Showing posts with label My Love. Show all posts
Showing posts with label My Love. Show all posts

Friday, December 22, 2017

The Most Important Person

How’s life?
Akan ada banyak jawaban dari pertanyaan tersebut. Tergantung dari sisi mana kamu ingin menjawabnya. Dari sisi ingin terlihat ‘semua berjalan lancar’, ‘baik-baik saja’, atau bahkan ‘it’s oke I am fine’.

Saya pernah jatuh dan ‘sakit’. Butuh waktu lama untuk sembuh, berbulan-bulan. Kemudian saya berkata pada diri sendiri “One day, I’ll be fine”. Tapi itu semua tidak akan berarti apa-apa tanpa seseorang.
Seseorang.
Yang pernah menangis karena melihat sugukan tangis saya yang tak berhenti. Nafas yang terhimpit dan tangis yang makin terisak.
Seseorang.
Yang kerap kali berdoa ‘Tuhan, biarkan saya saja yang merasakan sakitnya’. Arti sebuah sayang yang begitu tulus.
Seseorang.
Yang akan berlari sekuat tenaga menghampiri saya ketika saya berteriak dan memohon pertolongan. Tak peduli, meskipun ia sedang sakit sekalipun.
Seseorang.
Yang akan marah ketika saya melakukan kesalahan. Bukan karena ia seorang pemarah, tetapi begitulah salah satu bentuk perhatiannya.
Seseorang.
Yang tanpa lelah mengingat, menanyakan kabar dan menyebutkan nama saya disetiap doanya. Meski kebutuhan doa untuk dirinya jauh lebih banyak, tetapi saya selalu menjadi prioritasnya.

Seseorang itu ‘Mamak’. Malaikat tanpa sayap yang diciptakan oleh Tuhan untuk menghidupkan bumi. Dengan tangan mereka, setiap anak hidup dengan rasa aman dan nyaman. Dengan kasih sayangnya, setiap anak mengerti definisi bahagia. Mereka menghidupkan mimpi setiap anak tanpa peduli rasa lelah dan letih yang menyelimuti dari pagi hingga pagi.

Selamat Hari Ibu, Mak.
Semoga peringatan Hari Ibu tidak hanya sekedar sosialita kids zaman now.
Dimana sosmed sana sini berbanjir foto Ibu dan Anak maupun romantisme arti sebuah Ibu, tetapi masih memprioritaskan orang lain dibanding seseorang yang telah melahirkannya.

Mak, maaf terkadang saya masih mengeluh ketika telfon dari Mamak hampir setiap jam muncul dilayar HP saya.
Mak, maaf karena sesekali saya masih kesal ketika Mamak menyuruh segera pulang ke rumah. Padahal saya tahu persis alasan kekhawatiran seorang Mamak.
Mak, semoga kelak jika saya diberikan kesempatan untuk menjadi seorang Mamak, saya ingin seperti Mamak. Saya ingin menjaga anak-anak saya seperti Mamak menjaga saya. Saya ingin memiliki rasa cinta dan kasih sayang kepada anak saya sebesar rasa cinta dan kasih sayang Mamak kepada saya.

Mak, you are my everything.
Give me more time to make you proud. 

Wednesday, March 1, 2017

Firasat

“Satu persatu, (si)apa yang pernah digenggam akan pudar seiring menggenggam lainnya.” - Kem

Ku percaya alampun berbahasa
Ada makna dibalik sebuah pertanda
Firasat ini rasa rindukah
Ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli
Ku terus berlari…
Gleen Fredly - Firasat

Saya khawatir. Bukan karena (si)apa yang pernah saya genggam kini telah menghilang. Tapi (si)apa yang sedang saya genggam saat ini kelak menghilang.

Sebab, antara kesibukan dan prioritas, memiliki jeda yang rumit. Bahwa entah bagaimana nanti, (si)apa itu yang dari asing akan kembali menjadi asing, bila jeda yang terselip tak mampu memberi jarak dengan arti.


Hei, bahkan kita memiliki prioritas masing-masing, dan tentu saja berbeda. Atau bahkan kita memiliki kesibukan yang tak pernah bisa di satukan. Lantas, haruskah kita kehilangan (si)apa yang telah digenggam?

Saturday, December 31, 2016

Is It True?

