Friday, January 10, 2014

Still (Part 2)

Aku mengambil eskrim dari tangannya. Kemudian mulai mencicipinya, rasa wafer coklatnya begitu kental. Aromanya juga sungguh mirip dengan wafer wafer coklat biasanya. Ternyata aku tertipu oleh senyum jahilnya. Ok, untuk sekarang kita punya skor yang sama. Yaitu satu sama. Kau berhasil membuatku menjadi orang bodoh untuk beberapa saat. Tetapi tunggu saja, lain kali kau yang akan ku buat bodoh dihadapanku. Mungkin sebodoh aku saat ini. Aku tersenyum penuh kejahilan juga setelah di tertawai habis habisan olehnya.

Langit mulai terlihat setingkat lebih mendung. Awan awan kelabu mulai berkumpul membentuk tim tim yang lebih besar. Langit biru kini hanya tinggal serpihan dicelah celah yang sudah tertutupi awan kelabu. Aku hanya memandang, menerawang kosong ke atas sana. Mungkin aku berharap agar hujan tidak turun terlalu cepat. Aku masih ingin disini, menikmati sisa sisa eksrim ku, memandangi air pancuran yang memercik memenuhi kolam, menghirup udara segar sore ini, bersamanya.

“Hei, ngomong ngomong eskrimmu mulai mencair. Kau hanya ingin memelototinya saja?” kata ku sambil menjilat bagian eskrim terakhir ku setelah beberapa saat menikmatinya. Ada sedikit perasaan sedih karena aku harus mengakhiri masa masa menikmati eskrim ini. ‘Seharusnya aku membeli dua tadi.’ Pikirku mulai berangan angan dan membayangkan bahwa saat ini aku sedang membuka bungkusan plastik eskrim satunya lagi. ‘Kress kress…’ bunyi plastik eskrimnya. Kemudian secuil cokelat lapis yang dingin berasap asap mulai nongol pada bagian atas plastik eskrim tersebut. Ah, andai saja. Aku memalingkan wajah kearahnya, menyenggol lengannya. Ia masih seperti patung. Mematung, memandangi eskrimnya, mungkin benar benar sampai meleleh.

“Hei, kau tidak menggubrisku. Sampai kapan kau akan memandangi eskrim tersebut. Ayolah segera dimakan. Keburu meleleh eskrimnya tau.” Kata ku gemas. Sungguh. Karena aku sangat ingin, ingin sekali merampas eskrim tersebut dari tangannya dan segera melahapnya hingga tiada tersisa. Tapi tentu saja aku tidak akan melakukannya. Aku tau. Sesaat kemudian ia menatapku, aku juga menatapnya. Tetapi, kali ini yang kulihat bukanlah dirinya saat beberapa menit lalu yang terlalu bahagia mengerjaiku. Matanya sendu, kelam, seolah memancarkan bagian dirinya yang sedang terjatuh dalam gua hitam yang begitu gelap, seolah dirinya hanyut bersama palung yang menariknya hingga terkubur didasar laut. Matanya benar benar sepi. Ia hanya tersenyum tipis, sedikit, padaku.

“Kamu kenapa?” aku mulai was was. Khawatir ia sakit atau kenapa kenapa. Apa karena eskrim rasa wafer cokelat ini? Ah tidak mungkin. Aku sudah mencicipinya juga, dan sekarang aku masih terlihat sehat sehat saja. Ada apa dengan dirinya? Apa yang terjadi padanya? Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, masalah. Ah ya, mungkin benar. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya sejak awal. Inilah yang dia lakukan beberapa saat setelah bersama ku, seperti hari hari sebelumnya. Hari hari ketika ia berhasil mengajakku dan menemaninya, menemani lukanya, seperti ini. Aku terlena oleh kenikmatan eskrim sore ini, sehingga tidak bisa membacanya. Sayang.

Dia masih diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menatapku. Sedikit canggung ditatap olehnya, aku pun segera memikirkan kata kata yang bisa ku ucapkan, tanpa melukainya. Begitu banyak kata kata yang bermain dan berlabuh dalam kepalaku, aku semakin bingung. Namun waktu terus mendesak ku untuk mengeluarkan kata kata apa saja yang terlintas dalam pikiranku.

