkahan cerita yang saya miliki hingga kita sampai pada topik tentang ‘impian’. Entahlah siapa yang memulainya terlebih dahulu, mungkin saya. Ya, itu saya, saya yang memulainya terlebih dahulu. Saya berkata bahwa saya memiliki suatu harapan, sebut saja itu sebuah projek. Bahkan saya sudah memikirkan alur dan endingnya bagaimana, meskipun tidak terlalu detail. Saya bercerita kepadamu, bahwa saya sudah meletakkan harapan tersebut tepat 5 cm dihadapan kening saya (seperti dalam film 5 cm).
“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa."

Tetapi tiba-tiba,
saya memasang raut wajah penuh keraguan. Mengingat pembicaraan kita sebelum sampai pada titik ini, mengenai ekspektasi yang telah gagal total. Saya ragu, bahkan sebelum menyentuh sedikitpun harapan itu, apalagi menggenggamnya.
Kamu tersenyum dan memberi sinyal positif. Kamu bilang bahwa kamu percaya saya mampu melakukannya. Kamu percaya bahwa hal-hal sulit itu mampu saya lewati dan kamu akan senantiasa membantu saya.

Kau tau, saat itu atmosfer ke-galau-an berubah. Saya terdiam, kemudian berkata bahwa kamu berlebihan. Tetapi, lagi dan lagi kamu membangkitkan semangat saya, mengubah pikiran negatif saya menjadi lebih baik. Kamu membuat saya percaya bahwa semuanya bisa berjalan jika saya memiliki niat yang kuat dan keinginan untuk mengerjakannya. Saya terpaku. Kenapa? Karena baru kali ini ada yang menguatkan saya seperti ini. Padahal saya sudah cerita bahwa beberapa orang justru membuat saya down dan menyuruh saya untuk menyerah. Tapi, S, kau berbeda.

Malam ini, kamu menghubungi saya dan meminta bantuan. Kemudian saya bertanya, apakah kau sudah sehat? suaramu terdengar masih lemas dan serak. 2 minggu ini keadaanmu memang kurang sehat dan sering terlihat lemas. Tetapi malam ini suaramu benar-benar berbeda. Hingga, suara isak tangis memecah pertanyaan saya. Saya kembali bertanya, ada apa.

1 kalimatmu mengubah detak jantung saya. Darah saya sekan terhenti mendengar kabar dari mu. Saya terdiam saat tangismu berubah semakin terisak. Bulir-bulir air mata jatuh tanpa aba-aba. Saya benar-benar ingin memelukmu saat itu juga.

Hai, S.
Dengarkan saya baik-baik.
Saya tau, kamu tidak akan baik-baik saja. Tidak pernah ada orang yang akan tetap baik-baik saja ketika kehilangan orang disayanginya. Saya tidak bisa berbuat banyak, tetapi saya punya bahu yang bisa kau sandarkan, saya punya telinga yang bisa mendengar semua suka duka mu, saya punya tangan meskipun tidak selembut sutra namun bisa menghapus air matamu, dan saya punya diri saya untuk tetap berada di sisimu meski tak selalu ada disampingmu, S.

Kamu selalu membuat saya percaya bahwa apa yang saya lakukan akan menjadi realita jika punya niat dan keinginan yang besar. Kamu selalu berkata bahwa saya kuat, saya mampu melewati rintangan-rintangan yang ada.

Maka kali ini, izinkan saya berkata: S, saya percaya, kamu lebih kuat dari apa yang saya lihat. Kamu lebih tegar dari apa yang bisa saya bayangkan. Maka, tetap kuat dan tegar ya, S. Saya sayang kamu.

Sunday, January 1, 2017

The Day

Selamat mengganti kalender baru, di dinding dan mejamu.
Hari telah berganti, tetapi warna langit tetap sama. Warna pagi tetap seperti biasanya, masih memiliki rasa matahari yang sama. Sebut saja, ini hari baru yang akan menjadi awal yang baru. Bergerak menemukan cerita-cerita baru dalam warna yang berbeda. Bukan tentang seberapa pahit cerita yang terlewati, bahkan sebagus apa ending cerita-cerita itu. Tetapi hari baru adalah tentang proses yang mengajari arti diri, tentang pengalaman yang tak bisa dibeli. Maka, berjalanlah hingga cerita-cerita baru kembali terekam dalam jejak kehidupan.

Selamat mengganti mimpi dan rasa yang dulu pernah ada, di hati mu dan di masa depanmu.
Hari telah berganti, tetapi orang yang ada akan tetap sama. Bukan karena kehadirannya tidak lagi memenuhi ruang-ruang mimpimu. Tetapi karena kesempatan kecil bisa mengubah segalanya. Aku, sebut saja sepenggal cita yang telah tergantung dalam ribuan mimpi. Aku telah bergerak sepanjang tahun memenuhi secuil pinta harapan, merangkak dan meraba dalam keremangan untuk mencapai suatu tempat. Maka, selamat memeluk mimpi yang baru.

Thursday, November 24, 2016

Need More Time

Dear Senior High School

Now Playing Mocca – Secret Admirer
Tau lagu ini? Ini salah satu soundtract dalam film Catatan Akhir Sekolah, cerita tentang projek film singkat yang dibuat oleh seorang mahasiswa. Film singkat tersebut bercerita tentang masa-masa SMA, tentang guru, teman, pacar, jatuh cinta, terlambat sekolah, segala kisah abu-abu mengenai seragam SMA.

Kangen masa-masa SMA?

