Showing posts with label Part Of The Story. Show all posts
Showing posts with label Part Of The Story. Show all posts

Wednesday, June 21, 2017

Ketika Senja Jatuh Cinta (3)


Aku merasakan tubuhku seakan remuk, sakit tak terkendali. Perlahan aku membuka mata, sinar matahari masuk sedikit demi sedikit. Derai ranting cemara menjadi pemandangan pertama yang ku lihat. Setelah aku merasa cukup kuat, aku bangkit. Tanganku meraba lembut rumput-rumput hijau yang menampung beban tubuhku. Tepat satu meter disebelah kananku, ladang bunga dandelion bertaburan. Serpihan tangkai kecilnya menari di atas hembusan angin. Aku terpukau. Setelah puas memandang ladang dandelion tatapan mataku jatuh pada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh. Lumut-lumut hijau yang menempel dibatangnya menyadarkanku tentang sesuatu. Aku buru-buru menghampiri batang pohon tersebut. Ketakutan terjebak di black forest kembali memenuhi ingatanku. Aku menyentuh pelan lumut tersebut. Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga sepuluh detik aku menunggu tetapi tidak ada perubahan apa-apa. Tidak ada cahaya yang muncul seperti waktu itu. Aku menghembuskan nafas kecil, sedikit kecewa. Kemudian aku memutar badan dan tiba-tiba saja aku menahan nafas. Entah sejak kapan, sesosok makhluk sudah berdiri tepat dihadapanku. Rupanya tidak kelihatan, sinar matahari menutupi pandangan mataku, silau. Ia sedikit menunduk, meletakkan telapak tangannya di atas mataku seperti payung. Samar, aku melihat raut wajahnya sambil kembali menghirup udara.
“Panas ya” suaranya membuat jantungku memompa darah lebih cepat. Aku kenal suara ini, suara yang mengagetkan ku saat berada di dalam hutan yang gelap.
“Kamu siapa?” tanya ku cepat sambil menatap lekat wajahnya kemudian menatap khawatir ke arah tangannya yang masih memayungi mataku dari sinar. Melihat gelagatku yang tidak nyaman, ia segera menurunkan tangannya.
“Kenapa kamu bisa tersasar di hutan itu?” ia tidak menjawab pertanyaanku, justru menimpaliku dengan pertanyaannya.
“Aaa,,aaku” mulutku bergetar. “Kamu sebenarnya, kamu siapa?” aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku kembali mengulang pertanyaan pertamaku padanya.
“Kamu orang pertama yang berhasil melalui dimensi ini” ia kembali tidak menjawab pertanyaanku. “Ketakutan dan kepasrahan dapat membawa orang-orang yang tak tau arah seperti kamu ke hutan itu. Selama ini, semua dari mereka yang tersesat tak pernah mampu mencapai dimensi ini.” penjelasannya mengenai hutan membuatku menyipitkan mata. Mencoba memahami setiap katanya dari sorot bola matanya. Melihat segala kecurigaan yang memungkinkan. Tetapi aku tidak menemukan apa-apa di sana.
“Maksudmu? Jadi, mereka di mana saat ini?” Aku terbuai dengan ceritanya.
“Kamu ingin tau?” tanyanya sambil menatap mataku lekat. Mencari tau seberapa besar keinginanku untuk mengetahuinya. Aku mengangguk cepat. Dia menghembuskan nafas kecil. “Mereka mati menggenaskan” aku spontan terkejut dan mundur beberapa langkah. Tubuhku nyaris jatuh, tetapi tanganku sigap menyentuh batang pohon yang tepat berada dipunggungku. Aku menoleh ke belakang. Tanganku sedang menyentuh lumut-lumut pada pohon tegak yang menjulang tinggi. Lumutnya bercahaya. Aku kembali menatap sosok tinggi tersebut. Ia mendekat ke arah ku.
“Coba kamu sentuh lagi lumut itu” katanya. Aku menurut dan segera menyentuhnya. “Sekarang lihat aku” sambungnya sambil melangkah lebih dekat di depanku. Wajahnya bercahaya. Aku terkejut. “Jangan takut. Aku yang berbicara denganmu malam itu. Dan sekarang aku ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah berhasil melewati waktu sulit di hutan itu dan melintasi dimensi waktu ini. Aku senang.” ungkapnya sambil mengelus lembut kepalaku. Aku terkesima.
“Jadi bagaimana aku bisa sampai ke sini?” tanya ku sambil memasang wajah bingung.
“Nanti kamu akan mengerti. Aku sedang mencari sosok wanita yang bisa menemaniku.” ia kembali tidak menjawab pertanyaanku. “Tutup matamu.” Ia selangkah lebih dekat dan meletakkan telapak tangannya dimataku dan menutup semua cahaya yang masuk. Seberkas cahaya yang begitu terang melintas dihadapan mataku yang tertutup rapat oleh tangannya. Beberapa saat kemudian aku tidak sadarkan diri.
***
Aku terbangun sambil mengusap wajah dan mengucek mata. Ku lihat sekitar, hanya ada pohon cemara dan pinus menjulang tinggi dipenuhi kabut. Aku bangkit kemudian memegang perut, lapar. Ku lihat, sebuah pohon besar dipenuhi lumut berdiri kokoh. Aku berjalan. Tiba-tiba sebuah tangan hangat menggenggam jemari kananku.
“Laparkan, aku temani ya” pintanya tanpa melepaskan tanganku. Aku hanya menurut. Kemudian kami berjalan berdua menelusuri padatnya pohon-pohon menjulang tinggi.

