Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, July 2, 2015

Do Not Be Weak



“Saya lelah, Bi. Coba kamu bayangin,setiap hari harus diperlakukan seperti itu. Kamu pikir, rasanya enak apa jadi saya? Yang selalu dianggap ketika mereka membutuhkan saya. Saya bukan barang, Bi.” Matanya mulai padam oleh sinar, sayup-sayup seperti pasir yang disirami ombak, lembab. Dia tidak menangis, jiwanya masih kuat.
“Sudahlah, meskipun saya tidak tahu rasanya menjadi seperti kamu, ayo bangkit. Kamu jangan mau terus-terusan diperlakukan seperti ini. Saya bantu kamu, kita berjalan sama-sama. Kita cari tujuan kita, meski tanpa mereka. Ayo, Fee.” Kesabaranku masih tersisa beberapa senti meter kubik lagi dalam kepalaku, entahlah. Tetapi aku benar-benar tidak ingin melihatnya terjatuh seperti ini lagi.

Kemarin, aku melihatnya masih tertawa bersama mereka, mereka yang sampai hari ini melihat Fela hanya dari satu sisi saja, sisi kapan mereka membutuhkannya. Mereka sering melakukan hal-hal yang aku pikir terlalu menarik ulur hati Fela, tetapi kemudian menendangnya sekuat tenaga mereka. Seperti beberapa jam lalu, saat mereka sedang duduk di depan lapangan basket. Fela sedang berjalan di koridor depan kelasnya, kemudian salah satu dari mereka meneriaki namanya, menyuruhnya untuk segera ke lapangan basket, duduk bersama mereka. Fela berusaha menolak dan menjelaskan keperluannya untuk menemui seorang guru di perpustakaan karena telah membuat janji. Tetapi tanpa berpikir panjang lebar dan hanya menuruti hawa nafsu, mereka tetap memaksa Fela dengan caranya untuk tidak menemui sang guru. Satu lawan Sembilan, sudah tahu mana yang akan menang. Fela pun duduk dengan sedikit rasa enggan di samping mereka, mendengar cerita-cerita dan tawa mereka. Ia tidak bisa tertawa lebar seperti mereka, di benaknya hanya ada ingatan sebuah janji dengan seorang guru.

Dua puluh menit berlalu. Seorang dari mereka mengeluh lapar dan mengajak mencari makanan. Bincang demi bincang akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke salah satu cafe seberang jalan sekolah. Tanpa basa-basi yang terlalu panjang lagi, salah satu dari mereka berbicara pada Fela. “Oya Fee, kamu ada janji sama gurukan katamu tadi. Yaudah gih, temuin tuh guru.” Mendengar ucapan tersebut membuat Fela terkejut. Tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulur Fela, mereka ber-9 pergi meninggalkan Fela begitu saja. Fela langsung berlari ke perpustakaan mencari sang guru yang hendak di temuinya. Setelah mencari-cari ternyata sang guru sudah tidak ada di perpuskatakaan. Fela bertanya kepada pustakawan apakah sang guru berada di perpustakaan beberapa menit lalu. Penjelasan pustakawan tersebut membuat hati Fela hancur. Sang guru kesal padanya karena ia tak kunjung datang, kemudian pulang dan menitipkan sebuah buku pada pustakawaan untuk di berikan pada Fela. Sambil memegang buku bersampul cokelat tua itu, Fela keluar dari perpustakaan dengan wajah lesu dan mata memerah. Dan di sinilah dia bersama ku, sedang duduk dengan wajah yang tak seceria biasanya.

“Saya marah, saya ingin berteriak sama mereka supaya jangan kacaukan hidup saya lagi, Bi. Tapi bagaimana? Mereka terlalu mudah membuat saya jungkir balik seperti tadi. Setelah mengajak saya berbincang-bincang cukup lama, tanpa sedikitpun ada niat untuk mengajak saya pergi makan bersama mereka. Rasanya, saya itu apa? Barang? Sampah? Saya lelah, Bi.”
Mata Fela semakin memerah. Tiba-tiba bahunya bergetar, tangisnya pecah dan mengalir hingga menetas dari dagu. Aku langsung memeluknya.
“Kemarin-kemarin kamu tidak pernah menangis meski diperlakukan seperti itu oleh mereka. Kenapa hari ini kamu bisa menangis?” aku masih memeluknya, mengelus punggungnya yang masih bergetar. Ia tidak pernah menangis dan bergetar seperti ini sebelumnya.
“Saya lelah, Bi. Saya sudah tidak sanggup.” Ucapannya tersembunyi oleh isak tangis. Aku masih memeluknya.
“Yasudah, mulai sekarang jangan pernah pedulikan mereka lagi. Mereka begitu karena kamu lemah, Fee. Kamu harus kuat. Lawan mereka, lawan ajakan mereka. Kamu harus bangkit dan terlepas dari mereka. Ayolah, bukan hanya mereka temanmu, Fee.” Entahlah, kalimat seperti apalagi yang harus ku utarakan pada Fela.
“Buat saya bangkit, Febi. Saya tidak ingin lagi lemah dihadapan mereka. Buat saya kuat.”

