Showing posts with label Mine. Show all posts
Showing posts with label Mine. Show all posts

Sunday, January 14, 2018

Mine


Semenjak hari itu, saya cukup rajin, ralat, sangat rajin datang ke prodi menemui dosen. Membuat janji konsul ini itu. Bahkan, bukan hanya Doping 1 dan 2 saja yang saya repotkan. Saya justru melakukan aksi yang sedikit unik. Saya konsultasi dengan seorang penguji skripsi saya. Entahlah, apa yang ada di benak saya selama merasa ‘putus asa’. Sebut saja, dosen penguji saya adalah seorang dosen laki-laki muda yang begitu antusias dengan ‘diskusi’. Jadi saya benar-benar tidak menyianyiakan kesempatan. Bahkan saya sempat menceritakan target yang sedang saya kerjakan saat ini. Ia cukup antusias dan mendukung usaha saya. Jadi saya tambah bersemangat. Fighting.

Hari ini saya konsultasi dengan Doping 2. Kemudian saya pulang mengerjakan hasil konsultasi. Eh, tidak. Saya jarang mengerjakan skripsi dirumah kecuali saat saat tertentu. Saya memiliki tempat favorite, sebut saja sebuah laboratorium berukuran cukup besar, yang mampu menampung sekitar 20 komputer, kursi, meja dan orang. Bahkan disisi kanan dan kirinya masih ada space untuk beberapa orang duduk lesehan sambil menselojorkan kaki (orang itu adalah saya). Tempatnya nyaman sekali, sebut saja ‘statkom’. AC nya cukup dingin, mampu mendinginkan isi kepala yang panas setelah gagal konsul maupun mendapat PHP dari beberapa orang penting. Ya, setidaknya begitulah.

Selain tempat yang nyaman oke punya, laboran di sana baik. Saya sering memanggilnya ‘Bang D’. Jika sudah melihat raut wajah saya yang sedikit frustasi (atau bahkan frustasi sekali), Bang D selalu bertanya “Kenapa K?” Tanpa berpikir panjang saya langsung mengambil kursi di sebelahnya dan mulai bercerita panjang lebar. Sesekali ia menanggapi dengan serius atau bahkan bercanda.
“Jadi kok K bisa dengan dosen itu? Bukannya dengan dosen yang ini?” itu adalah pertanyaan dengan sebuah jawaban yang tidak pernah habis. Ada saja kesalahan di masa lalu yang tanpa sengaja menuntun saya ke titik ini.

Biasanya, Bang D hanya akan tersenyum dan tertawa kecil melihat kesulitan-kesulitan yang saya hadapi. Tentu saja, Bang D sudah melewati masa-masa seperti ini. Ya, pastinya ia tau betul bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa akhir. Tetapi, saya harus menekankan bahwa situasi apa yang saya alami berbeda dengan beberapa teman saya lainnya, bahkan ada situasi teman saya lainnya yang lebih rumit. Hmm begitulah masa menjadi mahasiswa akhir. Jika keluhan-keluhan mahasiswa akhir dikumpulkan bisa menenggelamkan bumi rasanya.

Oh iya, saya hampir lupa.
Jadi di tempat yang disebut statkom itulah biasanya saya dan teman-teman lainnya mengerjakan sebuah proyek yang luar biasa besar, sebuah proyek yang menentukan akhir dari sebuah perjuangan kuliah, sebuah proyek yang disebut SKRIPSI. Jadi, statkom menjadi salah satu tempat bersejarah saya dan teman-teman saya, dan bukan hanya kami saja, mahasiswa akhir lainnya pun begitu. Dan, tidak hanya sebatas tempat mengerjakan proyek besar, tempat tersebut juga menjadi salah satu tempat sejarah cerita bahagia maupun sedih. Dindingnya sudah menjadi saksi dan telinga bagi kami semua. Yang pasti, siapapun dan apapun yang kami tuangkan selalu ada orang-orang terbaik yang mau mendengar dan memberikan nasihat, setidaknya menjadi pendengar yang baik.

Let me photograph you in this light
In case it is the last time
That we might be exactly like we were
Before we realized
We were sad of getting old
It made us restless
It was just like a movie
It was just like a song
Adele - When We Were Young

Saya biasanya akan pulang sore hari, sekitar pukul 6. Kemudian kembali berusaha keras dimalam harinya. Seperti biasa, headset putih favorite (yang selalu berganti ketika rusak) menjadi teman sejati dengan list lagu dalam windows media player yang saya miliki hingga tengah malam. Ketika hari berganti, saya kembali ke kampus menemui dosen. Namun kali ini bukan Doping, melainkan Dosen penguji favorite saya, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Ada saja masukan positif dan hal-hal baru yang saya dapat darinya, apa itu dari segi penulisan, hasil penelitian yang saya peroleh, maupun hanya sekedar cerita pengalaman yang begitu bermakna.