Di kota ini semua tawa hilang, semua raga terbang tanpa arah. Sedangkan aku hanya mematung dalam kesendirian. Tapi sekarang tidak lagi, aku ingin menemukannya kembali, bersamanya.

THE END

Tuesday, June 6, 2017

Ketika Senja Jatuh Cinta (2)

Sebuah tangan menyentuh lembut pundakku, samar. Aku pun terbangun dan menatap sekeliling. Semakin gelap. Kabut putih memenuhi beberapa ruang kosong di antara pepohonan. Aku menatap kearah salah satu pohon yang berlumut. Pancaran matahari sudah memudar, namun pohon yang berlumut tersebut seperti memiliki pancaran cahayanya sendiri. Aku tidak tau apa, tetapi itu menyita perhatianku. Aku menghampiri pohon tersebut. Ku sentuh lembut lumut-lumut itu. Beberapa detik kemudian sinarnya semakin terang sehingga membuatku terkejut dan tersontak kebelakang. Sinarnya kerlap kerlip seperti bintang. Ku pikir, itu memang bintang. Sesuatu yang sering ku pandangi setiap malam bersama Ibu.
“Bu, Senja rindu Ibu.” setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku. Aku mundur beberapa langkah hingga menyentuh batang pohon.
“Jangan bersedih” bisiknya tepat ditelinga ku. Aku tersontak dan segera mundur ke sisi lainnya. Pohon tersebut bergoyang riuh seakan mengatakan bahwa suara tersebut bukan berasal darinya, atau justru ia sedang mengatakan bahwa ialah yang berbicara. Ranting-ranting bergoyang seakan badai akan datang dan langit segera runtuh. Aku mencoba berlari, tetapi lumut-lumut yang bercahaya tersebut mulai pudar sehingga pandanganku terbatas. Aku lemas, ku jatuhkan tubuh disembarang tempat sambil bersandar dipohon terdekat. Aku terisak sambil memejamkan mata. Sentuhan lembut kembali menjalar bahu ku. Aku membuka mata dan melihat sekeliling, gelap gulita. Ku beranikan diri menoleh ke samping, melihat sosok yang mengusap lembut bahuku. Tidak ada apa-apa disana.
Ku jatuhkan pandangan pada pohon lumut bercahaya yang tadi memudar. Sejenak aku seperti melihat langit bertaburi bintang dari kejauhan kemudian semakin mendekat, cahayanya semakin terang. Aku benar-benar melihat gugusan bintang yang begitu dekat.
Tanpa meminta persetujuan kepala ku, aku bangkit dan mendekat ke arah gugusan bintang. Hatiku berkata ‘gapai bintang itu’ dan sekejab jemariku sudah mencapai kerlap-kerlipnya. Tepat setelah ujung jariku menyentuh lumut cahaya seperti bintang itu, tiba-tiba saja ia bercahaya merkah dan begitu silau. Aku seperti seorang astronot yang hendak menabrak bintang. Entah pada detik keberapa, akhirnya aku benar-benar menabrak bintang. Cahayanya masuk tajam ke dalam mata, menembus kornea hingga retina mata. Aku tak sadarkan diri.