Aku tersenyum padanya. “Ayo kita bangkit.” Aku sedikit melepas pelukan padanya, kemudian menghapus sisa air matanya. “Tidak boleh nangis lagi. Fela yang saya kenal harus jadi orang kuat.” Kemudian senyumnya sedikit mengembang disela titik-titik air matanya yang kian memudar di tiup angin.

Sayang Fela, ia sudah terlalu lelah selama ini. Sekarang bukan lagi masanya mereka menyuruh-nyuruh Fee sesuka hati, tetapi Fee akan berdiri tegak di hadapan mereka dan berkata “Tidak” dengan lantang.



#Fasting15

Friday, June 5, 2015

Indah Pada Waktunya



“Ini untuk Ibuku, juga untuk masa depanku.” Kataku dengan penuh kepastian. Daun-daun tua yang gugur menjadi saksi bisu percakapanku dengan sang pencipta langit, pemilik seluruh alam jagat  raya ini. Ku sapu pandangan di hadapanku, sebuah gundukan tanah berwarna cokelat kemerahan dengan taburan bunga yang sudah layu, sedetik kemudian air mata membanjiri pipiku.

***
1 minggu lalu.
Aku membanting pintu kamar dengan keras hingga menggetarkan rak kecil berisi album-album metal di sudut kamar. Ku hempaskan tubuh pada kasur dengan seprai bermotif wajah-wajah seram yang tak lain adalah sebuah band metal favorit ku, Slipknot. Ku pejamkan mata sesaat mencoba menemukan sedikit udara segar pada kamar berukuran sedang dengan dinding yang penuh oleh poster-poster band metal terkenal. Semenit kemudian, butiran air mata jatuh membasahi pipiku. Ku usap pipi yang basah dengan tangan kosong sambil membalikkan badan menatap keluar jendela. Butiran-butiran air mata lainnya mulai menemani kesepianku hingga tidur terlelap.

“Nisa.” Panggil Ibu dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamarku. “Bangun sayang. Sudah subuh, shalat dulu, nak” sambungnya sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamarku dan memutar handle pintu. Aku menguap dan kemudian membalikkan tubuh menutup kepala serta telingaku dengan guling. Tak ku gubris ketukan ibu dari luar yang mencoba membangunkanku. Kantuk masih begitu penting untuk ku dahului saat ini. Dan akupun kembali tertidur.

“Kriiing..kriiing…” jam beker yang terletak di atas meja dekat sudut kasur ku berbunyi tepat pukul 7 pagi. Mataku perlahan terbuka, mencoba meraih jam yang terus berdering sambil mengumpulkan lebih banyak tenaga untuk bangkit. Alarm berhasil ku matikan dengan menyentuh tombol berwarna merah pada jam tersebut. Mataku masih berat dan enggan terbuka, apalagi untuk bangkit dari kasur yang begitu empuk. Tidak sampai semenit dari gangguan alarm yang membuatku terjaga, kini ketukan pintu seperti tadi subuh kembali bergeming di pintu kamarku. “Tuk..tuk..tuk” ibu mengetuk pintu dan mendobrak sedikit handel pintunya. “Bangun, Nisa. Kamu harus sekolah. Sudah jam 7, ayolah, nak.” Suara ibu yang sedikit keras membuat mataku terbuka dan melototi pintu kamar. Kemudian aku hanya menjawab “ya”. Tidak ada suara ketukan pintu lagi, ibu sudah bergerak meninggalkan kamarku.

Di pagar sekolah.
Langkah kakiku begitu berat untuk menapaki rumput-rumput hijau di sekolah ini. Rasanya suasana yang ku butuhkan saat ini bukanlah duduk disalah satu kursi kelas dan mendengarkan cerita-cerita serta angka yang tiada habisnya, meskipun itu kursi yang terletak di sudut belakang sekalipun. Aku menyapu pandangan ke sekeliling sekolah. “Mungkin kantin belakang sudah dibuka, aku bisa bolos dan duduk di sana saja” ucapku dalam hati. Kemudian dengan wajah penuh harapan untuk tidak masuk ke kelas dan bolos belajar, kakiku pun bergerak menuju kantin belakang sekolah.