Sesekali saya akan menimpali dengan pertanyaan seperti ini, “Pak, nanti Bapak tanya ini saja ketika saya seminar ya, ini maksudnya begini kan Pak?” atau justru sebaliknya ketika kami sama sama mengetahui ada yang tidak beres pada hasil saya. “Pak, saya sudah cari tau tentang ini, tetapi tidak ada referensi yang mengatakan begitu. Nanti jangan tanya tentang ini pas seminar maupun sidang saya ya Pak”, kemudingan saya nyengir bahagia berharap seorang penguji favorite yang saya repotkan menjawab ‘iya’. Sambil tertawa kecil ia menjawab “Tenang K, …”


To be continued

Sunday, December 31, 2017

Mine


Hari itu, yang pasti saya bahagia. Saya bisa menemani mereka disudut tribun dekat panggung. Setidaknya, begitulah.

Saya memutuskan untuk istirahat sejenak minggu itu. Setelah melewatkan hari yang cukup melelahkan dari senin hingga kamis. Namun, apa boleh dikata. Baru sehari saya meletakkan rasa lelah dalam kebahagian semu yang sederhana, Doping 1 sudah menyuruh saya menyegerakan hal-hal wajib. Ada deadline jurnal internasional dalam waktu dekat, 31 Agustus dan itu hanya tinggal 5 hari lagi.

Di sisi lain, saya sedang mengejar target untuk naik seminar hasil sebelum keberangkatan saya. Saya berencana akan naik seminar hasil di minggu ke dua bulan September, itu adalah 3 minggu kedepan namun harus selesai 2 minggu dari sekarang untuk mendaftar. Kemudian sidang di minggu ke tiganya. Waaaw. Entah apa yang saya pikirkan saat itu. Saya ingin segera mungkin mengakhiri ‘penderitaan’ dan bersenang-senang saat kegiatan SMP nanti.

Sambil membuat hasil, konsul sana – sini, saya pun mengerjakan jurnal yang Doping inginkan. Sabtu & Minggu yang saya rencakan untuk melihat deburan ombak harus saya batalkan. Saya memilih duduk didepan laptop dan menemui Doping untuk konsul hasil penelitian dan jurnal. Ini yang membuat unik, Doping 1 saya justru available saat weekend. 

Saya berubah drastis minggu-minggu itu. Bukan, bukan berat badan saya. Tetapi, wajah, mood, dan perasaan saya. Saya bahkan sudah jarang sekali meng-update lagu lagu terbaru di youtube seperti yang biasa saya lakukan. Untuk bertemu dan berpas-pasan dengan orang saja, saya bahkan sulit memasang wajah ramah seperti biasanya (ah, masak?). Hingga 1, 2 orang memberanikan diri berbicara pada saya. “K, kamu kenapa? Lagi banyak masalah?” atau “K, kok ngeri ketemu kamu akhir-akhir ini. Udah kurang ramah liatin saya. Kamu marah?”. Speechless saya mendengar komentar-komentar tersebut. Termasuk beberapa adik letting yang biasanya sangat akrab pun berkata demikian. Hmm, saya pun bingung.

Tepat 31 September saya meng-upload jurnal seperti yang Doping inginkan. Btw, itu adalah Annual International Conference (AIC) yang diadakan di kampus tempat saya berkuliah. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik, tetapi demi keberlangsungan kehidupan saya untuk seminar hasil, saya pun memenuhi permintaan Doping. Karena pada akhirnya saya belajar dari pengalaman, bahwa untuk mendapat restu darinya, saya harus melakukan permintaannya. Begitulah cara bekerjanya. Keep smile saja ya.

(Hei, apakah kalian pernah melakukan hal yang sama?)

Saya masih dilanda rasa was-was, tentu saja tentang ‘jadi tidak jadinya’ tentang target saya. Begitu selesai meng-upload jurnal dan selesai membuat hasil penelitian, saya langsung menghubungi Doping, namun kali ini Doping 2 yang selalu dan senantiasa saya repotkan. Hari ini saya membuat janji ingin menemuinya, kemudian ia langsung mencorat-coret lembaran-lembaran tersebut dihadapan saya. Setelah cukup paham, dengan tenaga dan keberanian yang entah dari mana saya langsung bertanya “Bu, ini langsung saya revisi. Apakah Ibu besok ada waktu, saya ingin konsul hasil revisian kembali.” (Btw, Doping 2 saya adalah seorang Ibu). Cukup beberapa detik untuk memikirkan niat dan pertanyaan saya (mungkin dalam hati sudah bertanya-tanya, ‘ini mahasiswa niat sekali ngerjain skripsinya’) kemudian ia memberi jawaban “Baik, besok pukul 12”. ‘YES’ saya berteriak bahagia dalam kecil, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di raut wajah. Sesaat, ia hanya tersenyum melihat wajah bahagia saya.