Be continue…

Wednesday, May 24, 2017

Ketika Senja Jatuh Cinta

Di kota ini semua tawa hilang, semua raga terbang tanpa arah. Sedangkan aku hanya mematung dalam kesendirian…
***
            Kepulan asap hitam dan teriakan histeris memenuhi ruang kepalaku. Satu persatu ingatan berputar tanpa henti seiring dengan langkah kaki yang tak tau arah. Kesedihan dan tetes air mata memenuhi pelupuk mata, sirat pilu begitu mengoyak hati.
“Senja, cepat keluar dari kamar.” Teriakan Ibu begitu besar dan seraut asap terus memenuhi kamar. Dinding yang berwarna merah muda dan gorden biru langit menyentuh lantai sudah ditelan asap hitam yang bergulung. Lari ku seakan tercekal, urat kaki seperti putus tanpa aliran darah. Dari arah pintu Ibu menarik tanganku dengan kencang membawaku keluar kamar. Setelah melewati ruang keluarga dengan tangan kosong tanpa sempat mengambil satu barangpun, aku melihat ayah diseberang kamar tidurnya sedang mengambil sesuatu dalam lemari.
“Kamu segera keluar, ibu menyusul.” Ibu mendorong tubuhku ke depan lalu sekejab tubuhnya hilang bersama asap tebal.
            “Ibu bohong, Ibu tidak pernah keluar dari rumah itu. Ibu bohoooooong.” Teriakan ku membuat kepakan sayap beberapa burung melintas cepat di ranting-ranting pohon yang padat. Beberapa burung menatap ku tajam seperti ingin menelan separuh tubuhku. Aku tak peduli. Jemari Ibu yang menarikku keluar kamar masih membekas dan tubuhnya yang hilang dalam asap tebal tak pernah bisa ku lupakan. Aku menendang-nendang kerikil tumpul disepanjang jalan hingga kaki ku terjerembab disebuah kolam, aku kembali tersadar dan melihat sekeliling.
Hutan. Kaki ku berhenti melangkah. Pohon-pohon cemara dan pinus menjulang tinggi dan rapat. Gelap. Aku pikir hari masih siang. Aku tersesat.
“Ibu...” tangis kecilku memanggil Ibu sambil duduk diakar pohon yang lembab. Secuil cahaya muncul dibalik semak-semak ranting. Seperti cahaya matahari. Aku bangkit sambil menghapus air mata. Ku tatap lekat cahaya itu. Benar, ternyata cahaya matahari. Hari masih siang, hanya saja sinar matahari tidak dapat menyinari hutan yang begitu padat ini. Aku bergumam kecil, ‘Bu, sepertinya aku tersesat di black forest’.