Sesampai di sana aku langsung memesan minuman cappuccino dingin dan mengambil 2 gorengan dalam nampan plastik berbentuk kotak. “Hai ica, bolos ya?” sapa Fredi yang tiba-tiba muncul dari belakang membawa sepiring lontong. “Eh iya, malas balajar. Kamu?” tanyaku kembali padanya sambil menggeser sedikit tempat duduk berbagi dengannya. Ia tertawa sambil meninju kecil bahuku. “Aku bisa membaca tingkahmu ketika mombolos”. Aku membalas tinju kecilnya dan melahap sepotong lontong dalam piring di hadapannya.

Setelah usai menghabiskan makanan dan minuman yang kami pesan, aku mengeluarkan smartphone dibalik saku kemeja seragamku dan mengetik sebuah pesan dan menekan ‘send’. “Kita ngejam yuk, bosan.” Ku tatap jam tangan berwarna abu-abu pemberian Ibu saat usia ku genap 16 tahun. Fredi tertawa lebar dan segera bangkit dari kursinya. “Yuk, tunggu apa lagi.” Aku pun ikut tertawa lebar. “Bams dan Joe udah aku sms nih, suruh mereka segera ke studio untuk main.” Sambungku kemudian menuju ibu kantin,  membayar minuman dan kue yang sudah mengganjal perut kosongku.

Ini adalah kesekian kalinya tanpa terhitung aku membolos untuk ngejam bersama teman se-band ku. Taktik yang biasa kami lakukan adalah lompat dari pagar belakang. Pagarnya tidak cukup tinggi, jadi sedikit lebih mudah untuk ku panjati. Berbekal kegiatan ekstrakulikuler yang dahulu aku tekuni di SMP, lompat jauh, membuat tubuhku terbiasa melompati pagar-pagar ini demi membolos sekolah. Penjaga sekolah hanya ada satu, pos nya terletak di pagar depan sekolah. Jadi jangan heran jika pagar belakang menjadi tujuan utama para pembolos sekolah seperti kami.

Sampai di salah satu studio langganan kami ngejam, ternyata Bams dan Joe sudah terlebih dahulu tiba di sana. Mereka tidak memakai seragam sekolah putih abu-abu, melainkan kaos dengan lengan yang sengaja digunting sehingga terlihat bagian otot-otot lengan yang besar. “Baju yang aku minta tadi mana?” tanyaku pada Bams sambil mengulur tangan. Bams mengaduk isi tas ransel hitamnya, kemudian mengeluarkan kaos berwarna cokelat tua dengan ukuran yang begitu besar untuk tubuhku dan kaos garis-garis hitam untuk Fredi. Kami mulai mengambil posisi masing-masing. Aku mengambil sebuah gitar berwarna biru tua, sedangkan Joe mengambil microfone dan memasangnya pada stand, ia vokalis pada band ini. Bams dan Fredi mengambil posisi sebagai drummer dan bassis. Setelah cek sound beberapa saat, kami mulai bermain hingar binger dalam studio.

Pukul 4 sore, aku pulang ke rumah.
Tiba di rumah, ku lihat jendela tertutup rapat. Pintu rumah terkunci. Berulang kali ku ketuk dan meneriaki siapapun yang berada di dalam rumah namun hasilnya nihil. “Mungkin orang rumah sedang pergi semua. Atau,..” gumamku, perasaanku mulai tidak tenang. Aku mencari smartphone dalam tas, lalu menghidupkannya. Ya, aku memang mematikan smartphone saat ngejam tadi, itu peraturan kami selama bermain. Semenit kemudian 3 pesan masuk pada smartphone ku. Aku duduk pada salah satu kursi depan rumah dan membuka ketiga pesan dari Mina, kakak ku.
“Nisa, kamu di mana? Kenapa HPnya mati?” pesan pertama.
“Jika kau pulang nanti, kunci rumah ada di bawah salah satu pot bunga warna hijau dekat kursi. Kamu ganti pakaian dan segera datang ke Rumah Sakit Sejahtera dekat Simpang Stoneland.” Bunyi pesan kedua membuat perasaanku berubah tidak nyaman.
“Nisa, Ibu sakit. Kamu segera ke rumah sakit sekarang ya. Ibu, sedang koma . .” smartphone ku terlepas dari genggaman dan jatuh. Tanpa memikirkan hal lain, aku segera pergi ke rumah sakit.