“Penantian tidak berakhir lelah. Penantian hanya berakhir tiada arti bila tak bermakna” - Kem
Mengapa kau datang lagi? Kemarin kau yang meminta untuk menjauh, melupakanmu. Kau yang memintaku untuk menjaga jarak ini. Sebab jalan satu-satunya yang telah kau tempuh adalah semata mencari kebahagiaan.
Mengapa kau kembali datang? Sebab luka yang pernah kau torehkan kini perlahan memudar. Sebab rasa yang kau berikan kini mulai reda menggema dalam mimpiku.
Aku sudah belajar bagaimana berjalan jauh dari mu, bahkan berlari, berjalan mundur tiada arti. Mengapa kau kembali datang? Membuat langkahku tertahan.
Mengapa kau kembali hadir? Menyeretku kembali pada masa lalu. Padahal kemarin kau yang memintaku untuk melupakanmu. Lupakahkau permintaan kejammu itu? Aku sudah hampir lelah menanti ulur tanganmu kembali, berharap semua ini lelucon. Tapi, kau patahkan juga mimpi yang sudah ku tumbuhkan. Pahadal, tak ku hiraukan lagi kebahagianmu, tetapi mengapa kau hadir kembali? Sebab bahagiamu sia-sia saja tanpa diriku?
Mengapa kau sengaja menyebut namaku lagi? Apa aku harus mengatakan hal yang sama? Atau kau sengaja mengatakannya untuk membuatku terluka kembali? Aku sudah terlalu lelah agar bisa lupa. Tetapi terasa sia-sia ketika hadirmu kembali menoreh tinta.
Mengapa kau ucapkan rindu kembali? Padahal aku sudah hampir gila kehilanganmu, dan nyaris gila melupakanmu. Apakah ini alasanmu untuk membuatku benar-benar gila?

Friday, November 18, 2016

November

Dear Mr. Nothing



Aku selalu hadir dalam rintik-rintik hujan yang begitu syahdu. Jika tetesannya pernah membasahi rambutmu yang acak-acakan, itu aku. Saat tetes hujan yang berubah deras mengguyur tubuhmu, itu juga aku. Selamat bertemu kembali Mr. Nothing, pada musim hujan yang mengiringi November.

Hai Mr. Nothing. Jika kau merasa sejuk karena biasan hujan yang membuat udara dingin, di sana ada aku yang sedang berhembus perlahan menenangkan pikiranmu. Pada sela-sela otakmu yang penuh dengan kenangan, di sana sedang ada aku yang sedang merindu. Selamat berjumpa lagi dengan bulannya pemilik hujan, November. Selamat bertemu kembali, dengan aku, yang selalu ada.

Jika matamu terpaku pada badai yang sedang marah dalam hujan, itu aku. Adalah sebuah emosi yang tidak stabil, menumpahkan segala amarah pada pohon-pohon yang tumbang dijalanan. Adalah aku, yang sedang datang padamu, meminta sebuah kehangatan, mengobati rasa kecewaku. Selamat kembali pada pelukanku, pada kenangan tentang aku.

Ada pelangi disudut sana. Apakah membuat bibirmu melengkung ke atas? Ya, di pelangi itu ada aku. Pada kayanya mejikuhibiniu yang bercerita tentang tawa. Ada aku, yang menghiasi kepergian hujan setelah menangis sepanjang hari. Tentang cerita-cerita masa depan yang penuh warna, tentu saja tentang aku yang selalu membuatmu bahagia.

Hai Mr. Nothing. Saat kau merasa kesepian, denting-denting piano yang menceritakan ketenangan itu adalah aku. Pada variasi nada yang bermelodi indah, ada aku yang tengah memainkan rasa tentang betapa hebatnya masa-masa yang terlewati. Hitungan januari ke desember yang berombak seperti di samudra, adalah tentang perjalanan musim hujan melalui musim panas. Di sana selalu ada aku yang bermandikan cuaca, menunggu hujan reda menitip sang panas, kemudian menunggu hujan kembali.

Jika matamu berbinar hangat karena tersentuh emosi baik, itu aku. Yang memujamu dalam gerimis tawa, dalam kehampaan sekalipun. Saat air-air matamu nyaris tumpah karena kehilangan tawa, saat itu juga tengah ada aku yang mencoba menjadi setitik bahagia. Tenang saja, semua rasa itu akan berganti pada waktunya Mr. Nothing. Sebab aku, yang tengah menjelma malam bak siang dalam kecerahan mu, akan kembali bertemu cahaya.


Selamat bertemu kembali Mr. Nothing, pada bulannya pemilik hujan. Bulan penuh genangan dalam kenangan. Pada hujan yang bersatu warna dengan udara dingin, barangkali di sana sedang ada aku, pada hujannya, pada anginnya, dan pada dinginnya. Adalah sepenggal bait terakhir yang sedang mengucapkan selamat pada bulan pemilik hujan ini. Selamat bertemu kembali pada dunia yang menerangkan hujan sebagai satu-satunya kenangan yang mengubah bahagia. Selamat menitip kembali rindu yang telah berlalu, Mr. Nothing.

Monday, October 31, 2016

November

Dear Mr. Nothing

..........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Hai Mr. Nothing. Jika kau merasa sejuk karena biasan hujan yang membuat udara dingin, di sana ada aku yang sedang berhembus perlahan menenangkan pikiranmu. Pada sela-sela otakmu yang penuh dengan kenangan, di sana sedang ada aku yang sedang merindu. Selamat berjumpa lagi dengan bulannya pemilik hujan, November. Selamat bertemu kembali, dengan aku, yang selalu ada.