Be continue…

Thursday, July 21, 2016

Here, Still Standing

Baca Part 1
Part 2: Dag Dig Dug

Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti – Tere Liye

Kicauan burung hari itu mulai berkurang karena hari semakin panas. Meskipun jam masih menunjukkan pukul 10 lewat, tetap saja matahari seperti berada tepat di atas kepala. Ke-4 gadis dan satu-satunya lelaki yang sejak tadi bergumel riang diperjalanan menuju kantin akhirnya dapat duduk lega di salah satu pojok kantin yang belum terlalu ramai saat itu.
“Pesan apaan geng?” Sarah melirik-lirik abang kantin sambil celingak celinguk. Kepalanya bahkan sudah berputar ide sejak diperjalanan tadi ingin memesan makanan dan minuman apa. Kantin tersebut tidak begitu luas, mungkin hanya sekitar15x6 meter persegi. Jumlah kursi dan meja di dalamnya juga tidak cukup banyak, tak jarang ketika jam istirahat siang kantin selalu penuh. Telat 5 menit saja meja dan kursi sudah dihuni oleh mahasiswa dari berbagai progam studi lainnya.
“Aku mie caluk sama kopi dingin deh.” Icha berseru sambil membuka tas merah maroon nya mengambil gadget kemudian mulai lincah menyentuh layarnya.
“Aku kenyang, minum teh dingin aja deh.” Sambung Reni. Ia duduk sambil bersandar disisi kursi kayu yang cukup tua, namun telah direkatkan dengan paku-paku agar lebih kuat. Di samping kanannya duduk Icha yang masih sibuk memainkan gadgetnya. Sesekali matanya melirik kearah benda yang menyibukkan Icha.
“Room pesan apa?” Tanya Sarah
“Aku bakso aja deh.”
“Cika?” kini Sarah mengarahkan pandangannya ke Cika yang sejak tadi duduk tanpa berkomentar apa-apa.
Cika bergumam sesaat sebelum menyebutkan keinginannya. “Kenyang, minum aja. Susu dingin.”
“OK” Sarah mengacungkan jempol dan melambaikan tangan ke arah abang kantin yang tengah duduk di deretan kursi depan kasir.
“Eh bentar, aku gak jadi bakso. Mie pangsit aja Sar, sama air putih dingin.” Room menyeletuk tiba-tiba. Pesanannya berubah setelah matanya menyurvei satu persatu jenis makanan dalam gerobak-gerobak kecil yang bertegger ditepi-tepi dinding kantin.
Kantin ini memang tidak menyediakan buku menu ataupun selebaran kertas yang berisikan aneka makanan dan minuman yang tersedia. Setiap yang ingin makan boleh pesan langsung di gerobak makanan yang diinginkan ataupun melalui abang-abang kece di kantin, yang biasanya mengolah minuman dan menjadi kasir.
“Ren!” Icha berseru sambil mengambil posisi berdempetan disebelah Reni. Kemudian tangan kanannya dengan lembut mengambil pose selfie terbaik. Tanpa hitungan seperti orang berfoto pada umumnya, Rani dan Icha langsung memasang gaya ala-ala candid yang sedang nge-trend saat ini. Yang satu melihat langit-langit kantin yang sedikit dihiasi sarang laba-laba, dan satu lagi melihat ke arah luar jendela, seakan menemukan bingkisan hidupnya. Selagi Reni dan Icha ber-selfie, Sarah memesan semua makanan dan minuman pada abang kantin yang sudah menghampiri mereka. 
Dunia seakan memilih lemparan koin terbaik pada pemilih wajah bulat bermata belok tersebut. Sesosok lelaki tampan dengan gaya rambut belahan seperti Aliando Syarief muncul dari pintu masuk kiri kantin. Saat itu juga jantung Reni mulai berdegup lebih kencang. Foto selfie yang baru saja diambil dengan smartphone terbaru keluaran 2016 milik Icha seakan tidak penting lagi bagi Reni. Matanya terus menatap kumpulan lelaki berjumlah 5 orang yang berjarak sekitar 8 meter dari tempat duduknya saat ini.
Tanpa langkah gontai, sosok yang membuat jantung Reni berdebar lebih kuat dari batas normal terus berjalan, seperti menuju kearahnya. Reni pun langsung menyibukkan diri memainkan gadgetnya yang sejak tadi terletak di atas meja. Ia berusaha mengontrol deru jantungnya yang semakin tidak karuan. Harap-harap wajahnya yang mulai memerah tidak disadari oleh kawan-kawannya yang duduk dimeja yang sama, begitupun oleh 5 lelaki yang baru saja masuk kantin.  
5 detik berlalu. Rombongan lelaki tersebut berada tepat di samping meja Reni dan kawan-kawannya. Nafas Reni tercengal dan nyangkut ditenggorokan. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengangkat wajahnya dari kepura-puraan sibuk melihat layar smartphone. 1..2..3.. gerombongan itu masih berdiri sambil celingak celinguk, seperti mencari tempat duduk yang nyaman.
“Di sini aja” seru salah satu rombongan tersebut. Mereka memutuskan duduk di samping pojok kantin. Tanpa di sadari bahwa kalimat tersebut semakin membuat Reni salah tingkah. Wajahnya terlihat bodoh melihat teman-teman satu mejanya.
“Kenapa Ren?” Tanya Icha yang melihat gelagat tidak biasa pada Reni. Reni sedikit terkejut dan membelalakkan matanya.
“Boleh ambil kursi ini?” Tanya seseorang, bagian dari rombongan 5 lelaki itu.
Seluruh meja Reni melihat lelaki yang bertanya pada mereka sambil memegang ujung papan senderanan kursi, kecuali Reni. Wajahnya semakin memerah.
Anggukan kecil dari kawan-kawan Reni menjawab pertanyaannya.
Tanpa ragu, ia langsung membopoh kursi ke meja seberang. Namun ekor matanya tidak lepas melihat Reni yang masih duduk dengan kesibukannya yang tidak jelas untuk menetralkan keadaan. Jarinya mengetuk-ngetuk meja sambil melihat-melihat langit kantin. Tubuhnya tidak bisa berkompromi lebih baik setelah kejadian beberapa detik yang lalu.