To be continued

Wednesday, November 22, 2017

Mine


Saya semakin deg-degan, menanti hari yang kelak akan saya lewati. Tetapi disela-sela waktu tersebut, saya dan 3S lainnya sepakat untuk bertemu dan merancang sebuah kejutan untuk salah satu S yang akan berumur 22 tahun. Kamipun bertemu disuatu minggu, 19 Agustus dengan alasan: saya akan belajar presentasi untuk prepare seminar proposal.

Senin, 20 Agustus 2017, Saya pun naik seminar proposal. Tidak buruk, saya berhasil melewati tahap tersebut dengan baik. 3S tetap setia mendampingi saya, menemani saya loncat-loncat karena rasa grogi, menggeleng-gelengkan kepala melihat saya yang mulai panik. You already made my day better.
Setelah naik seminar proposal, saya kembali terjun pada aktivitas latihan padus, yang tinggal 2 hari lagi.

Esok harinya (selasa), 3S dan teman lainnya yudisium. Saya siap dengan kamera andalan, mengabadikan momen yudisium dalam bentuk foto dan video –mengambil beberapa gambar bahagia. Menit-menit berlalu, saya sibuk memotret mereka, tanpa ada yang meminta untuk berfoto dengan saya (sedih sekali). Hingga saya tiba memotret 3S. Jepretan pertama, saya baik-baik saja. Jepretan kedua, mata saya berair. Jepretan ketiga, saya menyerah (bahkan saat menulis ini sambil membayangkan momen itu, saya tidak sanggup). Saya gesit menghapus embun-embun tersebut, hingga 3S akhirnya mengajak saya berfoto.

Kalau kata quote yang bertebaran itu “We don’t remember the day, we remember the moments”
Saya benar-benar ingin mengabadikan moment, apa saja, bentuk gambar, video, percakapan. Karena, entah kapan itu, saya akan benar-benar merindukan sebuah moment hingga meriang (merindukan kasih sayang).

Saat hari Rabu dan Kamis, saya bersama teman-teman tim padus lainnya perform, tepat di tribun sisi kanan ditempat biasa. Dari sana, saya dapat menyaksikan seluruh wajah-wajah bahagia, yang segera mencabut statusnya sebagai mahasiwa. Di sana pula, saya menyaksikan kursi yang diduduki oleh 3S. Sempat terpikir didalam benak saya ‘seharusnya, saat ini saya sedang duduk disalah satu kursi tersebut, disalah satu sisi 3S.’ (Cryiiiing). Beberapa menit kemudian sayapun segera menepis rasa tersebut

Adakah yang bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat sahabat-sahabat terbaikmu lulus, sedangkan kau hanya memandangnya dari kejauhan sambil memimpikan beberapa hal dan menelusuri ribuan kata ‘ANDAI’? Atau, adakah yang bisa tetap tersenyum melihat tawa-tawa bahagia sahabat mu yang selama ini selalu beriringan bersamamu, kemudian mengambil kamera dan memotret momen bahagia tersebut?

Ada.
Saya memilih yang kedua.
Tidak ada lagi yang perlu disesali. Sebaik-baik rencana, matang dan mapan sekalipun, jalan yang Tuhan berikan jauh lebih indah. (Gaya sekali menulis seperti ini. Dulu, hati terasa mati).
Ada, setidaknya meski saat ini saya tidak menempati kursi kursi tersebut, saya bisa tersenyum dengan bangga memiliki teman-teman hebat seperti 3S dan lainnya. Saya senang, bisa mengambil video dari spot ter-cakep selama proses wisuda, saat satu persatu teman angkatan dipanggil dan dibagikan ijazahnya.


To be continued

Sunday, November 19, 2017

Mine


*1 hari sebelum pengumuman tiba

Saya sedang duduk sambil bermain hp, saat itu saya akan mengikuti latihan rutin untuk perform pertengahan Agustus, wisuda ronde Agustus. Tiba-tiba sebuah nama tertera dilayar hp, memanggil. Saya menjawabnya, kemudian percakapan diantara kami pun dimulai, kurang lebih seperti ini:
“K, begini (eeng iing eengggg). Nilai kamu sebenarnya bagus-bagus, tetapi untuk masuk dalam kategori program ke Jepang masih kalah saing dengan mereka. Bagaimana jika kamu saya luluskan di program Thailand saja?” hening sesaat (saya yang hening, bukan beliau). Kemudian saya kikuk sejenak.
“Eh iya, (kikuk). Thailand, boleh.” Saya benar-benar tidak bisa berekspresi saat itu.
“Kok boleh? Mau atau tidak?” Tanyanya kembali memecah ke-kikuk-an saya.
“Boleh dan mau” jawab saya cepat dan kikuk-pun hilang seketika.