............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. .


Be continue to November...

Sunday, October 30, 2016

November

Dear Mr. Nothing

Aku selalu hadir dalam rintik-rintik hujan yang begitu syahdu. Jika tetesannya pernah membasahi rambutmu yang acak-acakan, itu aku. Saat tetes hujan yang berubah deras mengguyur tubuhmu, itu juga aku. Selamat bertemu kembali Mr. Nothing, pada musim hujan yang mengiringi November.

............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................ . 


Be continue to November...

Tuesday, October 25, 2016

Single

“Seneng aja, bisa ngeliat orang bisa lupa dengan kesedihannya walaupun cuma sebentar. Karena ada yang pernah bilang sama gue,  kita harus bermanfaat buat orang lain.” -Raditya

Listening lagu d’masiv – Single

Jadi, beberapa jam lalu saya nonton filmnya Raditya, Single. Nonton bareng beberapa kawan yang super sekali, dan suka baper gak menentu gitu (wiiie). Jadi, dari 10 menit pertama film dimulai aja udah ada adegan pukul-pukul bareng kawan, karena gak tahan, jelas, baper sekali. Suasana mendung-mendung hujan, jadi ya semakin baper ya, kawan.

Oke jadi, ending single-nya bagus, saya suka. Dan ini bagian favorit yang udah saya ketik.
>>> 

“Dan buat gue yang paling bahagia adalah gue bisa joget dengan orang yang gue suka. Orang yang senyumannya ada terus buat gue. Yang senyumannya itu punya efek yang dahsyat banget. Soalnya kalau dia senyum, waktu bisa berjalan lebih lambat.

Satu hal yang gue pelajari, single itu juga bisa bikin kita bahagia kok. Kecuali kalau lo singlenya kelamaan.  3 kehidupan misalnya. Yang salah itu kalau single, tapi maksa pacaran.

Ada 1 hal lagi yang gue pelajari. Kadang kebahagiaan tidak hanya datang dari pacaran. Tapi kebahagiaan juga bisa datang dengan ngebuat teman-teman lo bahagia. Bahagia dengan membuat orang yang lo suka bisa tersenyum. Gue bahagia karena gak cuma mikir kebahagiaan gue doang, tapi juga kebahagiaan orang yang gue suka, orang yang gue sayang.

Yang paling penting single atau gak single, malam itu jadi malam yang gak akan pernah gue lupain seumur hidup. Karena di malam itu, gue tau, gue bahagia. Jujur, gue kadang ngerasa kalau lagi suka sama orang, IQ gue bisa turun 10 poin. Sebodoh-bodohnya kita kalau lagi suka sama seseorang, paling gak kita harus pintar disatu hal. Kita harus tau, itu penasaran, atau suka beneran.”

Yap, penasaran atau suka beneran?
Nah lo, yakin suka beneran?


Ya, saya sih pernah bilang sama kawan saya. Kalau kita itu harus cerdas, bisa membedakan antara perasaan nyaman sesaat atau bener-bener nyaman. Jangan nanti, ketika perjalanan udah lebih panjang, kita baru sadar kalau selama ini itu cuma luapan perasaan “nyaman sesaat”. Karena yang benar-benar nyaman, akan membuat kamu merasa utuh, gak perlu jadi orang lain.

Tuesday, October 4, 2016

Sampai Jadi Debu

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap pagi menjelang kau di sampingku
Ku aman ada bersamamu.

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap taufan menyerang
Aku di sampingku
Kau aman ada bersamaku
Banda Neira – Sampai Jadi Debu

“Kita itu cari pasangan untuk seumur hidup. Nanti saat udah gak bisa ngapa-ngapain lagi, saat rumah sudah sepi karena anak-anak sudah menikah, ibu yakin ayah selalu bisa menghibur hati ibu. Kita itu bisa jatuh cinta dalam hitungan detik. Tapi butuh waktu sepanjang masa untuk merawatnya. Dan itu gak mudah. Ibu yakin, Ayah pasti bisa”.
Ibu Sally - Assalamu’alaikum Sally, episode Ketika Hati Harus Memilih

Cari pasangan itu yang tidak hanya ada saat suka saja, duka pun ada. Tapi kenapa selalu menuntut pasangan mu untuk ada di saat suka dan duka? Kenapa tidak menuntut diri sendiri untuk selalu ada disetiap saat?

Memangnya hidup pasangan mu hanya untuk menjadi sayap kanan dan kiri mu?

Hey, bahkan seorang tuna netra pun memiliki sisi hidupnya yang lain, yang bahkan enggak akan bisa kamu masuki.