Aku tidak pernah suka aroma rumah sakit dengan obat-obatan dan bahan kimia yang menusuk hidungku. Tetapi kali ini semua aroma itu tidak lagi penting. Sesampai di depan ruang IGD seperti yang kakak kabari saat ku telefon tadi, aku langsung masuk dan mencari sosok dengan wajah yang enggan ku tatap tadi pagi. Rasa kesalku pada ibu karena kemarin melarangku bermain band lagi sudah ku lupakan, meskipun aku merasa sangat marah padanya dan tidak mau membukakan pintu kamar ku, apalagi bangun untuk shalat subuh seperti tadi pagi. Tiba-tiba saja, amarahku semenjak kemarin tergantikan dengan emosi tangis yang pecah begitu saja dihadapan tubuh ibu yang pucat dan tak bergeming. Aku memeluk ibu dan menangis di atasnya.

Bapak duduk di salah satu kursi tempel seberang kasur, sedangkan kakak mengusap kepalaku perlahan sambil menenangkanku. Ia menceritakan kronologi kejadian yang menimpa ibu. Lantai licin kamar mandi membuat ibu terpeleset dan terjatuh. Kepalanya terbentur hebat dengan dinding bak mandi sehingga terbelah. Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibu. “Maaf, Bu. Nisa minta maaf. Ibu, bangunlah, bu.” Tangisku tidak bisa berhenti. Begitu banyak penyesalan dalam diriku. Aku mengingat bagaimana tadi pagi begitu marahnya pada ibu tidak membukakan pintu, dan langsung berangkat sekolah tanpa pamit apalagi sarapan, padahal ibu sudah menyiapkan nasi goreng untukku. Tiba-tiba tangan ibu bergerak sadar dari koma,  matanya perlahan terbuka. Kakak memanggil dokter, sedangkan aku dan bapak memerhatikan ibu dan mencoba berbicara padanya. Ibu menatapku dan sedikit membuka mulut.

“Nisa, ka,,mu anak yang ba,,ik. Bertaubatlah sayaaang. Tinggal,,kan dunia band mu iii,,tu. Berjilbablah, nak. Ibu sayang kamu.” Ibu berusaha berbicara meskipun terbata-bata. Tangannya mencoba membuat sebuah pelukan. Tanpa menunggu terlalu lama aku segera memeluk Ibu sambil menangis. Ku tatap wajah ibu, “iya bu, Nisa akan tinggalkan itu semua, bu. Nisa janji.” Tangan lemas ibu menghapus air mata yang mengalir pada sudut hidungku. Pintu kamar terbuka, kakak dan dokter masuk untuk melihat ibu. Sesaat kemudian tangan lemas ibu jatuh perlahan tanpa bisa digerakkan lagi. Matanya tertutup sambil tersenyum. Nafas ibu sudah tiada. Aku menangis.

***
“Mahmudatunnisa. Nisa senang dengan nama pemberian Ibu. Memiliki arti yang bagus, perempuan yang terpuji. Maafin Nisa selama ini telah membuat ibu kecewa dan sedih dengan segala tingkah laku Nisa, bu. Sekarang, Nisa sudah berjilbab. Ibu mengajari Nisa, bagaimana menjadi seorang wanita terpuji seperti nama yang ibu berikan. Terimakasih, bu. Nisa sayang sama ibu. Nisa tau, ibu juga sangat sayang sama nisa. Ini jalan yang Tuhan tunjukkan untuk kita. Cara-Nya untuk membuka mata Nisa, meskipun dengan kepergian ibu. Walaupun begitu, ibu selalu hidup dalam diri Nisa, sampai kapanpun.” Air mataku menetes pada gundukan tanah bertaburkan bunga dengan batu nisan bertuliskan ‘Aisyah Bintin Ali Mahmud lahir 23 Feb 1975 wafat 16 April 2014’.
“Terima kasih, bu. Nisa, sayang ibu.”

Friday, January 16, 2015

So Well



Katamu bahagia cukup dengan menikmati secangkir teh hangat, kemudian memandang sosok terindah dimatamu.
Katamu bahagia lebih dari cukup ketika menikmati bongkahan kecil es batu yang satu persatu habis dari segelas teh dingin bersama seseorang yang kau sayangi.
Katamu, bahagia itu sederhana. Sesederhana ketika kau membuka mata dipagi hari kemudian ada sosok yang setia menjadi pendamping hidupmu.