Be continue…


Tuesday, June 21, 2016

Here, Still Standing

Part 1: Smile

Pinjami aku telapak tanganmu
kan kugaris sebagian perjalanan kita di masa depan – falafu



Samar-samar bunyi kresek tas disebelah mengganggu konsentrasi gadis pemilik mata belok yang tengah fokus menjawab kalimat demi kalimat yang sulit dipahaminya. Gadis tersebut memalingkan wajahnya ke kanan, ke arah si pemilik suara. Suara kecil seolah lembut namun tetap terdengar berat dari seberang mencuri-curi kesempatan.
“Ren, liah HP kamu dong, udah aku kirim jawaban nomor 4 dan 8. Baru itu yang bisa, dapat dari Icha.” Si cowok yang selalu memakai jam tangan hitam old style itu pun menimpali disela kesempatannya.
“Ok” jawab si cewek sambil mengacungkan jempolnya sigap dan perlahan. 3 detik kemudian tangannya lincah membuka smartphone dari saku, mencari chat si pemilik suara tadi, Room. Tangannya sempat terhenti sesaat, menatap layar smartphone tanpa bergeming kemudian tersenyum samar. Ia kembali menyentuh layar smartphonenya mencari chat yang dituju. Setelah menemukannya ia pun langsung mendownload foto yang berisikan jawaban nomor 4 dan 8. Menit-menit selanjutnya krasak krusuk dengan lembut mulai beredar dari satu kursi ke kursi lainnya hingga seorang wanita paruh baya yang memiliki tinggi badan sekitar 165 cm tersebut bangun dari kursi terdepan, Bu Eren.
“Baiklah, waktu habis. Kumpulkan semua kertas kalian.” Tanpa menunggu hitungan detik berikutnya, Bu Eren segera menghampiri satu persatu kursi dan menarik lincah kertas berisikan aneka jawaban dari mahasiswanya. Wajah-wajah mereka hanya tertegun untuk beberapa saat kemudian melirik kanan kiri, entah apa yang dicari mereka, mungkin secarik harapan dalam bentuk jawaban dari pertanyaan. Namun ketika kertas-kertas itu sudah berada ditangan Bu Eren, harapan hanya tinggal khayalan saja. Usai Bu Eren mengumpulkan semua kertas jawaban ia kembali ke meja terdepan yang terletak tepat ditengah-tengah. Kemudian membereskan barang-barangnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan. Sebagian mahasiswa membaur keluar, sisanya masih duduk dikursi masing-masing.
‘Good luck ujiannya, Kak’ chat yang membuat gadis dengan sapaan akrab Ren tersebut tersenyum. Namanya Reni, Renila Misica. Selain bermata belok, wajahnya memiliki garis keturunan Minang. Ayah dan Ibunya asli orang Minang, namun karena harus mengikuti rutinitas pekerjaan Ayahnya yang sering keluar kota, mereka sering berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Jadi tidak heran jika Reni mengoleksi selusin rapor dengan nama sekolah yang berbeda-beda.
Tangannya lincah menyentuh layar tombol qwerty-nya. ‘Iya, baru selesai ini. Makasih ya.Send. Reni masih tersenyum manis dibalik pintu kelas, ia baru saja keluar dan membaca beberapa chat yang belum sempat dibacanya. Salah satu chat yang membuat hatinya sedikit mekar. Masih dengan senyum-senyum yang tidak bisa ditutupi, tepukan pundak dari arah belakang membuyarkan sedikit senyumnya, namun masih menyisakan bingkisan mekar diujung bibirnya.
“Nah lo ngapain senyam senyum sendiri? Hmm liat HP, pantesan.” Ekor mata si penepuk pundak begitu lancang mengamati dan membuat Reni mati kutu karena ketahuan.
“Eh, enggak kok. Apaan sih” tidak ingin di bully Reni mengalihkan pembicaraan. “Lapar, kantin yuk. Yang lain mana?” matanya seolah-olah mencari ke dalam ruangan tadi, mencoba menghilangkan rasa gugup dan penyesalan karena kepergok oleh Icha, teman wanitanya yang selalu ingin memiliki tubuh ideal. Sebenarnya tubuh Icha termasuk ideal, ia masih bisa memakai ukuran baju M. Hobinya seperti kebanyakan hobi orang pada umumnya traveling. Namun ia memiliki hobi unik lainnnya yaitu setiap makan ia selalu menimbang-nimbang makanan yang memiliki kalori tinggi. Jika menurutnya kalori dalam makanan tersebut sudah cukup, maka ia akan berhenti makan, begitulah Icha. Mimpinya menjadi perfectionist seperti Puteri Indonesia.
“Itu mereka” sambung Reni menemukan segubrak temannya yang akan menjadi rekor penerbangan ke kantin terdekat. Dari jarak beberapa meter, kelihatan mereka masih sibuk berbicara sedangkan kedua gadis yang berada dipintu luar, Reni dan Icha menunggu langkah mereka mendekat. Samar-samar terdengar perbincangan mereka mengenai soal-soal ujian yang baru saja selesai mereka lewati.
“Kantin, lapar.” Kalimat singkat yang begitu antusias memotong pembicaraan mereka, seolah tidak ingin membahas apapun lagi tentang soal-soal ujian yang baru saja dilalui. Mungkin ia sedikit menyimpan marah pada beberapa pertanyaan yang membuatnya geram, nyaris bisa menjawab namun konsep yang ia pahami masih minim.
“Yuk, sama. Aku juga belum sarapan dari pagi.” Ujar Sarah yang sejak tadi begitu semangat berbicara tentang soal ujian. Kini ia memilih lebih semangat untuk memikirkan perutnya yang sejak tadi berteriak ingin diberikan makanan. Mereka pun berjalan sambil membahas hal-hal penting sisi wanita, ya wanita. Reni, Icha, Sarah, Cika, dan Room. Yang terakhir, Room hampir selalu menjadi satu-satunya manusia terganteng di tengah-tengah mereka. Sedangkan Cika, si gadis imut bergolongan darah B yang suka mengoleksi jenis musik western ini bawaannya teramat santai. Ia jarang berkoar-koar dihadapan orang banyak apalagi marah. Berbeda dengan  Sarah, wanita yang memiliki tinggi hingga 170 cm ini terkadang suka terlihat konyol dan tidak karuan meskipun dihadapan orang banyak.
Mereka terus berjalan sambil sesekali tertawa. Beberapa saling merangkul manja dan memainkan gadgetnya. Namun Reni tersenyum samar dibalik tawanya.