Sebagian besar dari kamu pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja”. Saya pun begitu, dulu beberapa waktu yang lalu (saya lupa). Dulu, saya dengan bangga bisa bercerita tentang masa-masa SMA, apa saja. Mulai dari pertama kali menginjakkan kaki di salah satu asrama terbesar di sebuah boarding school, hingga tangis-tangis yang pecah ketika harus berpisah. Dulu, bahkan untuk mengenang satu persatu wajah yang menemani 6x24 jam minggu ke minggu saya, langsung membuat saya bangga memiliki mereka. Dulu, semua cerita seperti warna pelangi.

Sekarang?
Kau ingin tau?
Saya hampir lupa. Ah, berbicara kisah SMA ini, selalu membuat saya buta. Buta karena pernah mengalami masa-masa terindah kalau kata orang, dan buta harus kehilangan masa-masa itu. Jangan tanya ‘mengapa’. Saya sedang tidak butuh pertanyaan itu. Serius.
                                                                                                
Jadi, beberapa hari lalu saya melihat salah satu notifikasi teman di akun media sosialnya. Katanya, ia rindu masa-masa SMA-nya. Saya hanya bisa terpaku. ‘RINDU’? seperti apa rasanya? Ada yang bisa menjelaskan? (Karena saya benar-benar lupa)


Bila suatu saat nanti saya kembali mengerti tentang “Rindu” saya harap itu bisa mengembalikan apa yang pernah saya rindukan. Bukan kamu, bukan. Tapi mereka. 

Tuesday, November 8, 2016

Ku Sebut . . .

Dear 871200 Detik

Katakanlah ini waktu yang tidak singkat, untuk ku yang dipilih terlebih dahulu ditinggalkan. Seperti waktu itu, aroma udara kepergian masih tersisa dalam bulu-bulu hidungku meski flu melanda perjalanan yang kau sebut singkat ini.

Kisahnya begini, aku suka tempat ini karena di sini kita pernah dipersatukan dalam jarak yang menahan rindu. Saat orang berkata satu-satunya obat rindu itu adalah bertemu, kadang satu-satu obatnya itu pula yang tak mampu kita temukan. Namun pada tempat yang membuat aku jatuh cinta ini, akhirnya kita menemukan sesuatu yang ku sebut pertemuan.

Beribu langkah ku tuai dalam mentari pagi, mencari semangat hidup yang kian merosot dalam kerinduan. Akhirnya, aku menemukan suatu fakta. Aku membenci tempat ini. Tak usah kau bayangkan kenapa aku harus membencinya. Katakan saja padanya, tempat perpisahan ini mengulur-ngulur hati ku untuk menahan kembali rindu yang sudah terobati.

Lagi, aku membenci tempat ini. Semua perjalan yang kita habiskan harus terenggut paksa tanpa izin. Deruan suara itu membunuh perasaan bahagia ku untuk beberapa waktu yang lama. Kau, akhirnya memilih pergi dari genggamanku, entah untuk waktu berapa lama. Aku semakin membenci tempat ini, karena ia menjadi saksi kepergianmu dan penantianku. Aku benci harus mengatakan ini, tapi tempat ini seperti ‘kantor urusan perjanjian’. Kau pergi untuk berjanji 1 hal, dan aku menunggu untuk 1 hal.

Aku ingat, itu 871200 detik yang lalu. Di tempat yang sama, rindu yang sama, tapi kepergian yang berbeda. Aku terlalu bodoh saat itu untuk dapat mengartikan semuanya, menganalisa kepergianmu yang kesekian kali. Andai aku bisa secerdas itu untuk mengerti bahwa kau tak akan kembali seperti dahulu, aku akan melakukan bebagai cara untuk menahan mu pergi seperti yang sudah sudah. Aku mungkin bodoh, tapi ku pikir berada di sampingmu bisa membuatku lebih cerdas. Aku mungkin lemah, tapi kenyataan bahwa kau pergi untuk tidak pernah kembali membuatku semakin tidak pernah cerdas.

Aku ingat detik-detik sebelum itu. Kini, rasanya puzzle-puzzle yang telah ku susun bisa menjelaskan semuanya. Ending-nya, tentang kepergianmu. Terimakasih telah membuatku ingin menjadi cerdas, terimakasih telah meninggalkanku, dan terimakasih akhirnya aku (dipaksa) cerdas. Semua cinta dan benci tentang tempat itu mengubah hal baru dalam hidupku.

Aku, tidak lagi perlu membenci tempat itu, seperti yang sudah-sudah. Karena sekarang, rasanya sudah berbeda. Kau tau? Terkadang perjalanan bisa mengubah banyak orang, seperti kamu. Ku pikir, sekarang saatnya perjalanan mengubahku. Karena pada sesungguhnya, tidak ada yang perlu kita benci pada tempat ini. Ia hanya mengantarkan kepergian dan kerinduan dalam satu waktu, tanpa pernah ingin membuat orang-orang membenci. Entah aku harus mulai dari mana, tapi ternyata perjalanan ku masih panjang. Bukan, bukan entah harus mulai dari mana, tetapi mulai dari saat ini juga. Aku tidak lagi perlu menunggu seperti dahulu, karena sekarang yang kulakukan hanya cukup berjalan dan melihat ke depan.

Kau tau ku sebut apa tempat yang tidak lagi perlu ku benci saat ini?


AIRPORT
Bukan lagi tentang seberapa jauh kamu berjalan, tapi tentang perjalananku dalam menemukan