Jadi, cari pasangan itu yang tidak hanya ada disaat suka maupun duka? Tapi,,,

“Hanya kamu yang bisa menjawabnya, Rud. Mana yang lebih besar, apa yang kamu butuh, atau apa yang orang lain butuhkan dari kamu.” – Rudi Habibie Movie

Ketika kita saling membutuhkan, dan tidak saling menuntut pasangan kita.

Semoga, siapapun kamu kelak, semoga kita bisa saling membutuhkan dan tidak saling menuntut ya.

Wednesday, August 10, 2016

Now

Selamat petang yang berujung senja. Apa kabar?

Sepertinya semuanya sudah kembali normal, rasamu. Mungkin ada serpihan keriwil yang menggangu pikiranmu, tapi itu tidaklah penting. Batu besar saja dengan mudah bisa kau hapus dari ingatanmu, apalagi keriwil sekecil pasir yang kadang terlihat kadang terlupakan?!

Hei
Selamat ya.
Pada akhirnya aku hanya bisa (mencoba) ikhlas. Sekalipun kau sapu semua kenangan itu dengan api yang membara, aku hanya harus tetap ikhlas.
Sepertinya kebahagiaan terus mengunjungimu setiap matahari terbit, dan hingga malam datangpun kebahagiaan itu tidak pernah beranjak dari pangkuanmu.

Aku?
Jangan. Jangan dipikirkan. Aku (sedang) baik-baik saja. Seperti kataku, aku sedang menata hati, cobalah mengerti sedikit saja.

Aku?
Tidak perlu menaruh khawatir seperti dahulu. Khawatirmu bukan lagi untukku, aku tahu itu. Dan akupun tak perlu repot-repot mengkhawatirkan keadaanmu kan, benar begitu?!

Tidak apa-apa.
Aku sedang baik-baik saja. Aku akan kembali.

Maaf, sudah selama ini menyimpan kabar rindu yang harus berpulang tanpa balasan. Terimakasih.



PS: Pada suatu senja, akhirnya aku kembali, menangis (untukmu)

Thursday, August 4, 2016

Bertepi Rindu

Dear Teman

Selamat menata kembali hati yang telah rapuh. Bila nanti tak kunjung baik, jangan pernah menyerah.

Tahukah kamu, antara rindu dan kecewa hanya terpisahkan oleh selaput yang begitu tipis, transparan. Bahkan sekalinya tersapu oleh angin mudah terberai begitu saja.

Pernahkah kau rindu pada suatu waktu? Lalu kecewa pada waktu yang sama?

Mungkin, menulis tentang hati tidak akan pernah habis. Karena hati yang tercipta, tidak pernah sama. Bisa saja, hati terbuat dari lapisan tembaga yang kuat, mudah membawa arus. Bisa juga, hati terbuat dari abu, sekalinya tersapu hilang tanpa jejak.

Teman, tahukah kamu diantara jeda angin dan daun-daun yang gugur, selalu ada rindu yang memberi salam. Dalam hembusannya yang sejuk, rindunya bulan bertemu mentaripun sempat tersampaikan. Seperti gagah, memiliki otot-otot yang karisma, rindu selalu menari-nari seperti ombak yang hilir jatuh bangun pada pantai. Pada anginnya, akhirnya rindu yang tersampaikan pun berpisah juga.

Karena, tidak semua jeda angin dan daun-daun gugur sempat menitipkan perihal rasa. Ada seselip debu yang menghalang rindu, menghalang rasa yang ingin tersampaikan. Ada sebongkah harapan yang lenyap diterpa kepulan debu, perlahan. Pada rindunya purnama yang kian berkabut. Begitulah rindu, akhirnya pulang tanpa pamit. Tanpa asa yang menjemput bahagia. Pulang. Dengan air mata. Pulang. Dengan kecewa.

I’m not mad, I’m hurt.
Mungkin begitulah kata rindu pada rindunya. Pada kerinduannya.
Apakah angin dan daun gugur menyalahkan debu? Mungkin iya, mungkin tidak.

Selamat menata kembali hati yang telah rapuh. Bila nanti tak kunjung baik, jangan (kembali) menangis.

Tahukah kamu, antara tangis dan tawa tersimpan sebuah harapan. Harapan untuk melanjutkan mimpi. Harapan yang pernah dibangun, teman. Harapan yang sudah dihancurkan, teman.

Pernahkah kau rindu pada suatu waktu? Lalu kecewa pada waktu yang sama?
Jawabannya, tentu saja.

Pada angin, pada daun gugur yang pernah menyimpan rindu. Tentu saja.


Selamat berindu pada kerinduan. Bila nanti sudah pulih dari rindu, segera temukan rindu yang lebih peka.

Wednesday, July 27, 2016

New Age New Story

Dear My blog

Happy for everything to http://kemalasunshine.blogspot.co.id/ owner. Semoga setelah ini, segala doa-doa baik yang sudah dipanjatkan oleh siapapun segera tercapai ya, dan doa-doa baiknya akan balik lagi untuk siapapun yang sudah mendoakannya.