Dan begitulah, nama saya dan A masuk ke 11 mahasiswa SMP, A berhasil meraih mimpinya ke negara Jepang, dan saya berhasil meraih jawaban Tuhan atas segala rasa kegagalan yang pernah saya alami. Dan disanalah, pada akhirnya saya seperti menemukan hidup yang selama ini telah hilang. Melupakan kekecewaan yang pernah ada, menggantinya dengan senyuman.

Ini benar-benar titik kehidupan saya dimulai, garis seperti apa yang akan saya torehkan dalam setiap lembaran hari yang saya lewati. Dari sana, saya justru menemukan banyak hal, belajar banyak hal.
Yang dulunya, saya selalu dinomor 10-kan oleh doping setiap mengerjakan tugas akhir, sekarang justru menjadi mahasiswa yang ditunggu-tunggu draf serta revisiannya.
Yang dulunya, saya hanya sekedar mencoba mewujudkan impian orang tua, sekarang menjadi anak yang mencoba memberikan apa yang terbaik, bukan hanya sekedar harapan tetapi jawaban.
Yang dulunya, akan ngomel-ngomel dan kerap kali merasa kecewa, sekarang justru melihat sebuah jawaban dari setiap kekecewaan.

Dari sana, akhirnya saya benar-benar menulis draf proposal Tugas Akhir saya. Saya sampai harus merepotkan salah satu “S”, karena saya sedang mengejar target, jadi saya menginap di kos S. Dibantu dengan S lainnya, saya berhasil menyiapkan draf proposal, Bab 1-3 hanya dalam 3 hari dua malam di kos S, dan diperpustakaan. See, 3 hari tersebut saya benar-benar fokus dan menyelesaikan apa yang sudah seharusnya saya selesaikan jauh-jauh hari. Saya benar-benar merepotkan kalian S, dalam 3 hari. Terimakasih banyak, masih setia dan tetap membantu saya hingga dititik ini. Saya bangga memiliki kalian. Bagian terfavorite saya adalah saat :
“S, ini translate ke bahasa indonesianya bagaimana?”
“S, ini rumus yang untuk ini bisa begini?”
“S, cara buat nomor bisa diujung ini bagaimana?”
“S, antar paragraf ini enggak cocok, enggak nyambung. Tambahin apa ya?”
Dan sederet keluhan-keluhan lainnya.

Saya seperti memecahkan rekor baru dalam kehidupan saya sendiri, hanya 3 hari. Setelahnya saya langsung konsul dan melakukan revisi pada beberapa bagian. Hanya menghitung hari, saya langsung daftar seminar proposal. Untuk beberapa saat, saya break melakukan aktivitas seperti latihan untuk perfom paduan suara (Padus) bulan Agustus. Saat itu saya masih egois. Saya harus tetap tampil dalam perform tersebut, mengapa? Karena lagi-lagi, saya percaya pada “ketika mimpi mu gagal, maka jangan biarkan ia menguap begitu saja, gantilah ia dengan mimpi yang baru”.
Ketika saya bermimpi untuk bisa wisuda bersama 3S Agustus ini, kemudian gagal, saya menggantinya dengan hal lain. Saya bertekad, untuk tetap ikut tampil Padus  pada hari wisuda. Setidaknya, saya bisa melihat tawa bahagia di hari bahagia mereka. Tidak rumitkan?

Sebelum 21 Agustus, ….


To be continued

Wednesday, November 8, 2017

Mine



“Student Mobility Program”.
Program tersebut akan dilaksanakan awal bulan September, dan saat itu masih awal bulan Agustus. Ada dua negara yang dibuka untuk Student Mobility Program (SMP) tersebut, Jepang dan Thailand. Saya dan A sama-sama memilih negara Jepang. Harapannya, kami bisa lulus bersama.

Kenapa Jepang?
Entahlah, mungkin karena saya terlalu ngebeut ingin melihat pohon sakura. Atau mungkin karena saya ingin bertemu negara 4 musim, atau mungkin juga karena Jepang memiliki tradisi yang unik. Bicara masalah musik dan lagu, atau bahkan movie, saya lebih tertarik dengan negara Jepang. Jepang memiliki Yui, penyanyi favorite saya sejak duduk di boarding school (SMA). Dan bahkan saya menyukai beberapa instrument musik jepang seperti Kitaro atau instrument melow pada ost. 1 litre of tears.

