Aku
mengambil eskrim dari tangannya. Kemudian mulai mencicipinya, rasa wafer
coklatnya begitu kental. Aromanya juga sungguh mirip dengan wafer wafer coklat
biasanya. Ternyata aku tertipu oleh senyum jahilnya. Ok, untuk sekarang kita
punya skor yang sama. Yaitu satu sama. Kau berhasil membuatku menjadi orang
bodoh untuk beberapa saat. Tetapi tunggu saja, lain kali kau yang akan ku buat
bodoh dihadapanku. Mungkin sebodoh aku saat ini. Aku tersenyum penuh kejahilan
juga setelah di tertawai habis habisan olehnya.
Langit
mulai terlihat setingkat lebih mendung. Awan awan kelabu mulai berkumpul
membentuk tim tim yang lebih besar. Langit biru kini hanya tinggal serpihan
dicelah celah yang sudah tertutupi awan kelabu. Aku hanya memandang, menerawang
kosong ke atas sana. Mungkin aku berharap agar hujan tidak turun terlalu cepat.
Aku masih ingin disini, menikmati sisa sisa eksrim ku, memandangi air pancuran yang
memercik memenuhi kolam, menghirup udara segar sore ini, bersamanya.
“Hei,
ngomong ngomong eskrimmu mulai mencair. Kau hanya ingin memelototinya saja?”
kata ku sambil menjilat bagian eskrim terakhir ku setelah beberapa saat
menikmatinya. Ada sedikit perasaan sedih karena aku harus mengakhiri masa masa
menikmati eskrim ini. ‘Seharusnya aku membeli dua tadi.’ Pikirku mulai berangan
angan dan membayangkan bahwa saat ini aku sedang membuka bungkusan plastik
eskrim satunya lagi. ‘Kress kress…’ bunyi plastik eskrimnya. Kemudian secuil
cokelat lapis yang dingin berasap asap mulai nongol pada bagian atas plastik
eskrim tersebut. Ah, andai saja. Aku memalingkan wajah kearahnya, menyenggol
lengannya. Ia masih seperti patung. Mematung, memandangi eskrimnya, mungkin
benar benar sampai meleleh.
“Hei,
kau tidak menggubrisku. Sampai kapan kau akan memandangi eskrim tersebut.
Ayolah segera dimakan. Keburu meleleh eskrimnya tau.” Kata ku gemas. Sungguh.
Karena aku sangat ingin, ingin sekali merampas eskrim tersebut dari tangannya
dan segera melahapnya hingga tiada tersisa. Tapi tentu saja aku tidak akan
melakukannya. Aku tau. Sesaat kemudian ia menatapku, aku juga menatapnya.
Tetapi, kali ini yang kulihat bukanlah dirinya saat beberapa menit lalu yang
terlalu bahagia mengerjaiku. Matanya sendu, kelam, seolah memancarkan bagian
dirinya yang sedang terjatuh dalam gua hitam yang begitu gelap, seolah dirinya
hanyut bersama palung yang menariknya hingga terkubur didasar laut. Matanya
benar benar sepi. Ia hanya tersenyum tipis, sedikit, padaku.
“Kamu
kenapa?” aku mulai was was. Khawatir ia sakit atau kenapa kenapa. Apa karena
eskrim rasa wafer cokelat ini? Ah tidak mungkin. Aku sudah mencicipinya juga,
dan sekarang aku masih terlihat sehat sehat saja. Ada apa dengan dirinya? Apa
yang terjadi padanya? Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, masalah. Ah ya,
mungkin benar. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya sejak awal. Inilah yang dia
lakukan beberapa saat setelah bersama ku, seperti hari hari sebelumnya. Hari
hari ketika ia berhasil mengajakku dan menemaninya, menemani lukanya, seperti
ini. Aku terlena oleh kenikmatan eskrim sore ini, sehingga tidak bisa
membacanya. Sayang.
Dia
masih diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menatapku. Sedikit canggung
ditatap olehnya, aku pun segera memikirkan kata kata yang bisa ku ucapkan,
tanpa melukainya. Begitu banyak kata kata yang bermain dan berlabuh dalam
kepalaku, aku semakin bingung. Namun waktu terus mendesak ku untuk mengeluarkan
kata kata apa saja yang terlintas dalam pikiranku.
“Kau
tau, obat bisa menyembuhkan luka. Mungkin, kau bisa mencarikan obat itu untuk
menyembuhkan lukamu, akupun bisa membantumu jika kau mau.” Itu kata kata yang
sedang terlintas dikepalaku, aku tak sempat menyortirnya lagi, apakah ada
kesalahan dalam kalimat itu atau tidak. Waktu dan tatapannya terlalu memaksaku.