Udara hari ini cukup bersahabat, langit cerah, namun tidak panas. Aku masih berdiri di depan sebuah café sambil sesekali melirik ke jarum jam yang terletak manis di jam tangan warna putih –favorite ku. Tidak lama kemudian sebuah motor yang begitu ku hafal deru suara mesinnya berhenti di depan café yang sejak tadi ku tunggui.
“Maaf terlambat.” Katamu sambil melepas helm putih bercorakkan zig-zag hitam dari kepalamu.
“It’s ok, yuk.” Sambutku dengan senyum lebar sambil menunggunya turun dari motor dan bergerak kearahku. Setelah itu kamipun mencari tempat duduk dipinggiran dekat sebuah jendela kaca agar bisa melihat pemandangan ke luar.
“Bagaimana hasil ujian tadi?” tanyamu lembut dengan harapan mendapat jawaban yang luar biasa dari ku.
“Ya aku sudah pernah ceritakan, mata pelajaran yang satu ini begitu sulit untukku. Aku duduk-berdiri hanya untuk memahaminya dan mungkin menghafalnya. Tetapi lagi-lagi tetap saja, ketika ujian tiba aku terlalu terburu-buru mensugestikan diri bahwa ini akan berjalan dengan sulit. Kau tau, aku begitu gugup ketika ujian. Terlebih lagi untuk mata pelajaran yang satu ini.” Ceritaku panjang lebar dengan wajah yang sedikit kecewa, seakan-akan soal yang sejak tadi menghantui ku selama 2 jam ujian berlangsung kini hadir di atas meja tempat kami duduk.
“Aku pikir hasilnya tidak akan terlalu buruk. Kamu sudah belajar dengan segiat mungkinkan. Sampai, apa tadi katamu? Duduk-berdiri? Ya itu usaha yang bagus.” Sikap leluconmu keluar begitu saja. Mendengar caramu mengulang kata ‘duduk-berdiri’ itu membuat ku tertawa penuh hati. Dia tidak pernah berubah.
“Baiklah, cukup sampai di sini saja pembahasan ujian tadi.” Aku ingin mengakhiri pembicaraan itu, dari pada harus terlihat begitu putus asa di depan sosok yang akan selalu siap membuatku tertawa bahagia. Ia hanya tersenyum tipis, mengerti maksudku, maksud kekecewaan ku terhadap mata pelajaran itu.
Tidak lama berselang waktu dari itu, pelayan datang membawa segelas cappuccino dan segelas teh, tentu saja keduanya dingin dilengkapi beberapa potongan kecil es batu. Kemudian kamu mengambil sepiring spaghetti dari pelayan tersebut dan aku mengambil sebuah hamburger berukuran sedang. Pelayan tersebut kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan kami dengan beberapa minuman dan makanan di atas meja. Aku mendekatkan segelas teh dingin tersebut dan menyeruput kesegarannya perlahan. Ku lirik sosok yang berada di depan ku. Ia mengambil sebuah es batu dari gelas cappuccinonya dengan sendok, kemudian memakannya sambil menatapku. Aku tertawa melihat tingkahnya. Kemudian ku ikuti caranya memamerkan cara tertampannya menggigit es batu tersebut. Kress kress . .  suara es batu yang kami gigit berbarengan. Kemudian kami tertawa lepas dan saling menunjuk lucu kewajah masing-masing.
“Gigimu bisa keropos jika terlalu banyak menggigit es batu. Belum 50 tahun, nanti gigimu tinggal 2 lagi.” Kataku setelah menyedot kesejukan teh dingin dihadapanku.
“Tidak masalah, kan gigimu juga akan tinggal 2 nanti sama sepertiku.” Jawabmu kemudian tertawa begitu saja. “Lihat, kau sendiri juga sering menggigit gigit es batu kan?” kemudian ia menunjuk kearah es batu yang mengapung indah di dalam gelas teh dingin ditanganku.
“Yaya baiklah.” Aku mengangguk kecil. “Hmm jadi kesimpulannya apapun yang kamu lakukan, apapun yang terjadi padamu, asalkan tetap bisa bersamaku itu tidak akan menjadi masalah, bukan.” Aku menyimpulkannya sendiri kemudian mengedipkan sebelah mata kepadanya. Ia kembali tertawa.
“Sudah pandai sekarang kamu ya, hmm bukan-bukan. Bukan pandai, tetapi cerdik. Ya, kata itu aku rasa lebih tepat untukmu.” Katamu dengan gaya yang begitu khas sudah kukenali sejak dulu, sambil memiringkan sedikit kepala ke samping kemudian mencoba menarik ulur hatiku melalui kata-katamu.
“Apa bedanya?” Tanya ku bingung mendengar ia mengganti kata ‘pandai’ menjadi ‘cerdik’.
“Kamu tidak tau?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
“Hmm seperti tidak.” Jawabku setelah memutar-mutar isi kepalaku mencoba mencari kamus di dalamnya.
“Bedanya ituuuu,” ia memanjangkan kata ‘itu’ terakhir sehingga membuatku penasaran.
“Apa?” tanyaku antusias.
Ia melirikku sesaat, kemudian kembali membuka mulut. “Coba kamu perhatikan sendiri deh, cara baca ‘pandai’ dan ‘cerdik’ berbedakan, begitupun cara penulisannya.” Jelasnya kemudian tertawa licik. Melihatku semakin mengernyitkan dahi karena semakin bingung dibuat olehnya ia semakin tertawa menjadi-jadi. “Wajah polosmu keluar, tukan.” Ia menunjuk ke arah wajah ku, kemudian tertawa geli. Aku mengepalkan tangan kemudian meninju kecil bahunya.
“Aaauu sakit.” Ia berteriak, kemudian menatap kearah ku. Melihat semberaut wajah kesal, ia kembali tertawa, tentu saja menertawakan diriku.
Aku masih memasang wajah pura-pura marah, kesal ditertawakan olehnya. Kemudian mengambil sebuah es batu yang semakin mengecil dalam gelas teh di hadapanku, kemudian menggigitnya. ‘Kress kress’.
“Sudahlah, wajah polosmu semakin jelek jika cemberut seperti itu. Katanya masih sweet 17, tapi kok sudah banyak keriputnya seperti nenek-nenek.” Katanya sambil menahan tawa kecil, terlihat dari bahunya yang naik-turun mencoba menahan tawa yang pasti akan meledak luar biasa jika dikeluarkan. Mendengarnya berkata seperti itu, aku kembali mengepalkan tinju ditangan kanan ku. Ketika hendak mendaratkan di bahunya ia sudah lebih dulu menahan tanganku. “Baiklah, maaf maaf. Aku tidak akan mengejek dan membuatmu kesal lagi.” Katanya sambil tersenyum, mencoba mengambil alih sisi baikku agar tidak menyakitinya lagi. “Ayo, dimakan hamburgernya.” Katanya mengodekan hamburger yang terlihat lezat dihadapanku dengan kedua matanya. “Kamu mau mencoba spaghetti milikku?” tanyanya sambil memutar-mutar spaghetti dengan garpu dari tangan kanannya.
“Tidak apa-apa. Aku akan makan ini saja.” Jawabku sambil mengambil hamburger dari piring. Kemudian kami makan sambil membicarakan hal-hal lain –tidak peduli apakah pembicaraan itu penting atau tidak– kemudian sesekali tertawa.