Be continue…

Tuesday, June 30, 2015

Yang Ku Rindu (Part 3)


Baca
Part 1

Tangan ku mengipas lembut wajah nenek yang berkeringat. Butir-butir keringatnya mengalir dari ubun-ubun rambut dan keningnya. Nenek bergumam, sangar-sangar ku dengar suara parau nenek menyebut namaku seperti ingin mengatakan sesuatu. Ku pegang sedikit erat jemari nenek, mengurut-ngurut tangannya yang sudah keriput. Ku ambil minyak kayu putih, kemudian menuangkannya pada pergelangan tangan nenek. Kembali ku urut perlahan tangan tua nenek yang sudah sulit digerakkan. Mata nenek tertutup, entah kenapa aku begitu sering melihat hidung serta dada nenek, sambil  bertanya dalam diam ku, apakah nenek masih bernafas? Aku hanya khawatir, keadaanya tidak baik sama sekali. Terlebih ketika dokter datang dan memeriksa keadaan nenek, ia mengatakan bahwa nenek memiliki sedikit penyakit jantung. Tentu saja aku terkejut, bagaimana tidak. Selama ini penyakit itu tidak pernah menyerang nenek. Aku tidak percaya.

Sore pun tiba. Aku pulang ke rumah untuk beres-beres, mandi, dan melakukan aktifitas lainnya. Mamak dan bapak juga pulang. Nenek tinggal dengan anaknya yang lain (kakak dari bapak). Sebelum pulang, aku menghampiri nenek, mencium jidadnya yang sudah kembali normal tanpa keringat yang mengalir seperti tadi. Ku tatap wajah nenek dalam-dalam. “Ani pulang dulu ya nek. Nenek cepat sembuh ya, nanti ani balik lagi.” Nenek tersenyum padaku. Matanya sudah bisa terbuka, keadaannya sudah lebih baik. Meskipun begitu, kami semua tetap khawatir. Jika tiba-tiba keadaan nenek kembali down.