Terimakasih atas umur, rahmat dan segala rezeki yang sudah Tuhan titipkan kepada saya, semoga saya bisa lebih bersyukur. Terimakasih buat keluarga, serta sahabat-sahabat yang sudah setia berdiri di sisi saya di saat suka maupun duka.  

Well, setelah malam ini menghabiskan waktu berjam-jam (hiperbola sekali) berbincang dengan sahabat yang sejak lama begitu saya rindukan, namun belum dipertemukan, Helna Meilila. Akhirnya saya mulai mempercayai diri lagi, setelah beberapa waktu menjalani hidup di roda bawah. Alhamdulillah. Ini malam yang indah, El. Sudah rindu sekali melakukan hal seperti ini, mungkin harus menunggu momen beberapa bulan sekali ya. Tetapi, inilah yang sedang saya rasakan. “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?” saya harus lebih pandai bersyukur untuk segala hal. Terimakasih.

Tersihir.
Sejujurnya saya menunggu pertanyaan itu dari mu, Ela. Setelah basa-basi panjang, mengambil paket telfon yang kelewatan (keasikan), akhirnya kita sampai pada topik yang sudah saya tunggu, kamu tunggu. Ya, kita sama-sama saling menunggunya. Lucunya, kamu pun juga menunggu saya untuk memulainya. Kita sama-sama menunggu. Ah, menunggu. Terkadang menunggu itu menyakitkan, terlebih lagi ketika… *Fokus.

Ya, intinya, terimakasih untuk kamu yang masih setia menjadi telinga untuk saya berkeluh kesah, Ela. Always be my best friend, cantik.

Oya, saya mau kenalin tempat nulis terbaru yang sudah saya jelajahi. Sebenarnya, tidak baru. sudah setahun lebih, hanya baru (akan) saya publish sekarang. Jadi, kalau sesekali saya sudah jarang nulis di blog, bukan berarti saya berhenti menulis. saya tidak ingin berhenti menulis, kenapa? Karena saya pernah bilang bahwa “Mari menulis. Karena menulis terkadang membuat saya lupa, bahwa saya pernah menangis dan tertawa pada waktu yang sama” bisa lihat kok di about me.

Tulisan saya di blog lain ini, konsepnya sedikit berbeda dengan blog yang ini. Di sana, lebih kepada tulisan seperti quotes, puisi, gambar, dan lain sebagainya. Jadi kalau saya tidak pernah membuat posting-an bertema quotes di blog ini, jawabannya karena saya sudah terlanjur suka menulis quotes di blog lainnya.

Judul blog-nya tetap sama kok, SUNSHINE. Kenapa? Saya sudah jatuh cinta pada Sunshine, tidak ada jawaban lain. Link-nya juga tidak jauh berbeda, kenapa? Saya juga sudah jatuh cinta pada link seperti itu, jangan tanya kenapa.

and here is my new blog.

Jangan segan-segan untuk baca Tumblr saya ya, apalagi love dan comment. Kamu juga punya tumblr? Boleh share di sini, kita bisa berteman.

Jadi, selamat berbahagia untuk hidup saya, hidup kamu, hidup kita semua. Jangan pernah berhenti bersyukur dan berdoa. Tuhan selalu ada.

Note:
Saya menunggu hari ini untuk publish tumblr saya. Semoga ini menjadi hari yang tepat.

Sunday, March 20, 2016

Soon To Be


kalau IBU bilang
“jangan malas, Nak. kamu harus jadi ‘orang’ sukses.”

Maka, jangan tanya sukses itu seperti apa pada IBU, karena (tidak) semua IBU bisa sukses seperti apa yang kamu lihat saat ini.

Maka, jangan tanya pada IBU sukses seperti apa yang ia inginkan. karena pada satu masa, sebuah senyum kebanggaannya telah menyiratkan kesuksesanmu.

IBU
kadang, menjadi sosok yang tidak pernah menuntut apa apa terhadapmu, sekalipun kesuksesanmu. Tetapi, disetiap kegagalanmu, selalu ada air mata “ketidakberhasilan”yang mengalir di kedua pipi sejuknya. Maka, masih ingin membiarkan air mata luka itu mengalir?


Thursday, January 28, 2016

More, Hope

“Dalam gelap, terkadang kita kuat. Kuat menghadapi apapun kenyataan di depan, meski yang terpampang hanya sebuah kegelapan.” – Kem

Pada satu titik, saya selalu berpikir ingin menjadi seekor burung –yang dapat terbang bebas tanpa terperangkap. Rasanya, kepakan sayap saya selalu gatal ingin mencoba sejuta petualangan di angkasa sana. Setiap hirup nafas saya, akan saya korbankan untuk melihat sisi keindahan dunia, dari atas sana. Satu persatu daratan, lautan, akan saya lewati. Jika nanti saya temukan tempat persinggahan, itu hanya akan menjadi tempat sementara. Karena kemudian sayap bak mesin pesawat ini akan melaju di angkasa luas kembali, menikmati perjalanan yang tak akan pernah habis.