Dia masih terdiam, kemudian memalingkan wajahnya dari ku. Ia menundukkan wajahnya
hingga aku tak bisa melihat ekspresinya kembali, ia melihat rerumputan di bawah
kakinya, mungkin melihat ulat ulat kecil yang sedang memakan rumput rumput
hijau tersebut.
“Kau
benar, luka bisa disembuhkan dengan obat.” Ia menjawab sebentar. “Tetapi, tidak
semua luka punya obatnya.” Aku terdiam mendengar ucapannya yang samar dengan suara
yang lebih serak dari sebelumnya. Ia masih saja menundukkan wajahnya. Aku benar
benar kesulitan melihat wajahnya. Apakah ia menangis?
Isi
kepala ku kembali bermain dengan kata kata, sesak disetiap sudutnya, tidak
memberikanku ruang untuk berpikir. ‘Mungkin kau benar, tidak semua luka
memiliki obatnya’ gumamku dalam diam. Aku mulai menyalahkan diriku, kenapa
harus mengeluarkan kata kata yang sebelumnya ku ucapkan padanya? Jelas saja itu
salah, salah besar setelah Ia menyangkalnya.
“Mungkin,
luka ku tidak punya obatnya.”
“Ya tetapi
kan tidak ada hal yang menutupi kemungkinan bahwa lukamu tidak memiliki
obatnya”
“Aku
lelah, luka ini begitu sakit. Luka ini tidak ada obatnya.”
“Ssstt.”
Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirku. “Sudahlah, kita cari sama sama
obatnya, pasti ada.” Aku berusaha meyakinkannya, meskipun aku sendiri tidak
begitu yakin setelah ia mengatakan tidak semua luka memiliki obatnya.
“Kamu
tidak perlu meyakinkan aku kalau kamu sendiri tidak yakin.” Ia tersenyum
sedikit setelah mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak tadi. Ada luka yang ia
tutupi di balik bola matanya, kepedihan.
“Oke,
baiklah. Maafkan aku. Sekarang, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” aku ingin
sedikit lebih mengalah padanya.
Ia
memandangku. “Kamu…” ia berhenti sejenak. Penasaran mulai mencerca batinku,
menunggu kalimat yang akan disambungnya.
“Belikan
aku eskrim lagi…” tawanya pecah disusul keluguan wajahku yang teramat polos.
Aku hanya mematung dengan mulut terbuka, persis orang penyakitan saraf.
“Kenapa
bengong? Ayo belikan aku eskrim lagi. Tadi katanya ingin melakukan sesuatu
untuk ku.” Ia mulai tersenyum jahil. Aku benar benar bingung dibuat olehnya.
“Kamu
kenapa tiba tiba berubah jadi periang seperti peri gigi?” aku tak sanggup
menahan perasaan kagum ku padanya. Kagum kenapa? Karena ia berbakat jadi
bintang sinetron. Begitu mudah memasang ekspresi wajah sesukanya. Seperti saat
ini. beberapa menit yang lalu, aku membaca sinar duka dari sorot wajahnya,
tetapi sekarang, aku malah melihat kejahilan yang biasa ia lakukan padaku.
“Kamu tidak bersedih lagi?”
“Wajah
kamu itu polos kali ya, pakai cream
malam merek apa?”
Aku
kembali mematung
“Setiap
malam kamu pakainya?”
Aku
masih mematung
“Ada
efek samping dari cream yang kamu
gunakan?”
Dan aku
masih saja mematung.
“Hai,
diam saja diajak bicara.” Ia menjentikkan tangannya tepat di depan wajahku,
membuat aku sadar dari lamunan. Sejujurnya bukan lamunan, tetapi kenyataan. ‘lihatlah
pria dihadapan ku ini. Aku khawatir pikirannya sudah sedikit terganggu. Ia
begitu freak dan sulit untuk ditebak.’
Batinku pada diri sendiri setelah tersadar.
“Kamu
yakin, tidak apa apa?”
“Hei
hei hei, maksud kamu apa? Kamu pikir aku sudah gila? Hahaha” ia tertawa.
“Tenanglah, aku masih baik baik saja kok.”
“Kamu
baik baik saja, aku nya tidak”
“Kenapa?”
‘Aku
juga terluka, sama seperti mu’
Continued
No comments:
Post a Comment