Bicara Jepang, saya juga akan membayangkan “Doraemon”. Kartun favorite, yang penuh imajinasi. Harapannya bisa bertemu dengan Doraemon, kemudian memintanya mengeluarkan beberapa alat dari kantong ajaibnya. Waw, imajinasi sekali bukan. Bagian favoritenya adalah saya paling termehek-mehek dengan “Stand By Me” Movie. 3 kali nonton kartun tersebut, 3 kali saya tetap bersedih. This is me.

Begitulah.

S3 bertanya pada saya,” K, ikut program SMP ya? Kami liat nama K di daftar seleksi mahasiswa”
Saat itu saya tidak menceritakan kepada siapa-siapa tentang apa yang tengah saya perjuangkan. Entahlah, saya khawatir terlalu banyak dukungan tetapi akhirnya mengecewakan. Saya bilang pada mereka yang saat itu tengah mengurus berkas yudisium dan wisuda.
“Ya beginilah, saya pernah bilang sama kalian. Kalau mimpi saya gagal, mewujudkan keinginan orang tua dan bisa wisuda bersama kalian, saya enggak akan menyerah. Saya akan mengganti mimpi tersebut dengan mimpi lainnya. Dan sekarang, inilah mimpi saya. Ikut SMP. Dan jika ini gagal lagi, seperti mimpi-mimpi sebelumnya, saya akan menciptakan mimpi yang baru, lagi.”
Mereka menepuk pundak saya sambil menyemangi “Semoga lulus ya, K”. Saat itu, I, yang sedang berada bersama mereka ikut menyemangati saya. I, sosok yang pernah menjadi inspirasi saya, bahwa berkali-kali jatuhpun hidup tetap harus berlanjut. Saya kagum pada kedewasaan I menghadapi semua jatuh bangun dalam hidupnya.

Perjuangan pun dimulai, dari deadline berkas peserta hingga pengumuman untuk seleksi wawancara. Saya belajar banyak dari A (A belajar dari temannya lagi)  bagaimana trik trik melewati tahap wawancara tersebut. Hingga kami tiba di suatu pagi yang gugup (mungkin hanya saya saja, tidak dengan A). Kami mulai berbagi aneka ragam jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan. Hari itu tepat tanggal 27 Juli 2017.
“Semoga ini menjadi hari yang lucky ya, K.” A menyemangati, ia tau bahwa saya sangat gugup. Kemudian kami menuju ke ruang wawancara. Belum genap langkah kami berjalan, seorang teman menginformasikan bahwa jadwal wawancara diundur menjadi beberapa hari kedepan. Peserta dibagi menjadi beberapa grub dengan jadwal hari dan jam wawancara yang bebeda-beda. Kamipun bergegas ke mading melihat jadwal yang ditentukan. Saya dan A mendapat grub wawancara paling akhir, di hari dan jam paling akhir pula.

Hari H pun datang, saya dan A fokus dengan apa yang sedang menjadi mimpi kami.

Proses wawancara.
Saya masuk lebih dahulu dari A, sedangkan A masuk paling akhir dari yang terakhir (ngerti?). Setelahnya, wajah kami sama-sama tersipu melepas sedikit beban wawancara. Mengingat keunikan pertanyaan yang diajukan. Benar-benar tidak ada dalam skenario yang telah kami pelajari selama beberapa hari ini. Langkah selanjutnya, kami hanya berdoa.

Sambil menunggu pengumuman tiba, saya pun menyibukkan diri dengan aktifitas seperti belajar mendesain. A mengajari beberapa tools pada CDR (Corel Draw). Akhir-akhir ini kami lebih sering menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal meyenangkan, tanpa memikirkan mimpi-mimpi yang seharusnya sudah kami raih seperti teman-teman lainnya. Terlebih lagi, A memang memiliki passion pada desain dan tentu saja, ia sangat berbakat. Ternyata melakukan hal-hal seperti itu cukup menyenangkan, tidak pernah ada beban.
Hari pengumuman pun tiba.
Nama A dan saya tertera di 11 nama mahasiswa SMP, tetapi…


To be continued

Friday, October 20, 2017

Mine

“Beberapa orang akan bertahan, sebab mereka percaya pada harapan”
Kalau kata orang, ‘kita tidak akan pernah tau sebuah akhir jika kita tidak pernah memulai – tidak pernah melewati proses’.

Berbicara proses, saya akan menulis bagian “Mine” yang pernah saya janjikan dahulu.

Memasuki Tahun Kelima
Saya ingin berhenti dari segala hal, berhenti bermimpi.
Saya pernah bilang, saya tidak bisa dikecewakan. Karena ketika dikecewakan, saya justru akan kecewa pada diri sendiri. Saya kecewa, karena ternyata saya terlalu berharap, saya kecewa karena ternyata dari banyak orang yang lebih pantas membuat saya kecewa kenapa harus dia yang membuat saya kecewa.

Kemudian saya berhenti. Berhenti menjadi diri saya sendiri.