Malam hari.
Mamak mendapat telpon dari salah satu saudara yang tak lain anak nenek sendiri. Wajahnya begitu pucat mendengar percakapan dari ujung penelpon sana. Aku dan Bapak ikut khawatir. Setelah pembicaraan singkat di telpon itu usai, mamak langsung membuka mulut. “Ganti baju sekarang, kita ke rumah nenek.” Mendengar hal tersebut, kekhawatiran ku mulai meningkat seiring detak nafasku yang tak lagi beraturan. Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya aku langsung ke kamar mengganti pakaian, kemudian kami berangkat ke rumah nenek.

Kaki ku gemetar menaiki anak tangga rumah nenek. Harap-harap melihat nenek sedang duduk di tempat tidur sambil menonton atau melakukan aktifitas lainnya, dari pintu masuk yang bisa ku dengar hanyalah lantunan Surat Yaasin. Perasaanku langsung tidak enak, dan segera menghampiri nenek yang berbaring di tempat tidur. Wajahnya tidak pucat, tidak berkeringat juga. Tetapi lagi-lagi aku mengkhawatirkan hal yang sama. Ku lihat hembusan nafas nenek pada hidung. Tidak ada gerakan naik turun di sana. Ku amati dada nenek, berharap ada sedikit gerakan di sana. Tetapi hanya kediaman membisu yang menghiasi tubuh nenek. Mataku mulai sakit, lelah. Ku dekati tubuh nenek, ku cium keningnya. Sama sekali tidak ada gerakan apapun di sana. Mataku mulai menangis. Ku panggil nenek pelan, tapi kemudian air mataku kembali jatuh. Lantunan Surat Yaasin itu membuat mataku semakin basah. Nenek. Ia sudah tiada.


The End



#Fasting13

Wednesday, June 24, 2015

Yang Ku Rindu (Part 2)


Baca
Part1
 ***
Tangannya terkulai begitu lemas. Matanya tak mampu terbuka lebar seperti dahulu. Nafasnya berhempus pelan dengan irama yang begitu lambat. Garis-garis pada wajahnya menyiratkan sebuah rasa sakit dan haus akan kekuatan. Nenek. Ia berbaring lemah pada kasur berukuran besar yang bisa ditempati oleh dua orang, mungkin juga tiga. Aku menatapnya penuh duka, raut wajahku langsung berubah saat itu juga. Ada rasa yang tak bisa kujelaskan melihat nenek dengan keadaan berbaring lemas seperti ini. Rasanya aku ingin mengajak nenek berdiri kemudian kami akan berjalan mengitari sekeliling rumah menatap bunga-bunga indah dengan rasa kepuasan tanpa rumput-rumput nakal. Tetapi tentu saja hal itu tidak mungkin aku lakukan. Tangan nenek saja terkulai begitu lemas, bagaimana dengan tubuhnya.

Ingin ku tarik lengan nenek, mengajaknya duduk di tepi tangga rumah menatap langit sembari menunggu kucing kesayangan pulang, Luca. Nenek sempat tertawa dengan nama Luca yang ku berikan itu, lucu katanya. Tetapi aku tidak pernah mengubah nama tersebut. Luca, cukup unik dan memiliki cerita sendiri. Konon, ku pikir Luca adalah seekor kucing jantan, namun setelah mengetahui beberapa pekan kemudian bahwa Luca memiliki 3 ekor anak, aku berpikir untuk mengubah namanya menjadi Luci. Itu seperti sebuah cerita dalam kemasan dongeng mungkin, tetapi nenek tetap memanggilya, Luca. Mungkin karena Luca sudah lebih dahulu melekat indah pada panggilan kucing dengan warna hitam orang dan putih itu. Jadi pada akhinya nama kucing tersebut tetaplah Luca, bukan Luci. Sekarang melihat kondisi nenek yang begitu rapuh, aku benar-benar ragu untuk mengajak nenek duduk di tangga. Meskipun Luca sudah tiada, mungkin kami bisa melihat kucing-kucing lain yang bertengger indah di halaman depan rumah.

Nafas nenek terasa begitu berat, sedangkan aku dan keluarga lainnya hanya bisa berdoa memohon kepada Sang Pemilik apapun di dunia ini untuk memberikan kesehatan serta yang terbaik buat nenek. Beberapa saat kemudian nenek batuk-batuk. Ibu ku segera mengambil beberapa tissue dan sebuah tempat untuk meletakkan tissue-tissue yang telah digunakan. Mata nenek tertutup sambil terbatuk. Aku sedih sendiri melihat rasa sakit yang nenek alami, bahkan batukpun ia tak mampu membuka kedua matanya. Sayang sekali nenek.


To be continued
#Fasting7