Andai...
Setiap masa “cobaan” (begitulah saya menyebutnya) yang singgah dalam kehidupan, terasa begitu berat. Barangkali karena hidup (terlalu) sering menyikapi kebahagiaan. Kemudian merasa menjadi orang paling sial di dunia. Dan bahkan setiap masa “bahagia” (sebut saja demikian) yang singgah sejenak maupun menetap lama, terasa begitu indah. Barangkali karena hidup (lebih) sering terselimuti oleh kepahitan. Kemudian merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.

Aah,, setiap waktu punya masa yang berbeda. Kini, bukan lagi cerita tentang sesering apa sih hidup saya mengalami masa cobaan maupun bahagia?! Tetapi, sebaik apa sayap saya mampu terbang dalam kegelapan, mencoba melirik secuil cahaya kemudian menggenggam harapan. Bagaimana cara saya menyikapi orang-orang disekitar, agar mencoba hal yang sama.

Ya, Saya sungguh marah, ketika kamu benar-benar lupa diri dan mengeluarkan segala kata penuh ke-pesimis-an. Saya marah. Kenapa? Karena di balik hal yang sama, saya ragu pernah melakukan kesalahan yang sama, atau melakukannya kelak. Saya marah, pada kamu, pada diri sendiri, pada orang-orang yang demikian. Saya bukan egois, hanya berusaha melihat harapan, melihat setiap kebaikan dibaliknya.

So prepare ourselves to grasp the hope, greater expectations.

Thursday, July 9, 2015

Ibu



“Karena kasih seorang Ibu tidak pernah bisa terbalaskan.”

Seseorang yang kerap kamu kecewakan, ia adalah seorang ibu. Yang telah mengandung anak-anaknya selama sembilan bulan juga yang mengorbankan seluruh hidupnya hingga nafas terakhir demi kelahiran bayinya meskipun terkadang ia tak sempat melihat kehidupannya. Bukankah Ibu adalah wanita paling tangguh yang telah Tuhan ciptakan di dunia ini? Lalu kenapa masih membuatnya kecewa?

Seseorang yang kerap membuatmu kesal, padahal jauh di dalam hatinya tanpa kamu tau ia begitu menyayangi buah hati pujaannya –kamu. Ibu yang terkadang berperan sebagai sosok ayah, mencarikan nafkah untuk keluarga, membiayai pendidikanmu, membelikan barang-barang yang kamu inginkan, sesungguhnya ia adalah wanita kuat yang di ciptakan Tuhan di dunia ini. Tetapi kenapa masih membuatnya kesal padahal ia tidak pernah berniat membuatmu kesal?

Seseorang yang kerap pada waktu tertentu pernah kamu caci, sesungguhnya ia tengah berusaha keras membuatmu menyayanginya sebagai seorang ibu. Ibu, yang selalu kau temukan ketika kau terjaga di pagi hari, yang selalu mengelus kepalamu seraya mendoakanmu, yang tanpa pamrih mendoakan keselamatanmu dalam setiap perjalanan, juga yang tanpa henti membanggakanmu di hadapan ibu-ibu lainnya. Namun apa yang kamu balas kepadanya? Pantaskah cacian tanpa nurani itu keluar dari mulut seorang anak yang tumbuh besar karena seorang ibu? Kenapa masih mengeluarkan cacian yang sama sekali tidak pantas untuk seorang ibu padahal ia telah membanting seluruh tubuhnya, mencucurkan semua keringatnya demi menjagamu tetap tumbuh dan bahagia.

Seseorang yang kerap membuatmu marah karena segudang larangan yang ia berikan padamu, percayalah ia sedang menjagamu dari kejamnya hal-hal yang terjadi di dunia. Ibu, yang selalu berpikir panjang ketika kau melakukan hal ini hal itu, ia sedang membuat rancangan hidup sederhana untukmu agar kelak menjadi manusia sukses. Ia yang siap menjadi dinding kokoh pelindungmu ketika teman-teman mengatakan keburukanmu pun keluargamu. Namun kenapa pada suatu waktu kau lebih mementingkan teman-temanmu itu dari pada seorang ibu –keluargamu sendiri? Tidakkah matamu terbuka juga hingga tangis yang keluar dari mata seorang ibu akibat kelakuanmu itu? Bahkan setelah itu, ia akan tetap memaafkanmu. Ibu seperti apa lagi yang menjadi impianmu jika wanita yang kau panggil Ibu saat ini masih tersenyum dan memberikan segudang nasihat kepadamu itu belum cukup untuk membuatmu tidak marah kepadanya?

Ibu.
Berapa tumpukan gunung dosa yang telah saya bangun karena semua rasa yang sama sekali tidak pantas kau terima ini? Kata maaf seperti apa lagi yang harus saya ucapkan agar Tuhan mau memaafkan segala dosa saya, ibu?