Saya masih ingat, waktu itu sentuhan lembut di bahu saya seraya berkata “yang sabar ya” justru membuat saya berlari dan menyendiri seorang diri. Tak saya hiraukan panggilan teman-teman lainnya, yang saya butuhkan saat itu hanyalah menyembunyikan semua luka sendiri. Saya masih memiliki hobi favorite, mengendarai motor melewati jembatan A menuju jembatan B, kemudian kembali ke jembatan A sambil menjernihkan pikiran. Atau sesekali saya akan menyapu sudut mata yang basah dengan deru ombak dan hembusan angin yang bisa membuat saya lebih tenang. See, saya selalu punya cara membuat diri menjadi lebih baik, seakan tidak terjadi apa-apa.

Awal Tahun Kelima
Saya tak lagi peduli pada apa yang membuat saya harus bersedih saat itu. Bagi saya, mengingat luka justru membuat saya semakin sulit melangkah. Menjadi sedikit lebih ego, itulah diri saya saat itu.
Melihat satu persatu mimpi teman-teman mulai terjawab, bukan justru memotivasi saya untuk menyamai kedudukan mereka. Saya justru asik bermain dengan ‘dunia lain’. Saya mulai lebih rajin melakukan hunting foto, beberapa kali mengikuti event lomba foto dan beberapa diantaranya mendapat penghargaan. Saya juga lebih sering membuka software mengedit video ketimbang software mengolah data. Sesekali saya juga diajari menggunakan software untuk mendesain. Percayalah, saya benar-benar tidak peduli pada itu semua saat itu.

Saya rasa, itu salah satu bentuk pelampiasan saya pada sebuah kegagalan. Mengasah hal-hal kreatif yang sejak dulu ingin saya tuangkan, tetapi tidak pernah ada ruang. 

“Ada dua keuntungan dari kegagalan. Pertama jika kamu gagal, kamu belajar menemuan apa yang tidak bekerja didalam dirimu. Kedua, kegagalan memberi peluang mencoba jalan lain” – Selebgram Movie

Tenang, saya bukan tipikal orang yang berubah berantakan ketika menuai kegagalan. Saya justru percaya pada “ketika mimpi-mimpimu hilang, jangan biarkan ia menguap, tetapi gantilah ia dengan mimpi-mimpi yang baru”. Dan belajar menemukan apa yang selama ini tidak bekerja didalam diri saya, itu yang ternyata sedang saya lakukan tanpa saya sadari. Serta, memberi peluang mencoba jalan lain, itu pula yang ternyata saya dapatkan tanpa saya rencakan.

Dan disanalah saat itu saya duduk dengan seorang teman baik, sebut saja namanya A. Percakapan kami pun dimulai.
“A, ikut ini yuk” saya menunjuk sebuah gambar brosur dari hp saya.
“Apa ini?”
Kamipun berdiskusi.
“Kita punya satu kesamaan loh, sama sama tau rasanya ditinggalin oleh sahabat kita.” Ucap saya waktu itu dengan nada minor dan tatapan seakan menerawang masa lalu. A hanya tertawa.
“Beda. Kalau kamu ditinggalin tapi sudah pernah memulainya bersama mereka. Aku ditinggalin, tapi belum pernah memulainya sedikitpun.” jawabnya. Saya diam sesaat, memikirkan jawabannya.
“Benar juga sih. Ah, intinya kita sama-sama ditinggalin.” Saya tidak mau kalah. “Jadi, kita ikut ini yuk,..” dan percakapan kami pun berlanjut.


Tau apa yang akan kami ikuti?

To be continued

Saturday, July 15, 2017

Mine

Dear S^3.

Jika kelak akan ada jarak, saya harap itu hanyalah sebuah ujian. Bagaimana kita dapat mengimplementasikan sebuah bentuk “persahabatan” menjadi suatu realita arti sahabat, bukan hanya sekedar tinta tinta kosong dalam lembaran hari-hari kita.
Jika memang kelak akan ada jarak, saya harap tidak pernah ada tirai tipis yang memisahkan ‘jarak’ kita. Agar sesuatu yang kita sebut karunia terbaik dari Tuhan, sahabat, tidak akan mampu mengubah memori-memori indah menjadi sebuah penyesalan, sebuah kekecewaan.

7 Juni
8 Juni
12 Juli
Selamat, tanggal-tanggal tersebut telah tergantung indah dilangit-langit mimpi kalian.
Saya?
Tanggal tersebut masih bergantungan jauh, entah dilangit yang mana. Berkali-kali saya gapaipun, tanggal tersebut tak kunjung hadir.