“Kau tau, obat bisa menyembuhkan luka. Mungkin, kau bisa mencarikan obat itu untuk menyembuhkan lukamu, akupun bisa membantumu jika kau mau.” Itu kata kata yang sedang terlintas dikepalaku, aku tak sempat menyortirnya lagi, apakah ada kesalahan dalam kalimat itu atau tidak. Waktu dan tatapannya terlalu memaksaku. Dia masih terdiam, kemudian memalingkan wajahnya dari ku. Ia menundukkan wajahnya hingga aku tak bisa melihat ekspresinya kembali, ia melihat rerumputan di bawah kakinya, mungkin melihat ulat ulat kecil yang sedang memakan rumput rumput hijau tersebut.

“Kau benar, luka bisa disembuhkan dengan obat.” Ia menjawab sebentar. “Tetapi, tidak semua luka punya obatnya.” Aku terdiam mendengar ucapannya yang samar dengan suara yang lebih serak dari sebelumnya. Ia masih saja menundukkan wajahnya. Aku benar benar kesulitan melihat wajahnya. Apakah ia menangis?

Isi kepala ku kembali bermain dengan kata kata, sesak disetiap sudutnya, tidak memberikanku ruang untuk berpikir. ‘Mungkin kau benar, tidak semua luka memiliki obatnya’ gumamku dalam diam. Aku mulai menyalahkan diriku, kenapa harus mengeluarkan kata kata yang sebelumnya ku ucapkan padanya? Jelas saja itu salah, salah besar setelah Ia menyangkalnya.

“Mungkin, luka ku tidak punya obatnya.”

“Ya tetapi kan tidak ada hal yang menutupi kemungkinan bahwa lukamu tidak memiliki obatnya”

“Aku lelah, luka ini begitu sakit. Luka ini tidak ada obatnya.”

“Ssstt.” Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirku. “Sudahlah, kita cari sama sama obatnya, pasti ada.” Aku berusaha meyakinkannya, meskipun aku sendiri tidak begitu yakin setelah ia mengatakan tidak semua luka memiliki obatnya.

“Kamu tidak perlu meyakinkan aku kalau kamu sendiri tidak yakin.” Ia tersenyum sedikit setelah mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak tadi. Ada luka yang ia tutupi di balik bola matanya, kepedihan.

“Oke, baiklah. Maafkan aku. Sekarang, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” aku ingin sedikit lebih mengalah padanya.

Ia memandangku. “Kamu…” ia berhenti sejenak. Penasaran mulai mencerca batinku, menunggu kalimat yang akan disambungnya.

“Belikan aku eskrim lagi…” tawanya pecah disusul keluguan wajahku yang teramat polos. Aku hanya mematung dengan mulut terbuka, persis orang penyakitan saraf.

“Kenapa bengong? Ayo belikan aku eskrim lagi. Tadi katanya ingin melakukan sesuatu untuk ku.” Ia mulai tersenyum jahil. Aku benar benar bingung dibuat olehnya.

“Kamu kenapa tiba tiba berubah jadi periang seperti peri gigi?” aku tak sanggup menahan perasaan kagum ku padanya. Kagum kenapa? Karena ia berbakat jadi bintang sinetron. Begitu mudah memasang ekspresi wajah sesukanya. Seperti saat ini. beberapa menit yang lalu, aku membaca sinar duka dari sorot wajahnya, tetapi sekarang, aku malah melihat kejahilan yang biasa ia lakukan padaku. “Kamu tidak bersedih lagi?”

“Wajah kamu itu polos kali ya, pakai cream malam merek apa?”
Aku kembali mematung

“Setiap malam kamu pakainya?”
Aku masih mematung

“Ada efek samping dari cream yang kamu gunakan?”
Dan aku masih saja mematung.

“Hai, diam saja diajak bicara.” Ia menjentikkan tangannya tepat di depan wajahku, membuat aku sadar dari lamunan. Sejujurnya bukan lamunan, tetapi kenyataan. ‘lihatlah pria dihadapan ku ini. Aku khawatir pikirannya sudah sedikit terganggu. Ia begitu freak dan sulit untuk ditebak.’ Batinku pada diri sendiri setelah tersadar.

“Kamu yakin, tidak apa apa?”

“Hei hei hei, maksud kamu apa? Kamu pikir aku sudah gila? Hahaha” ia tertawa. “Tenanglah, aku masih baik baik saja kok.”

“Kamu baik baik saja, aku nya tidak”

“Kenapa?”

‘Aku juga terluka, sama seperti mu’


Continued

No comments:

Post a Comment