Dari segala yang kita alami, saya tau Ibu tidak pernah menyimpan dendam sekalipun pada anak yang kerjanya hanya membuatmu sedih. Meskipun ibu pernah sekali dua kali atau berkali-kali kesal dan marah kepada saya, namun itu semua semata karena ibu sayang pada saya, pada anak yang belum bisa membuatmu bangga. Maafkan saya bu. Pada akhirnya, semua perkataanmu benar, semua nasihat-nasihat itu adalah titipan Tuhan pada Ibu agar tetap tegar dan kuat mendidik anak-anaknya –titipan Tuhan pada Ibu.

Sabarlah, bu. Saya kelak akan menjadi seorang anak yang sukses seperti impian Ibu. Doakan saya, bu. Tanpa doa dan dukunganmu, saya hanya pahit getir dalam gula, tak pernah ada.

#Fasting21

Wednesday, March 11, 2015

Are We Still?



Untuk mereka yang masih menggenggam erat tangan ku, ketika tidak ada lagi alasan bagiku untuk kembali bangkit.

Banyak waktu yang sudah kita lewati, tentu saja selalu bersama. Ketika itu, kita masih terlalu polos untuk bisa saling mengungkapkan rasa sayang satu sama lain, untuk bisa menunjukkan betapa bahagianya kita bisa menjadi sebuah “KITA”. Waktu itu, sedikitpun tidak ada rasa ego untuk berbagi makanan, tidak ada rasa malu untuk membagi-bagi secuil permen, ya, meskipun hanya secuil permen yang mungkin tidak akan ada apa-apanya, tetapi lihatlah kekompakan kita begitu mudah terjalin.

Melihat semangat yang begitu antusias dari mereka, terkadang membuat saya malu. Kenapa harus membuang buang waktu untuk hal-hal yang mungkin tidak berguna. Karena selama ini saya hanya melihat hidup dari satu sisi, dengan adanya mereka pandangan hidup buat saya menjadi lebih berbeda. Saya bisa menata hidup lebih baik, lebih berguna. Mereka adalah salah satu alasan saya kenapa harus bangkit setiap kali terjatuh. Alasan saya kenapa sampai saat ini masih bisa tersenyum dalam segala masalah yang harus saya hadapi. Mereka adalah alasan saya bertahan, alasan saya tetap kuat.

Untuk mereka yang selalu memeluk tubuh ku, ketika aku membutuhkan tangan-tangan yang mampu menggenggam tanganku.

Saya begitu ingat, ketika tangan ini  gemetar hebat karena melakukan sebuah kesalahan. Tangis ini pecah begitu saja tanpa bisa dibendung. Yang saya butuhkan saat itu hanyalah keberadaan kalian di sisi saya, menggenggam erat tangan yang begitu rapuh ini. Tetapi apa yang kalian lakukan lebih dari harapan yang menyelimuti benak saya. Sebuah pelukan. Kalian memberikan lebih dari yang saya butuhkan saat itu, bahkan hingga tangan ini berhenti gemetar, pelukan kalian masih begitu erat dan melekat dijiwa saya. Apa yang pernah kalian berikan, masih begitu membekas dimemori saya, teman. Itu adalah masa terberat yang pernah saya lalui. Tetapi, tanpa memperdulikan begitu singkatnya waktu yang kalian punya, seakan masih tersisa begitu banyak waktu yang kalian luangkan hanya untuk membuat saya kembali merasa nyaman. Sebuah kenyamanan yang mungkin tidak akan saya temui jika bukan kalian yang berada di sisi saya saat itu.

Ingatan itu masih begitu membekas, teman. Terkadang saya malu harus menitikkan air mata dihadapan kalian, itu akan membuat saya begitu lemah. Saya ingat, waktu itu saya benar-benar menangis deras, tidak peduli orang-orang yang berlalu lalang dihadapan kita semua, yang saya butuhkan hanya keberadaan kalian di sisi saya saat itu–menenangkan gadis yang terus menerus menangis seperti anak kecil ini. Wajah kalian sempat memucat karena kewalahan menghadapi tangis saya, tetapi kalian pasti lebih mengerti wajah pucat yang sedang mewarnai saya ketika itu. Dan dengan penuh kekuatan, kalimat “semua akan baik-baik saja” yang kalian ucapkan dengan lembut saat itu mampu menenangkan hati dan pikiran saya yang begitu berantakan. Itu adalah momen yang tidak pernah bisa saya lupakan.

Untuk mereka yang selalu setia tertawa pada ku, ketika hanya ada 1000 alasan untuk ku menangis.