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.” – Winna Efendi, Refrain

Can we did it? Mempertahannya…

Tahun pertama.
Semuanya masih biasa saja, bahkan kita tidak sekelas. Hanya ada tegur sapa layaknya sebuah pertemuan. Hari demi hari, beranjak hingga bulan demi bulan. Kamu, kamu, kamu dan saya perlahan menjadi kita. Saat itu, kita sering pulang istirahat dari kampus disalah satu kos/rumah, kemudian mengerjakan tugas-tugas kalkulus yang begitu rumit, atau hanya sekedar menonton film di laptop.

Tahun kedua.
Pada tahun ini, kita semua mengambil mata kuliah di kelas yang sama. Kita selalu senang duduk beriringan. Tidak pernah absen mengerjakan tugas bersama-sama. Pergi ke kantin bersama, ke perpustakaan bersama, boncengan motor bersama, dan sekian-sekian kegiatan lainnya. Hingga, pada suatu titik kita mulai merasakan sesuatu yang berbeda, dipenghujung tahun kedua. “Persahabatan” kita diuji oleh sesuatu. Saya dan kamu, mencoba mengimbangi langkah kita bersama, meskipun saat itu kamu dan kamu bahkan tidak lagi terlihat beriringan. Mengingat memori tersebut, seakan mengerjakan tugas kalkulus integral pangkat 3. Benar-benar rumit. Hanya kita yang memahami apa yang sedang kita jalani, apa yang telah kita lewati, dan apa yang akan kita lalui. Pada akhirnya, kamu, kamu, kamu, dan saya tetap menjadi kita. Kita berhasil memecahkan integral pangkat 3 tersebut, saya bangga.

Tahun ketiga.
Setelah melewati tahun kedua yang sedikit berat, kita sampai di tahun ke tiga. Dimana semua mata kuliah terasa lebih berat, praktikum yang cukup banyak, dan tugas yang lebih luar biasa. Tahun itu, pertama kalinya kita menjadi kakak asisten J. Saya dan kamu diterima menjadi asisten mata kuliah ini, sedangkan kamu dan kamu diterima menjadi asisten di mata kuliah lainnnya. Kita ber4 berpasangan di mata kuliah yang sama. Kemudian dengan wajah begitu berseri, diakhir tahun kita  mengambil honor asisten pertama. Semester selanjutnya kita kembali menjadi asisten, meskipun tidak di mata kuliah yang sama. Tahun ketiga ini juga menjadi tahun yang sedikit berat untuk saya. Sebelum akhir tahun ke tiga, saya sempat mengalami kecelakaan (padahal saya tidak suka balapan -_-). Saya harus bolak balik tempat urut beberapa hari sekali. Bahkan saya harus selalu diantar ke kampus, karena tidak bisa membawa motor lagi. Dan kalian, yang selalu memperhatikan saya waktu itu. Mulai dari menjemput saya dari parkiran pagi hari ketika diantar oleh Mamak, duduk disekitar kiri kanan saya agar dapat menjaga saya dari serangan-serangan tak terduga, misalnya seseorang tanpa sengaja menyenggol tangan saya yang terkilir. Kemudian saya akan berteriak dikelas ketika serangan tak sangaja mendarat di tangan saya yang belum pulih itu, tak peduli ada dosen atau tidak. Siang hari, kalian akan memboncengi saya menuju tempat makan atau kos-kosan salah satu dari kalian. Memerhatikan pola makan siang saya, jika bisa kalian juga akan menyuapi saya (hehe). Sore hari, seperti biasa, kalian senantiasa menunggu saya dijemput oleh Mamak selepas perkuliahan. Begitu mengharukannya 1 bulan lebih itu. Benar, 1 bulan lebih saya tidak menyatukan jiwa dan raga dengan motor abu-abu favorite itu L

