Ketika angin sedang berhembus,
Dapatkah kita mengetahui arahnya?
Ketika ombak sedang bergemuruh,
Dapatkah kita mengetahui derasnya ombak?
Seperti ini,
Dapatkah aku, kamu, kita, mengetahui?
Kehidupanku masih berjalan, seperti biasa. Ya biasa memang. Tapi berbeda
juga, dan biasa juga. Kehidupan memang harus terus berjalan bukan? Rintangan? Masalah?
Apa dengan adanya rintangan dan masalah kita harus berhenti? Tidak adakah jalan
yang tetap harus kita jalani meski rintangan dan masalah terus mengusik? Haruskah
kita berhenti? Adakah undang undang yang mengharuskan kita untuk berhenti
kekita rintangan ataupun masalah datang?
Masalah dalam kehidupan ini memang terus datang silih berganti. Tapi,
apakah kita harus menyerah kepada mereka? Maukah kita melihat masalah
menertawakan kelemahan kita? Menertawakan setiap tangisan kita? Menertawakan setiap
kekalahan kita?
Kuatkah kita?
Sanggupkah kita bertahan?
Lagi lagi itu pertanyaan yang harus aku tanyakan pada diriku
sendiri. Ya diri ini. Aku.
Apakah aku sanggup?
Mungkin inilah yang membuat aku berubah. Benarkah aku berubah? Mungkin
tidak. Aku tidak ingin berubah. Tidak pernah ingin. Aku ingin menjadi diriku
seperti apa adanya selama ini.
Mampukah ini semua menjawab pertanyaan yang selalu menggaggu
pikiranku?
Aku mencoba untuk biasa saja, seperti biasa. Seperti dahulu, tanpa
pikiran pikiran yang menggaggu setiap malamku. Tapi, aku seperti tidak mampu. Aku
tidak sanggup.
Kenapa?
Bukankah selama ini kita telah melewati waktu yang sama?
Bukankah selama ini kita telah menghadapi suka duka bersama?
Haruskah ini berakhir seperti ini?
Tidak, aku tidak ingin.
Hanya saja, ini benar benar mengganggu pikiranku. Perasaanku.
Dapatkah kau meyakinkan diriku, bahwa ini semua akan baik baik saja.
Ini semua tak akan berakhir.
semua tempat yang pernah kita lalui bersama.
Mampukah suatu hari nanti, ketika aku memandang kenangan itu semua,
aku tidak akan menumpahkan air mata? Sanggupkah aku, ketika saat ini, besok,
kapanpun itu, itu menjadi sebuah kenangan?
Sanggupkah aku, kamu, kita?
Aku tidak
Lalu? Adakah yang dapat ku lakukan?
Dapatkah aku menahan air mata ini?
Cengeng!
Mengapa aku harus menangis? Aku harus kuat. Wanita tidak selamanya
identik dengan kelemahan bukan? Ya tidak selamanya memang. Dan kali ini aku
lemah. Aku lemah. Tapi aku berjanji, lain kali aku akan lebih kuat.
Mengapa aku lemah?
Karena aku tahu, kamu akan membangkitkanku kembali. Kamu akan
kembali.
Dapatkah kamu meyakinkanku?
Maksudku, bukan aku tidak yakin. Hanya saja, kamu pasti tau bagaimana
rasanya ini. Perasaan ini. Susah untuk ku jelaskan. Kamu pasti mengerti. Karena
aku yakin, kamu memang mengerti bagaimana aku.
Maaf, lagi lagi aku memintamu untuk mengertiku. Tapi, tanpa aku
mintapun kamu selalu dengan setia mengerti ku bukan? Tidak pernah berubah
bukan?
Saat ini, bukan aku ingin sendiri. Justru lebih dari itu, aku sedang
membutuhkanmu. Percayakah kamu jika aku mengatakan aku membutuhkan mu?
Aku membutuhkan mu, yang mampu meyakinkanku. Aku yakin, hanya saja
aku butuh keyakinanmu untuk meyakinkanku.
Aku hanya berharap, semua ini tetap seperti biasa. Masih seperti
dulu. Meskipun takdir memang harus seperti itu.

No comments:
Post a Comment