Kerap kali, wajah ini menipu teman-teman terbaiknya. Dari segala segi persoalan hidup yang tidak pernah kelar, tawa ini mampu membuat suasana kita sedikit lebih baik dari pada murung sepanjang hari. Saya ingat, bahkan ketika mata ini tak mampu membendung sungai air mata, tawa ini selalu senantiasa mengaliri detik-detik perjalanan kita, mata ini terus memancarkan aliran kebahagiaan. Kenapa? karena disetiap kesulitan dalam hidup yang pernah saya lalui, tawa mereka selalu mampu mengubah air mata kesedihan ini menjadi air mata bahagia. Mereka dengan begitu mudah mampu menyihir seluruh pikiran buruk saya menjadi hal-hal positif.

Saya pikir mereka adalah teman-teman terindah yang telah Tuhan titipkan untuk saya jaga, untuk saya sayangi. Jadi tidak ada alasan yang muluk-muluk bagi saya untuk bisa mempertahankan mereka, karena alasannya hanyalah sebuah kenyamanan untuk bisa saling berbagi. Mereka.

Untuk mereka yang masih bisa tersenyum, ketika hidup mereka berisi tangisan, yang mereka tau hanyalah ingin membuatku tetap tersenyum.

Suatu hari, saya mendapati salah satu wajah dari mereka terlihat begitu sedih. Apa yang salah? Tidak ada yang tau dari kami. Hingga waktu yang terasa begitu panjang berlalu dengan pahit, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa selain selalu bertanya ‘ada apa’? Namun tetap saja, wajah itu mencoba terlihat baik-baik saja dalam keadaannya yang sudah pasti tidak dalam keadaan baik.

Saya masih ingat, begitu dulu kita pernah saling menerka-nerka satu sama lain. “Apa yang salah dengan saya?”. Sesaat memori itu terlintas dibenak saya, rasanya lucu saja. Kita pernah saling mengoreksi diri, pernah saling menutup diri tetapi akhirnya kembali membuka diri, dahulu. Kita pernah begitu polos mungkin, hingga lupa cara bertanya “bagaimana keadaanmu hari ini?”, mungkin juga karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing .

Untuk mereka yang selalu menatapku penuh suka cita, ketika masa lalu yang kelam masih mengusik hari-hari kami.

Kita masih saling diam dalam jarak yang cukup dekat. Itu benar-benar keadaan yang sempat membuat saya merasa seperti  orang yang tidak waras. Namun, perjuangan kita tidak berhenti sampai di situ. Lihatlah apa yang telah kita lakukan. Terkadang “berbicara yang sebenarnya” adalah pilihan terbaik yang harus dilakukan, meski ada beberapa bagian penting yang bisa sedikit menyakiti. Tetapi terlepas dari itu semua, percayalah, setelah hati mampu menerima kembali, semuanya akan kembali baik-baik saja –jika benar.

Untuk mereka yang entah kapan bisa berhenti memikirkanku walau sedetik saja, ketika segudang pikiran hidup yang harus mereka lewati dengan sulit.

Kalian benar, terlalu banyak kebahagiaan dalam hidup saya hingga saya harus tertawa sepanjang hari (atau hanya untuk menghibur diri?) terlebih lagi ketika setiap pagi ada wajah-wajah yang saya harap mengukir senyumnya dengan indah. Di sanalah kebahagiaan saya lahir, pada tawa-tawa indah yang selalu mampu mengubah abu-abu menjadi warna yang unik, yang terlihat lebih hidup. Disetiap maha karya Tuhan pada wajah-wajah yang selalu mampu membuat saya bertahan dalam keadaan rapuh sekalipun.

Hanya dengan serpihan tawa kecil, asa yang pupus bisa hilang dalam sekejap. Kita cukup memberi kode pada ekor mata dengan nakal, kemudian tawa akan pecah dan mengalir dalam syurga yang semu ini. Bahagia kita terlalu sederhana, seperti menikmati gemuruh ombak dalam perkasanya laut. Namun, apakah karena kebahagiaan kita terlau sederhana hingga membuat kita lupa suatu hari bagaimana caranya bahagia?

Dan untuk mereka, ketika masa-masa bahagia bisa selalu kita lewati bersama.

Benarkah kita lupa bagaimana caranya bahagia?
Saya tidak akan pernah rela. Ini kebahagiaan yang telah kita bentuk bersama, kebahagiaan yang pernah kita jaga dalam jarak dan rentang waktu yang cukup lama. Apakah ini harus berakhir dalam wujud seperti es? Membeku karena keadaan. Atau seperti wujud gas? Yang perlahan menghilang ditiup angin.

Kita sudah membangun sebuah rumah yang kita sebut “sahabat”, lantas mau dipergunakan sebagai apa rumah tersebut? Hanya sekedar tempat berkumpul? Tempat berkeluh kesah? Tempat menaruh kepercayaan? Tempat menitipkan suka duka? Ini pilihan kita. Semoga kita bisa mengambil sebuah keputusan yang baik.

PS:
Ketika kita sudah bisa saling menerima, benarkah semuanya akan tetap baik-baik saja?