Tahun keempat.
Tahun keempat ini, terasa begitu banyak duka. Ada saja duka yang silih berganti. Sebelum masuk ke bagian dukanya, kita melalui masa-masa KKP (Kerja Kuliah Praktek). Lagi lagi, karena kita berempat, kita menyusun strategi “dua-dua”. Saya dan kamu melaksanakan KKP di tempat A, sedangkan kamu dan kamu melaksanakan KKP di tempat B. Sesekali, kita akan bertemu dan bertukar cerita mengenai KKP tersebut. Dan detik-detik masa duka pun dimulai. Saat itu, saya sedang, hmm bagaimana menyebutnya ya, intinya saya dilanda masa-masa down oleh kenangan buruk. Saya sering membawa motor sambil melamun, sesekali nyaris menyenggol pengendara disekitar, atau bahkan nyaris merenggut nyawa gara-gara hilang kendali. Bagian yang terkadang masih menjadi favorite saya sampai saat ini adalah mengendarai motor melewati jembatan A menuju jembatan B, kemudian kembali ke jembatan A sambil menikmati pemandangan sekitar (read: sambil mencari ketenangan). Bila masih bosan, saya akan kembali ke jembatan B kemudian kembali lagi ke jembatan A, begitu seterusnya. Masa-masa itu, terasa benar-benar berat. Sesekali saya suka bolos kuliah (meskipun mata kuliah tidak banyak lagi). Bahkan berkali-kali saya memilih tidak fokus dengan kuliah. Saya memilih kegiatan-kegiatan aktif diluar perkuliahan, misalnya ikut kegiatan ini, penampilan itu, membuat projek ini, melaksanakan itu. Hingga saya tiba dititik menjadi orang yang nyaris terlambat menyerahkan laporan KKP akhir semester. Tetapi, apapun yang terjadi dengan saya waktu itu, kalian selalu ada. Belum selesai berita duka yang akan berhasil saya lalui, berita duka lainnya datang dari kamu. Saya masih ingat dari seberang sana, suara serakmu berkata bahwa kamu telah kehilangan orang yang kamu sayangi. Saya hanya bisa diam saat itu, kemudian menangis. Tidak ada kata-kata ‘harapan’ yang keluar dari mulut saya. Satu penyesalan terburuk, saya tidak bisa ada disisi kamu di saat saat seperti itu, saya begitu menyesal. Padahal, kamu selalu ada untuk saya.

Semester awal tahun keempat sudah kita lewati. Saya selalu bersyukur, bahwa kamu, kamu, kamu dan saya masih menjadi kita sampai saat ini. Tahun ini kita bermimpi bahwa ini akan menjadi tahun terakhir kita bersama dibangku kuliah. Kita akan lulus bersama, meskipun kamu, kamu dan kamu sudah lebih dulu memulai apa yang sudah seharusnya dimulai, sedangkan saya baru saja memulainya. Baru beberapa saat memulai, saya sadar bahwa saya sudah ‘terjebak’ dilingkungan yang berbeda. Lingkungan yang tidak akan pernah kalian rasakan. Karena sudah terjebak didalamnya, saya berusaha mencari jalan keluar, namun terlalu beresiko. Saya pun memilih bertahan. Saya sadar, waktu itu hubungan kita seperti sedikit renggang. Mungkin karena kita (saya) merasa bahwa jalan kita sudah berbeda. Ada hal-hal yang selalu coba saya sampaikan, tetapi tidak pernah ada ruang. Pada akhirnya saya memilih mundur dari mimpi kita bersama. Saya pikir, begitu lebih baik, akan ada ruang yang lebih untuk kalian melanjutkan mimpi-mimpi tersebut.

Dan disinilah saya, sedang menulis kalimat-kalimat ini sambil sesekali menghapus embun-embun yang membuat kabur pandangan saya. Terkadang saya selalu menyesal dengan pilihan-pilihan yang sudah saya pilih. Tetapi, beginilah hidup adanya bukan. Hidup, ya tentang pilihan-pilihan itu, tentang segala sesuatu yang harus kita terima segala resikonya. Dan saya masih di sini, menerima segala resiko-resiko itu, sambil mengganti dan menunggu mimpi-mimpi lainnya. Jadi, tak perlu khawatir. Saya bukan (lagi) tipikal orang yang mudah menyerah pada sebuah kegagalan mimpi. Karena seseorang pernah berkata pada saya, “Ketika mimpi mu hilang, gantilah mimpi tersebut dengan mimpi lainnya, jangan biarkan ia menguap begitu saja”.

Jadi, selamat untuk kalian, orang yang pernah ada dan akan selalu ada di saat saya bahagia maupun terjatuh sekalipun. Mungkin, tulisan tahun keempat saya akan berakhir disini. Karena tidak ada lagi cerita kita bersama ditahun kelima bukan? Tidak apa-apa. Biar saya yang menikmati tahun kelima ini sendirian, meski tanpa kalian. Tunggu saya dimimpi-mimpi yang akan saya ciptakan kembali ya S^3.

Tahun kelima.
Ada yang ingin saya katakan sebelum saya benar-benar melalui tahun kelima ini sendirian. Berapa 4-1? atau berapa 4-3? Tak masalahkan 3 atau 1, bila dijumlahkan 4 juga. Semoga, angka 3 dan 1 ini bisa selalu kita jumlahkan bersama tanpa ada pengurangan. Do’a kan saya, semoga tanggal seperti yang sudah tergantung indah dilangit-langit mimpi kalian bisa segera saya gapai.

Dan, entahlah. Apa suatu hari nanti saya akan menulis bagian “Tahun kelima” ini, tanpa kalian.

Terima kasih, sudah benar-benar melengkapi masa 4 tahun perkuliahan saya. Sahabat sampai mati, sampai surga, Aamiin.

Salam Rindu, K, yang masih bingung ingin melalui tahun kelimanya seperti apa.