Pemandangan di luar indah, seindah hati kami menikmati suasana di cafe itu. Tanpa beban, yang ada hanyalah canda dan tawa. Kekesalan kecil hanyalah bumbu dalam kebahagiaan. Karena sejauh apapun langkah kami berjalan, langkah itu selalu beriringan satu sama lain, tidak ada siapa mendahului siapa atau siapa meninggalkan siapa.
“Hei, makasih ya.” Kata ku memasang senyum manis kepadanya.
“Hmm ya, untuk apa?” Tanyanya sedikit bingung.
“Untuk segalanya. Karena sampai saat ini detik ini, you know me so well.” Kata ku sambil menatap bola matanya. Ada pancaran sinar kebahagiaan yang ku temukan dari bola mata itu.
“Ya, tentu saja. You know me so well too” ungkapnya penuh kebahagiaan. Kemudian kami saling tertawa kecil, dan menatap langit sore yang indah dari balik jendela kaca. Langit yang tadinya cerah sudah berubah menjadi jingga. Waktu yang berlalu sudah beberapa jam, tetapi terasa baru semenit lalu kami membuat kericuhan, meledek satu sama lain. Rasanya aku ingin menghentikan waktu saja agar bisa lebih lama menatap wajah yang selalu bisa membuatku merasa nyaman ini. Karena hanya kenyaman, kebahagiaan, semua yang ada pada hidup terasa lebih indah.